Jagalah Ikhlasmu, Allah Mencukupimu

0

Relawan sebuah istilah yang terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Dalam kesempatan lain dianggap “topeng” bagi orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan jelas. Sering pula diasumsikan sebagai “pengacara” (pengangguran banyak acara). Predikat yang tidak jelas nominal gajinya. Namun di saat lain, relawan sesekali dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namanya juga relawan, jadi harus rela dalam setiap situasi dan kondisi. Bahkan lebih dari itu, seorang relawan harus dituntut untuk siap dalam kondisi tidak menentu.

Munculnya problematika hidup dan hadirnya musibah dalam kehidupan manusia menjadi tantangan dan kendala yang harus dihadapi. Ditambah lagi sifat ketergantungan manusia dengan sesama saudaranya menjadi factor utama wujudnya relawan. Uluran bantuan dan kepedulian terhadap sesama adalah simponi kehidupan yang menambah indah arti kehidupan. Tidak mengherankan jika dalam suatu kondisi mereka –para relawan- menjadi mulia dan dipuja. Namun boleh jadi, dalam kesempatan lain bisa dicerca dan dihina, hanya karena ingin menjadi “relawan sebenarnya”.

Dalam Islam, dunia kerelawanan sebenarnya telah lama dipraktekkan. Keberadaan para sahabat di sekitar Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-  menjadi cerminan relawan sejati. Mereka –para sahabat Nabi- menyadari betul bahwa hidupnya didedikasikan untuk menolong dakwah Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tanpa memikirkan gaji ataupun insentif yang akan didapatkan secara materi duniawi. Namun sesuatu yang pasti mereka harapkan adalah ridho dan janji Allah ta’ala. Merekalah relawan sejati yang mendapatkan sanjungan dari Ar Rohmân dan diabadikan dalam Al Qurân :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap lemah lembut di antara mereka. Engkau melihat mereka dalam kondisi ruku’ dan sujud, mereka mencari karunia dan keridhoan dari Allah. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurot dan sifat-sifat mereka dalam Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati para penanam karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih di antara mereka ampunan dan pahala besar”. (QS. Al Fath : 29)

Menjadi seorang relawan dakwah maupun kemanusiaan sebagai ujud solidaritas terhadap sesama bukanlah perkara mudah. Seorang relawan tentulah memahami dan menyadari bahwa “dunia” yang diterjuninya merupakan dunia penuh resiko dan pengorbanan. Sebuah dunia yang menguji makna kesabaran dan ketawakkalan kepada Robb Penguasa alam.

Beratnya tantangan yang dihadapi seorang relawan baik dalam misi dakwah ataupun misi kemanusiaan menuntut kesabaran tinggi. Di antara tantangan yang dihadapi adalah seperti meninggalkan keluarga demi suatu tugas yang tidak terlalu menjanjikan materi duniawi. Setiap hari berhadapan dengan problematika umat yang jarang sekali orang peduli dengannya. Ada kalanya harus berkorban dana dan tenaga demi tercapainya tujuan mulia agar umat terlayani hajat hidupnya dan faham dengan agamanya. Tidak mengherankan jika Allah menyanjung amalan ini melalui firman-Nya :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33)

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholih dan berkata : sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushilat : 33)

Mengenai penjelasan ayat tersebut, Imam Hasan al Bashri berkata : “Inilah kekasih Allah, dia lah wali Allah, dia lah hamba pilihan Allah. Inilah makhluq yang paling dicintai oleh Allah, dirinya menjawab seruan Allah dan mengajak manusia menuju kepada seruan-Nya, lalu mengerjakan amal sholih dalam ketaatan kepada-Nya dan berkata : sesungguhnya diriku bagian dari orang-orang Islam, maka inilah kholifatulloh”.[1]

Bagi seorang muslim dan muslimah, menjadi relawan Islam sejatinya menjadi tuntutan iman. Karena Allah ta’ala menyeru :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ (14)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut setianya (hawariyyin): “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pegikut-pengikutnya yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari bani israil beriman dan segolongan lain kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu menjadi pemenang”. (QS. Al Shoff : 14)

Imam Ibnu Jarir al Thobari menukil perkataan Qotadah dalam tafsirnya : “Allah telah memiliki penolong-penolong agama-Nya dari umat ini yang senantiasa berjihad di atas Kitab-Nya dan hak-Nya”. Disebutkan pula bahwa ada 72 orang Anshor (dari Madinah) yang berbai’at kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- di malam ‘Aqobah. Kemudian sebagian di antara mereka berkata: “Apakah kalian tahu atas perkara apa kalian berbai’at dengan Nabi Muhammad?  Sesungguhnya kalian berbai’at dalam rangka memerangi seluruh bangsa Arab sampai mereka berislam”.[2]

Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya : “Dia (Allah) telah meneguhkan perintah jihad, jadilah kalian penolong-penolong nabi kalian agar Allah memenangkan kalian atas orang-orang yang menyelisihi kalian sebagaimana Allah telah memenangkan pengikut-pengikut Isa atas orang-orang yang menyelisihi mereka”.[3]

Dari sini lah pandangan seorang relawan tentang siapa sebenarnya dirinya bermula. Seorang relawan sejatinya tidaklah bekerja melainkan menjadi penolong Nabi. Dirinya tidaklah beraktifitas melainkan menjadi pejuang bagi Allah. Sungguh amalan agung nan mulia. Pekerjaan yang sudah seharusya dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga. Karena amalan tersebut akan dipersembahkan untuk Allah Robb semesta alam, itulah ibadah. Tidak ada cara lain bagi seorang hamba agar ibadahnya diterima kecuali hanya dengan ikhlas.

Keikhlasan inilah yang menjadi “energi” hebat bagi seorang relawan Islam. Karena hanya dengan ikhlas, seorang relawan mampu mengorbankan apa yang dimilikinya dari harta dan jiwanya sekalipun. Ikhlas adalah mesin penggerak yang mampu mendorong seorang relawan melakukan suatu hal besar yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Lihatlah bagaimana para sahabat Nabi yang berbondong-bondong memenuhi seruan Nabi untuk menghadapi serbuan pasukan kafirin salibis Romawi. Mereka datang untuk ikut serta berperang menemani Nabi tercinta. Uniknya, mereka ikut berperang bukan hanya untuk mendapatkan gaji sebagai seorang tentara. Namun justru mereka mendaftarkan diri dengan membawa harta dan jiwa mereka di hadapan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.

Hingga didapatkan orang-orang yang berlinang air matanya dikarenakan tidak memiliki perbekalan untuk ikut serta menemani Nabi dalam perang suci. Itulah yang terjadi dalam sejarah perjuangan generasi awal Islam di perang Tabuk. Ketulusan hati mereka diabadikan dalam Al Qurân :

“Tiada dosa (lantaran tidak bisa pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang sakit, dan atas orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (91). Dan tiada pula berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan lalu kamu berkata: “aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (92)”. (QS. At Taubah: 91 – 92)

Ikhlas menjadi obat kegundahan hati relawan Islam. Di saat anak-anak dunia (baca: pecinta dan pencari dunia) sering menuntut materi dan gaji, di saat mereka ogah-ogahan berkarya karena minimnya fasilitas, maka seorang relawan Islam akan tetap terus berjuang meski dengan minimnya fasilitas. Dirinya akan tetap terus berjuang meski tidak ada lagi harapan gaji besar. Dirinya akan tetap terus tegar menjadi tameng hidup Islam meski janji naik pangkat jabatan dunia tidak didapatkan. Kenapa sampai seberani itu ? karena seorang relawan Islam tahu betul dan meyakini bahwa yang mencukupi hidupnya adalah Allah. Keikhlasan dirinya membawa pada satu maqom mulia yaitu hadirnya kebersamaan dengan Allah (ma’iyyatullah). Apalagi yang dirisaukan oleh seorang relawan Islam ?! sementara hidupnya telah ditanggung dan dicukupi oleh Allah dari arah yang tak disangka-sangka. Allah  berfirman :

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (36)

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya. Dan mereka menakutimu dengan (sembahan-sembahan) selain Allah. Dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya”. (QS. Az Zumar : 36)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

“… Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari  arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya) sesungguhnya Allah melaksanakan urusannya yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tipa sesuatu”. (QS. Ath Tholaq: 2 – 3)

Bagi relawan Islam yang siap memperjuangkan hak-hak Allah ta’ala, keridhoan Ar Rohman adalah obsesi tertingginya. Itulah gambaran yang didapatkan dari relawan Islam generasi awal (para sahabt Nabi). Tidak didapatkan keluh kesah dalam menjalankan tugas relawan di sekitar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Meskipun mereka harus mengeluarkan apa yang mereka miliki dari harta dan jiwanya. Dan kehidupan mereka pun juga tidak terlunta-lunta. Inilah perkara yang mungkin tidak bisa diterima oleh nalar seorang pragmatis opurtunis. Namun inilah kenyataan dan bukti kebenaran janji Ar Rohman untuk relawan Islam. Wallahu a’lam bis showab