Memandu dengan ilmu

Nativisasi Upaya Menghilangkan Islam

0

Nativisasi Upaya Menghilangkan Islam

Salah satu upaya untuk menghilangkan nilai-niIaI Islam dari Indonesia meIaIuI nativisasi. Nativisasi merupakan upaya untuk menghidupkan kembali kebudayaan lokal guna menolak dan menghilangkan pengaruh islam. Dengan cara ini. para orientalis dan Misionaris bersatu menghancurkan islam.

Upaya menghilangkan pengaruh islam ini ternyata bukan wacana semata. Namun, nyata dan tampak dari perkataan dan perbuatan mereka. Seorang orientalis Barat. T. Ceyier Young mengatakan, “setiap negara yang kami masuki, tanahnya kami gali untuk membongkar peradaban-peradapan sebelum islam.”

Dia menambahkan. “tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat islam kepada akidah-akidah islam, tetapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih islam atau peradabanperadaban lama tersebut! (Muhammad Quthub, Perlukah Menulis Sejarah islam, Hal 38)

Dari pernyataan itu nampaklah tujuan utama dari program nativisasi sebenarnya untuk memarginalkan peran islam. islam ditempatkan sebagai ”Pengaruh asing” yang diposisikan berseberangan dengan “Agama asli” pribumi. Dengan kata lain, nativisasi sebenarnya bukan dalam rangka mengangkat budaya pribumi itu sendiri. Melainkan lebih banyak untuk kepentingan Orientalis dan Misionaris.

Orientalis dan misionaris telah lama merintis laian untuk mempermudah nativisasl. Salah satunya adalah menghilangkah sumber.sumber dan bukti-bukti sejarah tentang pengaruh dan peran islam dalam masyarakat indonesia.

Untuk itu, penjajah Belanda maupun inggris menjarah dan merampok manuskrip dan buku-buku islam. Ketika Thomas Stamford Raffles menjadi gubernur .lendrai di indonesia pada zaman penjajahan inggris. Dia menyerang Kasultanan Yogyakarta dengan tembakan-tembakan altilerinya. istana kemudian dirampok, perpustakaan dan arslpnya dirampas, serta sejumlah besar kekayaan keraton diambil.

Akibat dari penjarahan manuskrip islam itu. Umat islam tidak mempunyai sumber dan bukti sejarah yang bisa dijadikan rujukan. Kemudian, orientalis dan misionaris membua sejarah dan peristiwa-peristiwa yang direkayasa. Tujuannya demi mengecilkan peran agama islam dan memutus hubungan antara sesama umat islam. Sehingga lahiriah sebuah generasi yang tidak mengenal sejarahnya.

Borobudur dan Prambanan

Kebudayaan candi sebenarnya merupakan kebudayaan yang pernah mati dan dari ingatan publik masyarakat di Nusantara. Usaha mengangkat kembali candi sebagai peninggalan leluhur seringkali tidak sepi dari motif dan kepentingan tertentu. Di antara penggalian candi Borobudur dan Prambanan.

Candi Borobudur sewaktu ditemukan tahun 1814, berada dalam keadaan menggenaskan. Candi ini telah menjadi gunung kecil atau bukit yang ditutupi oleh semak belukar. Di gunung itu banyak ditemukan potongan arca oleh penduduk setempat yang pemberani.

Penduduk setempat saat itu takut pergi ke gunung itu. Tempat itu dianggap angker dan berbahaya.

Candi Borobudur mulai digali pada tahun 1900. Sementara itu, Pemugaran Borobudur, baru dilaksanakan 1907 -1911. Pemugaran itu dipimpin Theodore Van Erp, seorang perwira Zenit Angkatan darat Kerajaan Belanda.

Nasib candi Prambanan tidak jauh berbeda dengan candi Borobudur. Candi Hindu ini ditemukan secara tidak sengaja pada 1797. Ketika itu penguasa Belanda membangun markas di Klaten. Sebelumnya tidak ada gambaran keberadaan benda bangunan kuno. Sebagian besar bangunan telah tertutupi tanaman-tanaman liar.

Penduduk sekitar ketika itu, menjadikan lokasi candi Prambanan sebagai tempat pembuangan sampah. Akibatnya kesulitan utama yang dihadapi Belanda ketika hendak membangun kembali peninggalan Hindu itu adalah menyingkirkan tanaman dan sampah yang menghalangi. Bahkan, sejumlah arca yang sempat ditemukan dilokasi itu dijual dan dijadikan sebagai hak milik oleh penduduk.

Jauh sebelum lslam berkembang pesat di pulau Jawa, orang telah melupakan candi-candi. Bahkan, tradisi pembangunan candi-candi telah berhenti. Menurut Drs. R. Moh Ali, Kepala Arsip Nasional dan Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran mengatakan “Setiap didirikan candi dan patung besar, rakyat kasta sudra dan paria di sekitarnya dikenakan kewajiban kerja bakti. Akibat kewajiban kerja bakti ini rakyat kecil banyak menderita.”

Dia menambahkan, “dampak penderitaan ini mendorong mereka untuk meninggalkan wilayah pembangunan candi karena waktu dan tenaganya habis untuk memenuhi kerja bakti kepada raja. Rakyat pun menderita. Mereka tidak hanya meninggalkan desa, tetapijuga meninggalkan keyakinan lamanya dan masuk Islam. Status sebagai sudra dan paria hilang karena dalam islam tidak mengenal adanya kasta.”

Meluruskan Sejarah

Ditinggalkannya tradisi pembangunan candi ini menjadi bukti bahwa agama Hindu dan Budha tidak mengakar dalam masyarakat Indonesia. Rekonstruksi sejarah, pemugaran candi dan patung serta pembacaan ulang prasasti Hindu dan Budha itu ditargetkan untuk memudahkan upaya menghidupkan kembali ajaran Hindu dan Budha.

Dengan demikian, akan tergeserlah pengaruh ajaran Islam dan hukum Islam, serta lemahlah pengaruh ulama. Ketika pengaruh ulama lemah, keberadaan orientalis dan misionaris akan aman dan tidak lagi menemui perlawanan.

Orientalis dan misionaris telah berbuat makar. Namun Allah sebaik-baik pembuat makar. Sudah menjadi sunnatullah akan senantiasa ada sekelompok kaum muslimin. Mereka akan berjuang untuk meluruskan sejarah Islam di Indonesia. Meskipun tantangan mereka mendapatkan teror, fitnah dan penjara. Namun, mereka tidak akan peduli hingga terbongkarlah program nativisasi ini.

Upaya orientalis dan misionaris untuk menghilangkan Islam dari lndonesia. itu ibarat mereka ingin memadamkan matahari dengan mulut-mulut mereka. Sekeras apapun usaha mereka, di ujung lorong akan tetap menuai kegagalan.

(Abu Kholid An Najah: 122)