Memandu dengan ilmu

Nikmat Allah Manakah Yang Kamu Dustakan

0

Nikmat Allah Manakah Yang Kamu Dustakan

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman 13)

 

Suatu kali, Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam menemui para sahabat, lalu beliau membacakan surat ar-Rahman kepada mereka, dari awal hingga akhir, namun para sahabat tetap terdiam. Melihat hal itu, Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Aku telah membacakan surat ini kepada jin, dan mereka lebih bagus sambutannya dari pada kalian, ketika bacaanku sampai firman Allah diatas, mereka mengatakan,

لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَدِّبُ فَلَكَ الحَمْدُ

“Ya Allah, tiada sedikitpun nikmat dari-Mu yang kami dustakan, segala puji bagi-Mu.” (HR. AtTirmidzi).

 

I’tiraf (pengakuan) dan kesadaran seseorang bahwa dirinya tengah menyandang nikmat dan karunia dari Allah, merupakan rukun pertama dari syukur. Tak akan wujud syukur secara lisan dan perbuatan sebelum ada pengakuan dari hati. Dan sebenarnyalah, ketika seseorang mengingat-ingat apa yang ada pada dirinnya, tentu ia tidak akan mengelak, besarnya nikmat Allah atasnya. Mujahid bin Jabr menafsirkan ayat di atas, “Bukankah nikmat itu nyata atas kalian, kalian bergelimang dengan nikmat itu dan kalian tidak mungkin mengingkarinya.”

Karenanya, seorang tabi’in Yunus bin Ubaid menuntun seseorang untuk bersyukur dengan cara mengingatkan nikmat. Ketika seseorang datang pada beliau dan mengeluh kondisinya yang serba susah. Rejeki mepet, kebutuhan banyak hingga seakan dia tidak merasakan satu kenikmatan apapun di muka bumi ini. Kepadanya Yunus berkata, “Bagaimana kalau sebelah matamu saya hargai seratus ribu dirham, relakah Anda?” Dia jawab, “Tentu saja tidak.” Yunus berkata, “Bagaimana dengan sebelah tanganmu?” Dia menjawab, “Tidak juga.” Yunus berkata, “Bagaimana jika sebelah kakimu di hargai seratus dirham?” Dia menjawab, “Tidak mau.” Yunus menanyakan satu persatu anggota badan dan di jawab dengan jawaban yang sama. Lalu Yunus berkata, “Aku lihat kamu memiliki ratusan juta dirham tapi mengapa merasa tidak memiliki apa-apa?”

Ya, sering kali seseorang hanya melihat apa yang belum dimilikinya, atau sesuatu yang hilang dari tangannya, tanpa melihat nikmat yang disandangnya. Padahal, sejatinya apa yang masih dimilikinya jauh lebih berharga dari apa yang belum dimilikinya, atau apa yang hilang darinya.

Alangkah baiknya sikap yang ditunjukkan oleh Syuraih al-Qadhi, ulama kenamaan di kalangan tabi’in. Di mana beliau bertahmid empat kali tatkala mendapatkan musibah, tentu setelah membaca kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un). Ketika ditanya tentang empat tahmidnya, beliau beralasan, tahmid pertama karena beliau menyadari anugerah taufik kepadanya sehingga beliau bisa membaca kalimat istrija’ yang bernilai dzikrullah. Tahmid kedua, karena Allah telah mengahugerahkan kesabaran, di mana orang yang bersabar mendapat tiga karunia, dan masing-masing karunia lebih baik dari pada dunia dan seisinya, yakni shalawat dari Allah, rahmat-Nya, dan hidayah-Nya. Tahmid ketiga, karena musibah yang terjadi tidak lebih besar dari itu. Faktanya, masih banak orang yang mendapatkan musibah yang lebih besar dari apa yang beliau alami. Adapun tahmid yang keempat, karena musibah yang terjadi adalah musibah dunia, bukan musibah akhirat.

Rasa syukur yang beliau ungkapkan juga berangkat dari kesadaran akan besarnya nikmat yang Allah curahkan kepadanya. Kita lihat bedanya dengan seseorang yang tidak pandai bersyukur. Ketika ia kehilangan uang seratus ribu, ia menyesal bukan kepalang, mengumpat tidak karuan, padalah dirumahnya, di tabungan masih tersimpan jutaan atau ratusan juta rupiah. Hilangnya syukur ini juga berangkat dari hilangnya pengakuan, bahwa ratusan juta rupiah yang dimilikinya itu semata-mata adalah nikmat dari Allah.

Syukur adalah pengikat sekaligus pengundang nikmat. Sejauh mana hamba mau bersyukur, sebanyak itu pula Allah akan menambahkannya, atau bahkan melipat gandakannya. Ini berlaku untuk setiap nikmat. Nikmat sehat, harta, ilmu, maupun amal.perbedaan kuantitas serta kualitas antara kita dengan para ulama salaf yang shalih, sebenarnya juga tergantung dengan selisih kesyukuran kita dibanding mereka. Allah berfirman,

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dengan keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl 78)

Ketika lahir, kita sama dengan mereka, tidak tahu apa-apa. Lalu Allah memberi bekal yang sama pula, pendengaran, penglihatan, dan hati maupun akal. Jika hasil akhirnya berbeda, ini karena tingkat syukurnya berbeda. Karenanya Allah berfirman, “agar kamu bersyukur.”

Mungkin kita mendengarkan apa -apa yang tidak layak kita dengar, lalu tidak mau mendengarkan apa-apa yang mestinya kita dengar. Kita masih melihat hal-hal yang tidak layak kita lihat, sementara hal-hal yang mestinya kita lihat dan baca justru terlewat dari kita. Kita juga berfikir dalam hal yang tidak layak kita pikirkan, sementara perkara yang urgen untuk kita pikirkan justru luput dari perhatian kita.

Para salaf juga mensyukuri ilmu dengan amalnya, sehingga Allah memberi banyak tambahan ilmu kepada mereka. Sebagian mereka berkata, “Kami menjaga ilmu dan hafalan kami dengan mengamalkannya.”

Terkait dengan harta, pun demikian. Maksiat yang merupakan musuh dari syukur menjadi penghalang datangnya rejeki, sebagaimana dipahami para ulama, juga disebutkan dalam hadist, meskipun ada yang dha’if, namun ada yang dihukumi “hasan lighairihi”.

Jika seseorang tetap mendapatkan rejeki padahal dia bermaksiat, kemungkinannya ada dua. Pertama, dia terhalang untuk mendapatkan tambahannya. Kemungkinan kudua, rejeki itu sebagai “istdiraj” dari Allah, tetap diberi rejeki tapi sebnarnya tidak diridhai. Kemudia Beliau ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam  membaca firman Allah,

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am 44)

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba yang bersyukur. Amin.