Memandu dengan ilmu

Nilai-Nilai Tauhid dalam Ibadah Haji Bag.1

0

Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima, seorang muslim yang secara finansial cukup dan secara fisik mampu, wajib baginya untuk segera melaksanakan kewajiban ini. Ibadah haji mempunyai banyak keutamaan, diantaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rosulullah saw dalam beberapa hadistnya :

Pertama: Haji Mabrur pahalanya adalah syurga, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج مبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rosulullah saw bersabda: “Umrah sampai umrah berikutnya merupakan kaffarat ( penebus dosa ) yang dilakukan antara keduanya , dan haji mabrur tidak ada pahalanya kecuali syuga ( HR Bukhari dan Muslim )

Kedua: Haji Mabrur akan dihapus segala dosanya selama ini, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من حج فلم يرفث ولم يفسق ، رجع كيوم ولدته أمه

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata: Saya pernah mendengar Rosulullah saw : ” Barang siapa yang melakukan iabdah haji sedang dia tidak melakukan tindakan rafast ( melanggar aturan haji ) dan fasik, niscaya dia akan pulang ke kampungnya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan oleh ibunya ( HR Bukhari dan Muslim )

Ketiga: Haji Mabrur lebih utama ( khusus bagi wanita ) dari pada ikut berjihad di jalan Allah, sebagaimana hadist Aisyah ra di bawah ini :

عن عائشة رضى الله عنها ، قالت : قلت : يا رسول الله ، نرى الجهاد أفضل العمل أفلا نجاهد ؟ قال : لكن أفضل من الجهاد حج مبرور

Dari Aisyah ra, berkata bahwasanya ia pernah berkata: ” Wahai Rossulullah saw, kami melihat bahwa jihad merupakan amalan yang utama, bolehkan kami ikut berjihad ? Sabda Rosulullah saw: ”Akan tetapi saya tunjukkan amalan yang lebih utama dari jihad yaitu haji yang mabrur.” ( HR Bukhari )

Keutamaan –keutamaan tersebut hanya akan diraih oleh orang yang telah memenuhi syarat- syarat yang telah ditentukan oleh Allah dan Rosul-Nya untuk dapat diterima amal ibadahnya, yaitu niat ikhlas hanya mencari ridha Allah dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah saw.

Selain itu, ibadat haji sebenarnya mengandung ajaran-ajaran tauhid yang saat ini banyak kaum muslimin yang tidak memperhatikannya, padahal tauhid merupakan tujuan utama dari ibadah haji itu sendiri.

Diantara nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji adalah sebagai berikut :

Nilai Tauhid Pertama :

Seseorang yang hendak melaksanakan haji, diharuskan untuk melakukan ” Ihram “, yaitu berniat haji hanya untuk mencari ridha Allah swt. Hal ini menunjukkan nilai tauhid yang sangat tinggi, karena kalau dia melaksanakan haji sekedar untuk pamer dan ingin dikatakan pak haji atau bu haji, ataupun hanya sekedar ingin bekerja mencari uang, tentunya ibadah hajinya tidak akan diterima oleh Allah swt. Inilah salah satu makna kalimat ” La ilaha illallah ” , yaitu tidak bertindak, beramal maupun beribadat kecuali hanya mencari ridho Allah swt.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan : Apakah dibolehkan melaksanakan ibadah haji sekaligus bekerja atau berdagang ? Jawabannya dibolehkan bagi seorang yang melakukan ibadah haji untuk sambil berniaga atau bekerja, tersebut dalam firman Allah swt :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

” Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” (Qs Al Baqarah : 198 )

Hanya saja kebolehan ini disyaratkan untuk tetap menjadikan ibadah haji sebagai tujuan utamanya dan berniaga sebagai pekerjaan sambilan. Namun kenyataannya sekarang, bahwa ibadah haji telah menjadi barang komoditi bagi orang-orang yang mau memanfaatkan amalan akherat sebagai sarana untuk mencari keuntungan dunia. Fenomena semacam ini sangat mempengaruhi cara beribadah, bermuamalah dan berpikir pada sebagian besar kaum muslimin. Dan inilah rahasia kenapa selalu ada kasus dan masalah dalam penyelenggaran ibadah haji di negara kita. Kecenderungan untuk selalu mengejar keuntungan dunia yang sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan kode etik ajaran Islam membuat suasana haji yang mestinya diliputi dengan kekhusu’an, keikhlasan, kaharuan dan keimananan itu berubah menjadi ketegangan, kekerasan, ketakutan, kecemasan dan kebimbangan. Tidak jarang disela-sela ibadah haji terjadi pencurian, penipuan, perampokan, perampasan, penggelapan uang, pelecehan seksual , bahkan pemerkosaan. Ketika musim haji tiba, mestinya orang-orang yang berniat melakukan ibadah haji mempersiapkan diri dengan memperbaiki niat dan mempelajari cara-cara melakukan ritual manasik haji yang sesuai dengan tuntutan Rosulullah saw, akan tetapi yang kita dapati sekarang bahwa yang menjadi pikiran sebagian dari kaum muslimin yang berangkat ke tanah suci adalah bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya pada musim tersebut, walaupun harus melanggar ajaran-ajaran Islam.

Nilai Tauhid Kedua :

Ketika ber-” ihram ” seorang laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan pakaian yang berjahit maupun yang berbentuk pakaian jadi, dan disunnahkan untuk memilih warna putih. Hal ini sebagai pesan bahwa Allah swt tidaklah melihat kepada bentuk dan wajah manusia akan tetapi yang dilihat adalah hati dan ketaqwaan. Ini sesuai dengan sabda Rosulullah saw :

إن الله لا ينظر إلى صوركم و لا إلى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

” Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan fisik kamu, akan tetapi Allah hanya melihat kepada hati dan amal perbuatanmu.”

Selain itu, pakaian ihram yang serba putih mengingatkan kita bahwa manusia suatu saat akan menghadap Allah swt di akherat nanti tanpa membawa harta, keluarga, jabatan dan gelar, akan tetapi yang dibawa adalah amalan dan ibadahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah saw:

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أوعلم ينتفع به ، وولد صالح يدعو له

” Jika anak Adam mati, maka terputus amal perbuatannya kecuali tiga hal : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya.” ( HR Muslim )

Oleh karenanya, ketika salah satu dari kaum muslimin yang meninggal dunia, tidak boleh kuburannya dibangun dan dihiasai sebagaimana menghiasi gedung. Dan anehnya yang terjadi di negara-negara kapilatis yang maju, mereka memakaikan baju yang terbaik untuk orang yang sudah meningal, bahkan terkadang menyertakan barang-barang kesayangannya ke dalam liang kuburannya, selain itu kuburan –kuburan mereka dibangun dan dihiasi bagai gedung-gedung yang megah. Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

” Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga) (QS. Saba’ : 37 )

Adapun pakaian ihram yang berwarna putih menunjukkan bahwa untuk menghadap Allah dibutuhkan kesucian dan kebersihan hati dari noda-noda syirik, dan dari niat mencari selain ridha Alah swt, dibutuhkan juga kebersihan hati dari rasa dengki , hasad dan iri, serta kebersihan hati dari tanggungan orang lain. Oleh karenanya, dianjurkan pada setiap orang yang hendak melaksanakan ibadah haji untuk melunasi hutang –piutangnya terlebih dahulu, mengembalikan pinjaman dan titipan, meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakitinya, dan memohon do’a restu dari orang tua dan para ulama. Hal itu dimaksudkan agar dalam melaksanakan ibadah haji nanti, hatinya sudah bersih, tenang pikirannya, bahkan siap setiap saat untuk menghadap Allah jika dipanggil Allah swt di tanah suci nanti. Sungguh sangat benar firman Allah :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, ( QS. Asy-Syu’ara : 88-89 )

Nilai Tauhid Ketiga :

Setelah melakukan ” ihram “, orang yang melaksanakan ibadah haji dianjurkan untuk secara terus menerus mengucapkan do’a ” talbiyah “ yang berbunyi :

لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك ، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

“Ya Allah , kami menjawab panggilan-Mu secara terus menerus, tiada sekutu bagi-Mu, sesunnguhnya segala pujian dan nikmat hanyalah milik-Mu , begitu juga seluruh kerajaan ( langit dan bumi ) hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu . ”

Diriwayatkan bahwa Amru bin Lahyi seorang raja yang cukup lama memerintah daerah Makkah dan sekitarnya, pada suatu ketika dia dengan beberapa rombongan datang ke kerajaan Roma, di sana rombongan raja tersebut mendapatkan orang-orang Romawi menyembah berhala, dan mereka tertarik untuk mengikutinya, sehingga beberapa patung sempat diboyong ke Mekkah untuk dijadikan sesembahan. Ketika Amru bin Lahyi hendak melakukan umrah, dia mengucapkan : ” Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaik ” , mendengar hal itu, syetan tidak senang dan hendak menyesatkannya. Untuk tujuan tersebut dia merubah dirinya menjadi manusia dan berkata kepada Amru bin Lahyi : ” Wahai baginda raja, doa talbiyah itu masih ada tambahannya, yaitu : ” Illa syarikan huwa laka ” ( kecuali satu sekutu milik-Mu). Mendengar pernyataan syetan tersebut Amru bin Lahyi bergetar hatinya dan merasa takut. Gelagat seperti itu tidak disia-siakan oleh syetan, kemudian dia meneruskannya : ” Tamlikuhu wama laka ” ( Engkau memiliki sekutu tersebut dan apa-apa yang sudah menjadi milik-Mu)

Sejak peristiwa itu, diketahui bahwa Amru bin Lahyi ini adalah orang pertama kali yang memasukkan kalimat syirik dan mencampuradukkan dengan kalimat talbiyah dalam haji di tanah Arab. Rosulullah saw bersabda dalam hadist Isra’ Mi’raj :

عرضت عليَّ النَّار ؛ فرأيت فيها عمرو بن لحي يجرُّ قصبه في النار

” Diperlihatkan kepadaku api neraka, dan saya melihat usus perut Amri bin Lahyi diseret ke dalam api neraka ”

Bersambung….