Memandu dengan ilmu

Nilai-Nilai Tauhid dalam Ibadah Haji Bag. 2

0

Nilai Tauhid Keempat :

Orang yang melaksanakan ibadah haji ketika sampai di Mekkah diperintahkan untuk melakukan thowaf sebanyak tujuh kali, dan disunnahkan untuk mencium ” hajar aswad “. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra. ketika mencium hajar aswad pernah berkata kepada batu tersebut: ” Saya mengetahui bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak memberikan madharat dan manfaat, kalau bukan karena saya pernah melihat Rosulullah saw mencium-mu, maka aku tidak akan menciummu. ”

Perintah untuk mencium hajar aswad yang tidak lebih dari sebuah batu tersebut memberikan pesan bahwa dalam beribadah ini, kadang kita tidak mengetahui hikmah dibaliknya, atau perbuatan tersebut tidak masuk akal kita, tetapi karena itu adalah perintah Allah dan Rosul-Nya, maka kita sebagai orang yang beriman wajib mendengar dan taat tanpa mencari-cari alasan. Dalam hal ini Allah swt berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

” Dan tidak sepatutnya bagi orang laki-laki yang beriman dan begitu juga perempuan yang beriman, jika Allah dan Rosul-Nya telah memutuskan suatu keputusan, akan ada pilihan lain dalam urusan tersebut. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rosul-Nya, maka sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata . ” ( Qs Al Ahzab : 36 )

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa salah satu makna dari kalimat ” Lailaha illallah ” adalah bahwa tiada yang boleh ditaati perintah-Nya secara mutlak kecuali perintah Allah swt dan perintah Rosul-Nya saja, walaupun kadang-kadang perintah tersebut tidak ataupun belum bisa kita cerna secara akal sehat, bukankah kita setiap hari melakukan sholat lima waktu dengan jumlah rekaat tertentu, dan banyak dari kita yang tidak tahu akan hikmah dibalik bilangan-bilangan rekaat dalam sholat tersebut ?

Di sisi lain, kita dapati umat agama lain selain Islam, mereka mentaati para pemimpin dan pendeta, serta tokoh-tokoh agama mereka secara membabi buta, walaupun sering bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah :

اتخذوا اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

” Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.( Qs At Taubah : 31 )

Diriwayatkan bahwa ketika mendengar ayat tersebut Adi Bn Hatim, salah seorang sahabat yang pernah memeluk agama Nasrani berkata Rosulullah saw : Wahai Rosulullah saw sebenarnya kami tidak menyembah para pendeta tersebut dan tidak sujud kepada mereka ? Kemudian Rosulullah bertanya kepadanya : ” Akan tetapi bukankah jika para pendeta tersebut mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah kemudian kamu mentaatinya ? ” Benar ya Rsoulullah ” Jawab Adi bin Hatim. Kemudian Rosulullah saw bersabda : ” Itulah maksud menyembah para pendeta ” ( HR Ahmad dan Tirmidzi )

Nilai Tauhid Kelima :

Setelah melakukan thowaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali, seorang yang melakukan ibadah haji diperintahkan untuk melakukan sholat dua reka’at di belakang maqam nabi Ibrahim. Kenapa ? Hal itu untuk mengingatkan akan jasa-jasa nabi Ibrahim as, yang dijadikan Allah swt sebagi bapak tauhid, karena telah meletakkan dasar-dasar tauhid bagi kehidupan manusia sesudahnya.

Selain itu, pada waktu sholat dua reka’aat tersebut disunnahkan untuk membaca surat Al Kafirun pada reka’at pertama. Surat Al Kafirun itu berisi tentang perlepasan diri dari seluruh apa yang disembah kecuali Allah swt , dan pada reka’at kedua disunnahkan untuk membaca suratAl Ikhlas yang berisi tentang ke-Esaan Allah swt.

Ini semua memberikan pesan kepada kita bahwa kalimat tauhid harus selalu disebut dan dipelajari serta digali secara terus menerus, untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nilai Tauhid Keenam:

Setelah melakukan thowaf tujuh kali, dan sholat dua rek’at dibelakang maqam Ibrahim, diperintahkan untuk melakukan Sa’I antara Shofa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ibadat ini mengingatkan kepada kita akan peristiwa yang dialami oleh Siti Hajar bersama anaknya Ismail yang pada waktu itu masih bayi. Mereka berdua ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tengah –tengah gurun pasir yang kering, gersang dan panas. Ketika Siti Hajar menanyakan kepada nabi Ibrahim tentang alasan perbuatan tersebut, nabi Ibrahim hanya diam saja, Akantetapi ketika Siti Hajar bertanya apakah ini perintah Allah swt ?, ketika juga nabi Ibrahim mengiyakannya. Mendengar jawaban tersebut siti Hajar berkata : ” Kalau begitu, saya yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kami “. Sebuah pernyataan yang keluar dari wanita yang kokoh imannya. Tetapi walaupun begitu, Siti Hajar tidaklah begitu saja pasrah dengan keadaan, dan hanya duduk serta berdo’a kepada Allah menunggu datangnya pertolongam, akan tetapi dengan kekuatan imannya tersebut, beliau bangkit dan berusaha dengan sekuat tenaga mencari air untuk anaknya, berlarian pulang pergi antara bukit Shofa dan Marwah, sambil terus bertawakkal dan berkeyakinan bahwa Alah akan menolong dan membantu-Nya. Iya…nabi Ibrahim teelah meninggalkannya dan anaknya dengan perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Dengan keyakinan kuat seperti itu, maka keluarlah air zamzam dari kaki Ismail, hingga sampai sekarang bisa seluruh umat Islam bias menikmati hasil dari keimanan Siti Hajar tersebut.

Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Rosulullah saw pada perjanjian Hudaibiyah, ketika para sahabat sangat marah dan merasa dihinakan oleh kaum kafir Qurays dengan isi perjanjian yang tidak adil dan sangat merugikan kaum muslimin, mereka tidak bisa menerima isi perjanjian tersebut dan mengeluh kepada Rosulullah saw. Melihat keadaan para sahabatnya seperti itu, Rosulullah saw menghibur mereka dengan sebuah pernyataan yang diukir oleh sejarah dengan tinta emas : ” Itu adalah ketentuan Allah, saya hanyalah hamba-Nya, dan saya yakin bahwa Allah swt tidaklah akan menyia-nyiakan diriku “. Begitulah kepercayaan seorang mukmin yang benar terhadap perintah dan ketentuan Allah swt, yang walaupun secara kasat mata mungkin merugikan dan tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi dia harus yakin bahwa dibalik semua itu ada maslahat yang lebih besar yang tidak diketahuinya. Dalam hal ini, Allah swt berfirman :

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” ( QS Al Baqarah : 216)

Itulah salah satu makna dan arti dari kalimat tauhid : Lailaha illallah, yang artinya tidak ada yang bisa dijadikan tempat sandaran dan tawakkal kecuali Allah swt.

Nilai Tauhid Ketujuh :

Ketika melakukan Sa’i antara Shofa dan Marwah, seorang yang melakukan ibadah haji diperintahkan untuk berdo’a dengan lafadh sebagai berikut :

الله أكبر، الله أكبر ، الله أكبر, لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، لا إله إلا الله وحده ، لا شريك له، أنجز وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده.

” Allah Maha Besar 3x , Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang mempunyai kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu, Tiada ada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan pasukan Ahzab dengan sendiri saja.“

Do’a di atas diulang-ulang sebanyak tiga kali dan dibaca setiap naik sampai pada Shofa dan Marwah. Ini semua menunjukkan betapa besar ajaran tauhid dalam ibadah haji.

Nilai Tauhid Kedelapan :

Ketika Wukuf di padang Arafah yang merupakan inti dan rukun dari ibadah haji, orang yang melakukan ibadah haji dianjurkan untuk banyak berdo’a, bersimpuh dan menangis di hadapan Allah swt serta memohon ampunan dan rahmat-Nya. Karena wukuf di Arafah adalah waktu yang paling utama dan berharga dalam hidup seseorang , pada saat –saat tersebut Allah akan menyelamatkan para hamba-Nya dari api neraka dan membanggakannya pada malaikat. Sebagaimana tersebut dalam salah satu haditsnya:

وروى ابن حبان من حديث جابر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: مَا مِنْ يَوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، يَنْزِلُ اللَّهُ تَعَالَى إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِأَهْلِ الْأَرْضِ أَهْلَ السَّمَاءِ

” Diriwayatkan dari Ibnu Hibban dalam shohihnya dari hadust Jabir bahwasanya Rosulullah saw bersabda : ” Tiada hari yang paling utama di sisi Allah daripada hari Arafah , pada waktu itu Allah turun ke langit yang paling dekat dan membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah kepada para penghuni langit.”

Waktu-waktu yang mustajab untuk berdo’a adalah setelah tergelincir matahari hingga terbenam dan puncaknya adalah beberapa saat sebelum terbenam matahari. Yang unik dalam wukuf di Arafah ini adalah do’a yang pernah dilantunkan oleh Rosulullah saw, sebagaimana yang tersebut dalam salah satu haditsnya:

أفضل الدعاء يوم عرفة ، وأفضل ما قلته أنا والنبيون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير

Do’a yang paling utama pada hari Arafah dan perkataan paling utama yang pernah aku ucapkan dan diucapkan oleh paa nabi sebelumku adalah : ” Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang mempunyai kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu,( HR Tirmidzi, Ahmad dan Malik)

Kalau kita perhatikan hadist di atas, ternyata tidak kita dapatkan lafadh do’a, yang ada hanyalah lafadh pujian kepada Allah swt. Akan tetapi walau begitu Rosulullah saw menyebutnya dengan do’a. Hal serupa pernah ditanyakan seseorang kepada Sofyan bin Uyainah seorang pakar hadist pada zamannya, bahwa lafadh dalam hadist di atas bukanlah do’a, beliaupun menjawab bahwa Allah swt pernah berfirman dalam salah satu hadist qudsi-Nya :

إذا شغل عبدي ثناؤه على عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطى السائلين

” Jika hamba-Ku sibuk dengan memuji-Ku ( dalam riwayat lain disebutkan : ” dengan mengingat-Ku ) sehingga lupa untuk berdo’a dan meminta kepada-Ku, maka niscaya Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama dari apa yang diminta oleh orang-orang yang mengucapkan do’a dan memohon banyak permintaan “

Kairo, 12 November 2007