Optimalisasi Amal Shalih

0

Optimalisasi Amal Shalih

Oleh: Ust. Ahmad Taqiyuddin, Lc

Tempat seseorang ketika di akhirat baik di jannah atau neraka merupakan pilihan dan ketetapan dari Allah. Ketika seseorang memilih jalan menuju Jannah maka Allah akan mudahkan sarana-sarana ibadah untuk menuju jannah. Hal itupun berlaku untuk sebaliknya. Maka yang diperintahkan Allah dalam hidup kita adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan amal shalih kita.

Allah ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan jangan sekali-kali kalian meninggal kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali Imran: 102)

Makna bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa dalam  ayat ini adalah  perintah untuk serius, tidak setengah-setengah dalam ibadah dan memaksimalkan amal shalih.

Dalam ayat lain juga dijelaskan, “Dan bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At Taghabun: 16)

Makna semampu kalian bukanlah sekenanya, namun batas akhir kemampuan kita itulah yang disebut mastatho’tum.

Salah seorang ulama menjelaskan gambaran makna mastatho’tum sebagaimana orang yang diperintah untuk berlari mengelilingi lapangan, maka ada yang hanya berlari mengililingi sebanyak sekali duakali. Kemudian berkata saya sudah. Padahal gambaran mastatho’tum adalah ketika dia berlari hingga tidak kuat lagi untuk melangkah.

Namun pertanyaannya bagaimana cara kita untuk memaksimalkan amal shalih? Mempraktekkan pesan Allah berupa ittaqullaha haqqotuqotih, ada beberapa poin tentang cara mengoptimalkan amal shalih.

Pertama, Mubadaroh ila A’mal Sholihah (Bersegera Dalam Amal Shalih)

Tidak menunda-nunda amal shalih tidak malas-malasan  diantara bentuk bersegera dalam melaksanakan amal shalih. Hal ini telah dicontohkah oleh Nabi Musa ketika mendapat perintah untuk pergi ke bukit thur guna menerima wahyu dari Allah berupa kitab Taurat. Nabi Musa menjawab panggilan Allah:

وَعَجِلۡتُ إِلَيۡكَ رَبِّ لِتَرۡضَىٰ

“Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).” ( QS. Tha-Ha: 84)

Mengerjakan amal sholih bukan sekedar menampakkan, namun bagaimana cara kita untuk memberikan respon yang baik. Sebagaimana dalam riwayat Bukhari Muslim ketika Rasulullah ditanya tentang amal apa yang utama, maka beliau menjawab: “Sholat tepat pada waktunya.” Ini menunjukkan bahwa beramal shalih bukan sekedar yang penting amal itu dilaksanakan namun bagaimana kita memiliki respon yang baik yaitu bersegera dalam melaksanakannya. maka ibadah yang utama adalah yang dikerjakan dengan segera.

Begitupula dalam shalat Jum’at, Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang datang pada shalat jumat pada jam pertama sebagaimana berqurban unta, jika datang pada jam kedua sebagaimana berqurban sapi dan seterusnya,  Ini menunjukkan bahwa orang yang bersegera dalam beramal berbeda dengan orang yang menunda-nunda amal.

Tentang hal ini pun telah dicontohkan oleh para  Salaf diantaranya sahabat mulia Abu Dahdah yang ketika mendengar firman Allah:

مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضۡعَافٗا كَثِيرَةٗۚ وَٱللَّهُ يَقۡبِضُ وَيَبۡصُۜطُ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

“Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Makan pinjaman dalam ayat ini adalah bersedekah Allah menggunakan kata pinjaman agar orang yang bersedekah merasa tenang hatinya, karena pada dasarnya sedekah itu pinjaman yang dititipkan kepada Allah dan akan dikembalikan.

Makanya dalam akan hutang piutang dianjurkan adanya jaminan, agar orang yang memberi pinjaman tenang hatinya.

Ketika memahami ayat ini Abu Dahdah mendatangi Rasulullah dan bertanya apakah Allah meminjam kepada kita?, maka Rasulullah menjawab: iya benar. Maka beliau meminta agar Rasulullah mengulurkan tangannya dan menyerahkan kebun kurma yang berisikan 600 pohon kurma  yang ia miliki. Kemudian Abu Dahdah mendatangi istrinya dan anak-anaknya  dan memintanya segera keluar dari kebun tersebut.

Hal yang sama pun pernah dilakukan oleh sahabat Abu Thalhah ketika mendengar ayat:

لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Para ulama tafsir menjelaskan Makna Al Birr pada ayat ini adalah Jannah. Artinya kalian tidak akan mendapatkan jannah hingga kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.

Ketika mendengar ayat ini beliau langsung mendatangi Rasulullah dan berkata aku infakkan harta yang paling aku cintai adalah kebunku yang bernama Bairaha’ sebuah kebun yang sangat dekat dengan masjid Nabawi di dalamnya terdapat sumber air yang sangat tawar dan nikmat.

Maka jika orang bersegera dalam melaksanakan amal shalih ia akan terhindar dari fitnah akhir zaman. Karena salah satu cara menyelamatkan diri dari fitnah akhir zaman adalah dengan bersegera mengerjakan amal kebaikan.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

«بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ. يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِناً وَيُمْسِي كَافِراً. أَوْ يُمْسِي مُؤْمِناً وَيُصْبِحُ كَافِراً. يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا».

“Bersegeralah kalian dalam melakukan amal-amal kebaikan sebelum datangnya fitnah (cobaan) ibarat malam yang gelap gulita, hal mana jika orang terkena fitnah tersebut di pagi hari ia mukmin namun di sore harinya ia telah kafir, atau di sore hari ia mukmin di pagi hari ia kafir, karena ia menjual agamanya dengan sekeping dunia.” (HR. Muslim)

Untuk bisa memiliki sikap bersegera dalam beramal maka perlu ada tahapan-tahapan:

Pertama:  adalah rasa rindu. Orang tidak akan bisa bersegera beramal kecuali ia memiliki kerinduan. Sebagaimana para sahabat ketika memasuki waktu malam maka mereka akan berkata, kami akan memasuki waktu yang kami bisa bermunajat kepada kepada Allah.

Kedua: Pernah merasakan nikmatnya ibadah. Tidak akan merasa rindu kecuali ia pernah merasakan nikmatnya ibadah.

Ketiga: rasa cinta. Orang tidak akan bisa menikmati ibadah hingga ia memiliki rasa cinta dalam hatinya.

Keempat: Istiqomah. Seseorang  tidak akan bisa merasakan rasa cinta dalam ibadah hingga ia mampu untuk istiqomah. Menjadikan diri istiqomah dalam ibadah di awal-awalnya sangat berat. Namun lama-kelamaan akan timbul rasa cinta.

Tsabit Al Bunani, beliau berkata :

كابدت نفسي على قيام الليل عشرين سنة وتلذذت به عشرين سنة

“Aku melatih diriku untuk qiyamullail selama 20 tahun, hingga aku bisa merasakan nikmatnya qiyamulail 20 tahun berikutnya.”

Abu Yazid berkata:

 سقت نفسى إلى الله ، وهى تبكى، فما زلت أسوقها ، حتى انساقت إليه وهى تضحك

Aku telah menuntun jiwa ku ibadah kepada Allah sedangkan ia menangis, sampai ia tertuntun kepada Allah akhirnya ia tertawa.

Istilah orang jawa: witing tresno jalaran soko kulino. Cinta itu tumbuh karena terbiasa.

Dari sini kita faham bahwa dalam ibadah Allah memerintahkan kita untuk bersegera dalam mengerjakannya, sedangkan untuk dunia kita diperntahkan untuk mencarinya sewajarnya, jangan sampai terbalik.

Berlanjut…