Memandu dengan ilmu

Orang-Orang Yang Mendapatkan Keringanan

0

Orang-Orang Yang Mendapatkan Keringanan

 

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

 

“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Di dalam ayat ini diawali oleh kalimat ayyaamam ma’dudat (beberapa hari tertentu) sebagai keterangan bahwa puasa yang diwajibkan adalah puasa seperti disebutkan di ayat yang setelahnya yaitu puasa dilakukan selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan. (Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, Abu al-Fida Ismail bin ‘Amr al-Quraisyi bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi, 1/ 479). Allah ta’ala tidak mewajibkan puasa setahun penuh atau lebih dari itu sebagai keringanan dan kasih sayang bagi kaum muslimin.

Akan tetapi, Allah ta’ala memberi keringanan kepada orang-orang tertentu untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.

Orang-orang yang mendapatkan keringanan (rukshah)

Pertama, orang yang sakit. Diantara mereka yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa ialah orang yang sedang sakit. Akan tetapi, tidak semua penyakit menyebabkan seseorang mendapatkan keringanan ini. Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim menjelaskan, pada dasarnya sakit memiliki tiga kondisi, yaitu:

Kondisi pertama adalah apabila sakitnya ringan dan tidak berpengaruh apa-apa jika tetap berpuasa. Contohnya adalah pilek, pusing atau sakit kepala yang ringan, kadas, kurap, kutu ari dll. Untuk kondisi pertama ini tetap diharuskan untuk berpuasa.

Kondisi kedua adalah apabila sakitnya bisa bertambah parah atau akan menjadi lama sembuhnya dan menjadi berat jika berpuasa, namun hal ini tidak membahayakan. Untuk kondisi ini dianjurkan untuk tidak berpuasa dan dimakruhkan jika tetap ingin berpuasa.

Kondisi ketiga adalah apabila tetap berpuasa akan menyusahkan dirinya bahkan bisa mengantarkan pada kematian. Dalam kondisi seperti ini diharamkan untuk berpuasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

 

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (QS. An Nisa’: 29)

(Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, 2/119)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para sahabat kami (yakni para ulama madzhab Syafi’i) berkata, “Syarat dibolehkannya berbuka (bagi orang yang sakit) adalah adanya masyaqqoh (beban yang menyulitkan) yang ditanggungnya ketika melakukan puasa tersebut. Adapun sakit yang ringan yang tidak ada masyaqqah yang nampak dirasakan ketika berpuasa, maka tidak boleh baginya untuk tidak berpuasa, dalam masalah ini tidak ada khilaf (perselisihan) di sisi kami (madzhab Syafi’i)”. (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, 6/257)

Orang sakit yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa memiliki kewajiban untuk menggantinya di hari-hari lain di luar bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala, “maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184). (Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, Abu al-Fida Ismail bin ‘Amr al-Quraisyi bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi, 1/ 479)

Namun, apabila sakit yang dideritanya kemungkinan kecil untuk sembuh, maka diperbolehkan baginya untuk membayar fidyah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata: “Penafsiran Ibnu Abbas dalam ayat ini menunjukkan kedalaman fikihnya, karena cara pengambilan dalil dari ayat ini; bahwa Allah menjadikan fidyah sebagai pengganti dari puasa bagi orang yang mampu untuk berpuasa, jika dia mau maka dia berpuasa; dan jika tidak, maka dia berbuka dan membayar fidyah. Kemudian hukum ini dihapus, sehingga diwajibkan bagi setiap orang untuk berpuasa. Maka ketika seseorang tidak mampu untuk berpuasa, yang wajib baginya adalah penggantinya, yaitu fidyah”. (Asy-Syarhul Mumti’, Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin 6/334)

Kedua, adalah musafir. yaitu orang yang melakukan perjalanan jauh sehingga mendapatkan keringanan untuk mengqashar shalat, maka safar yang semacam ini dibolehkan untuk tidak berpuasa.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, “Apabila puasa dirasa memberatkan dan membebaninya maka hukumnya menjadi makruh, karena Nabi n pernah melihat seseorang pingsan, orang-orang disekitar beliau berdesak-desakan, beliau bertanya : “Kenapa orang ini?”. Mereka menjawab. “Dia berpuasa”. Beliau n bersabda,  “Puasa di waktu bepergian bukanlah termasuk kebaikan.” (HR. Bukhari)

Adapun bila puasa terasa berat baginya dengan merasa sangat payah, maka wajib atasnya berbuka, karena Rasulullah n tatkala banyak orang yang mengadukan kepada beliau bahwa mereka merasa berat berpuasa (tatkala bepergian) Nabi n menyuruh mereka berbuka, lalu disampaikan lagi kepada beliau, “Sesungguhnya sebagian yang lain tetap berpuasa”, Nabi n, “Mereka itu ahli maksiat! Mereka itu pelaku maksiat!” (HR. Muslim)

Sedangkan bagi orang yang tidak mengalami kepayahan untuk berpuasa, yang paling utama adalah tetap berpuasa, karena meneladani Rasul n manakala beliau tetap berpuasa ketika bepergian, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Darda z, “Kami bersama Rasulullah n di bulan Ramadhan dengan panas terik yang menyengat, tiada seorangpun dari kami yang berpuasa kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abdullah bin Rawahah.” (HR. Muslim)

Orang yang tidak mengerjakan puasa karena safar, maka harus baginya mengganti puasa yang ditinggalkan di hari-hari lain setelah bulan Ramadhan.

Ketiga, yaitu orang yang sudah tua renta dan dalam keadaan lemah. Para ulama sepakat bahwa orang tua yang tidak mampu berpuasa, boleh baginya untuk tidak berpuasa dan tidak ada qodho baginya. Menurut mayoritas ulama, cukup bagi mereka untuk memberi fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Pendapat mayoritas ulama inilah yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala di dalam QS. Al Baqarah: 184

Ibnu Qudamah mengatakan, “Orang sakit yang tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka dia boleh tidak berpuasa dan diganti dengan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan. Karena orang seperti ini disamakan dengan orang yang sudah tua.” (Al Mughni, 4/396.)

Keempat, wanita hamil dan menyusui. Di antara kemudahan dalam syari’at Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa, dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi n,  “Sesungguhnya Allah f meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah & Ahmad)

Al-Jashshosh rahimahullah mengatakan, “Para ulama salaf telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat yaitu Ali  berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qodho’ jika keduanya tidak berpuasa dan tidak ada fidyah bagi mereka. Pendapat ini juga menjadi pendapat Ibrahim, al-Hasan dan ‘Atho’. Ibnu ‘Abbas berpendapat cukup keduanya membayar fidyah saja, tanpa mengqodho’. Sedangkan Ibnu ‘Umar dan Mujahid berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah sekaligus qodho’.” (Ahkamul Qur’an, Ahmad bin ‘Ali ar-Rozi al-Jashshosh, 1/224) Wallahu a’lam

(sumber: hujjah.net)