Pelajaran Dari Kisah Istri Nabi Luth & Istri Nabi Nuh

0

Pelajaran Dari Kisah Istri Nabi Luth & Istri Nabi Nuh (Tadabbur Surah At-Tahrim Ayat 10)

Oleh: Ust. Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah At-Tahrim Ayat 10

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas:

Firman-Nya: اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ

Pelajaran pertama.  Allah memberikan permisalan orang-orang kafir, yaitu istri Luth dan istri Nuh, dulunya kedua orang ini berada di bawah kendali/komando dua hamba yang shalih. تَحْتَ عَبْدَيْنِ artinya di bawah, maknanya posisi istri itu di bawah kendali atau di bawah perintah suami, makna ini yang jarang ditafsirkan oleh para ulama mufassir. Ternyata dua nabi saja belum bisa mengendalikan istri-istrinya, apalagi hanya sekelas ustadz.

Bahwa istri itu dipimpin oleh suami, bukan sebaliknya istri yang memimpin suami. عَبْدَيْنِAllah menyebutkan kedua nabi tersebut dengan sebutan hamba, bahwa nabi pun itu hamba Allah, predikat yang paling afdhal dalam hidup adalah hamba. Kita hidup sebagai penghamba Allah. عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ menunjukkan kriteria laki-laki yang shalih.

Kedua istri tadi di bawah kendali dua hamba yang shalih, namun sayangnya mereka berdua berkhianat. Khianat ini maknanya luas, diantaranya: menyalahgunakan amanat yang diberikan kepadanya. Khianat merupakan salah satu tanda/sifat orang munafik. Pengkhianatan yang dilakukan oleh istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh ini tidak dapat menghindarkan dari adzab Allah sedikitpun terhadap mereka berdua. Bahkan menyebabkan masuk neraka. Pengkhianatan atau kecurangan itu menyebabkan pelakunya masuk neraka.

Pelajaran kedua. Ayat ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah ‘azza wa jalla untuk menjelaskan keberadaan orang-orang kafir diantara kaum muslimin. Dalam satu keluarga misalnya, suaminya muslim, anak-anaknya pun muslim, akan tetapi istrinya kafir. Keberadaan orang beriman di sekitar orang kafir tidak memberikan manfaat apapun kepada orang kafir tersebut. Walaupaun ada orang kafir yang hidup di tengah-tengah keluarga muslim, namun tetap masuk neraka. Lingkungan yang baik itu tidak mempengaruhi seseorang sebelum orang itu masuk Islam.

Pelajaran ketiga. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh kedua istri Nabi tersebut bukanlah perbuatan zina. Ini adalah tafsir. Pengkhianatan yang dilakukan istri Nabi Nuh yakni dengan mengatakan kepada umatnya bahwa suaminya itu gila. Nabi Nuh setiap hari keluar rumah untuk berdakwah selama 950 tahun lamanya, namun istrinya tidak mengantarkan suaminya keluar rumah untuk mendukung dakwahnya, justru sibuk memprovokasi dan melemahkan dakwah suaminya. Ada contoh seorang istri yang melemahkan dakwah suami yaitu karena terlalu mencintai suaminya sehingga tidak mau ditinggal berdakwah oleh suaminya. Setelah dinasehati, istrinya tidak bisa berubah. Akhirnya suaminya mencerai sang istri.

Pengkhianatan yang dimaksud dalam ayat ini tidak harus dalam bentuk perselingkuhan atau perzinahan. Dan tidak ada istri-sitri nabi yang melakukan perbuatan keji, perselingkuhan semacamnya. Artinya seorang nabi itu mampu memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri-istrinya sehingga terhindar dari perbuatan keji. Kasih sayang yang diberikan oleh para nabi kepada istri-istrinya itu luar biasa. Biasanya perselingkuhan terjadi akibat pihak istri tidak memperoleh kasih sayang dari suaminya. Istri tidak mendapatkan kepuasan batin dari suaminya, suami tidak memberikan nafkah batin yang layak.

Pengkhianatan yang dilakukan oleh istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh ini bukan masalah akhlak, namun perkara akidah, yaitu menghalangi atau menggembosi dakwah suaminya. Adapun pengkhianatan istri Nabi Luth adalah memberitahukan kedatangan tamu-tamu Nabi Luth, yaitu malaikat yang berwujud manusia rupawan, kepada kaumnya. Pengkhianatannya adalah membocorkan rahasia suami. Ada dua pelajaran yang dapat diambil dari kisah istri Nabi Luth ini: (1) janganlah ibu-ibu membocorkan rahasia suami, (2) ternyata istri Nabi Luth menerima keping emas dari kaumnya jika memberitahukan rahasia Nabi Luth kepada mereka.

Bagi ibu-ibu diperintahkan untuk mengajarkan kepada anak-anak perempuannya setidaknya tiga surah dalam Al-Qur’an, yaitu surah An-Nisa, An-Nur dan Al-Ahzab. Di dalam surah Al-Ahzab diceritakan tentang kisah ngambeknya istri-istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berjama’ah hanya karena menginginkan tambahan uang belanja. Ujian harta ini common terjadi pada wanita, juga terjadi pada istri Nabi Luth. Oleh karena itu suami tidak boleh bakhil terhadap istri-istrinya, bersifat royal dengan apa yang dikehendaki istrinya sesuai kemampuan dan batasan. Suami yang shalih itu pasti tahu bagaimana membahagiakan istri-istrinya. Mendapatkan suami yang shalih itu pasti bahagia.

Istri-istri selain mengalami ujian harta, juga dengan kecemburuan. Beberapa contoh istri-istri yang cemburu yaitu Ibunda Aisyah yang sangat pencemburu terhadap Ibunda Khadijah yang telah wafat dan terhadap Ummu Salamah, Sarah istri Nabi Ibrahim yang sangat cemburu terhadap Hajar dan putranya Ismail. Namun Hajar memilih sikap mengalah, sehingga dengan sikap mengalahnya itu Allah menolongnya dengan kesabaran dan memuliakannya dengan munculnya syariat haji melalui Hajar dan Ismail. Dari Ismail juga muncul keturunan hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pelajaran keempat. Suami istri bagaikan baju bagi masing-masing. Istri itu baju bagi suami, suami itu baju bagi istri. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.”

Pada ayat ini minimal ada dua makna:
(a) suami-istri harus menjaga rahasia masing-masing, saling menjaga kekurangan suami/istri. Dikisahkan oleh Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bahwa pada zaman dahulu para wanita suka berkumpul dan saling menceritakan tentang suaminya. Kebiasaan buruk ini yang ternyata telah ada sejak zaman dahulu tidak boleh diikuti. Diperbolehkan menceritakan tentang suami yang baik-baik saja, dan menutupi kekurangan-kekurangannya.
(b) tidak ada aurat antara suami-istri.

Pelajaran kelima. Jika istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh berkhianat, jadi apa makna surah An-Nur ayat 26?

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”

Ayat ini turun berkenaan dengan haditsul ifki (kabar bohong) tuduhan selingkuh Aisyah dengan Shafwan. Kaidah umum, para ulama bersepakat bahwa tidak ada istri nabi yang selingkuh. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Aisyah adalah istri Nabi Muhammad bukan istrinya Shafwan, karena Nabi Muhammad itu orang baik, suci, maka tentu mendapatkan istri yang baik pula yaitu Aisyah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Aisyah dijamin masuk surga, dijelaskan pada ujung ayat bahwa Aisyah dikaruniakan rezeki yang mulia وَرِزْقٌ كَرِيمٌ yang artinya surga.

Kisah istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh tidak bertentangan dengan ayat 26 surah An-Nur ini, sebab:

(1) Ayat ini berlaku dalam perbuatan dan akhlak, bukan perkara akidah. Laki-laki yang akhlaknya baik mendapatkan perempuan yang akhlaknya baik pula.
(2) Ayat tersebut berlaku pada kaidah umum, dan biasanya ada pengecualian seperti Asiyah istri Fir’aun. Contoh kaidah umum dalam pernikahan: usia suami biasanya lebih tua daripada istrinya, supaya mampu mengayomi, mendidik dan mengarahkan; pengecualiannya pada pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah.
(3) Di dalam keluarga para nabi tidak ada yang berselingkuh, tetapi pengkhianatan dalam agama itu terjadi, contohnya istri Nabi Luth, istri Nabi Nuh, ayah atau paman Nabi Ibrahim itu penyembah berhala, sebagian paman Nabi Muhammad juga kafir.

Pelajaran keenam. Seseorang kadang diuji dengan istrinya. Jika suami bersabar maka akan dapat pahala. Suaminya selalu bersyukur dengan apapun keadaan istrinya: “Alhamdulillah, aku mendapatkan istri yang cerewet. Aku menjadi pendengar yang baik bagi istriku,” atau “Alhamdulillah, aku mendapatkan istri yang banyak request. Aku mendidik istri yang banyak menuntut menjadi istri yang penurut.”

Membimbing istri-istri menjadi lebih baik itu pahalanya sangat besar. Apalagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memiliki 9 istri dan salah satunya muallaf, yaitu Shafiyyah binti Huyyay bin Akhthab. Beliau mendidik para istrinya menjadi wanita-wanita beriman dan shalihah.

Pelajaran ketujuh. Seorang istri memiliki peran yang sangat penting di dalam mendukung dan membantu dakwah suami. Contohnya Khadijah dan istri-istri Nabi Muhammad yang lain, ikut turun berjihad dan memberikan masukan-masukan cerdas dalam dakwah Nabi.

Istri-istri Nabi juga berperan menyebarkan ilmu berdasarkan hadits Nabi, misalnya cara mandi junub, tentu yang meriwayatkan adalah istri-istrinya. Setidaknya ada tiga istri Nabi yang meriwayatkan tentang cara mandi junub dan ketiganya berbeda sedikit namun saling melengkapi. Jika istrinya hanya satu, boleh jadi kurang lengkap meriwayatkannya sehingga menjadi lengkap sebab lebih dari satu istri yang meriwayatkannya.

Itulah peran istri dalam dakwah suami. Jadi tugas istri bukan terbatas pada urusan domestik rumah tangga saja, akan tetapi juga mendukung dan membantu dakwah suami. Lantas apa peran ibu-ibu pengajian di sini bagi dakwah suami?

Pelajaran kedelapan. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan dengan nasab atau keluarga. Istri Nabi Nuh dan anaknya yang bernama Kan’an saling membantu untuk melemahkan dakwah ayahnya. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Mu’minun ayat 101:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.”

Pelajaran kesembilan. Dalam fiqih, pernikahan Nabi Luth dengan istrinya, dan Nabi Nuh dengan istrinya, itu sah walaupun salah satunya berkhianat dalam akidah/agama. Jawabannya adalah mungkin pada saat itu belum ada kaidah seorang muslim harus menikah dengan yang muslim juga; atau ketika menikah sama-sama muslim namun pada perjalanannya istri menjadi murtad.

Wallahu a’lam.