Memandu dengan ilmu

Pelajaran Politik Musa as vs Firaun Bag. 1

0

Pelajaran Politik Musa as vs Firaun Bag. 1; Tiga Narasi Provokasi

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ

“Tokoh-tokoh masyarakat Mesir (para loyalis Firaun) melakukan provokasi terhadap Firaun, “Apakah Anda akan membiarkan Musa dan pengikutnya menebar kerusakan di wilayah kita, mereka juga tidak mengakui kekuasaan Anda dan tidak mengakui ideologi Anda”. Firaun menjawab, “Tidak. Kita akan habisi generasi lelaki mereka dan menyisakan yang perempuan saja. Kita mampu mengendalikan mereka.” (QS. Al-A’raf: 127).

Ayat ini mengkisahkan narasi provokasi dari para penjilat Firaun yang ditujukan agar Firaun mengambil tindakan. Firaun adalah raja yang punya kekuasaan absolut, maka provokasi cukup diarahkan kepadanya. Adapun saat ini, provokasi ini bisa saja ditujukan kepada rakyat karena sistemnya demokrasi, kedaulatan ada di tangan rakyat.

Kalau kita perhatikan, narasi provokatif yang mereka bangun terdiri dari tiga poin yang niscaya berulang dalam sejarah kekuasaan yang zalim.

Pertama, menekankan bahwa Musa as bersama pengikutnya pasti akan menebar horor (kerusakan/fasad) kepada masyarakat. Bagaimana tidak, orang yang memiliki kemampuan “sihir” yang demikian dahsyat (mukjizat) niscaya akan menebar teror kepada masyarakat. Kemampuan Musa as itu, dalam pandangan mereka, pasti akan digunakan untuk kejahatan.

Poin ini hakekatnya cermin diri mereka sendiri, karena mereka terpenjara pengalaman, semua kekuatan bertendensi kejahatan. Mereka lupa, Musa as adalah Nabi, yang tak akan melakukan kejahatan.

Artinya, mereka sengaja melakukan penyesatan opini, apalagi dibumbui dengan fakta bahwa Musa as dulu saat masih remaja pernah membunuh orang Mesir. Saat dulu pakai tangan kosong saja bisa membunuh warga pribumi Mesir, apalagi setelah punya kekuatan ajaib (mukjizat) yang di mata mereka tetap dianggap sihir.

Narasi provokasi serupa selalu menjadi jurus aparat pembela rezim dalam rangka menyudutkan para dai dan ulama. Kelemahan mereka dieksploitasi sebagai alat untuk menyudutkan.

Dalam realita kekinian, kegiatan nahi munkar dipersepsikan sebagai kerusakan. Padahal justru untuk membasmi kerusakan sosial. Demikian juga dengan jihad, sisi “kerusakan” (baca: teror) yang di-zoom untuk provokasi masyarakat. Padahal kerusakan yang ditimbulkan oleh jihad adalah kerusakan kekuatan kafir, meski tak bisa ditampik banyak pelaku jihad yang sembrono karena kelewat semangat.

Kedua, narasi sebagai musuh penguasa, yang punya misi menggulingkan kekuasaan. Narasi ini amat ampuh untuk memantik amarah penguasa dan rakyat yang berpihak kepada penguasa.

Kekuasaan merupakan obsesi tertinggi mereka, maka jika ada orang yang akan menggulingkannya, semua daya upaya akan dikerahkan untuk menghadangnya. Bila perlu dengan kekerasan.

Bila dicermati secara jujur, para pejuang Islam hanya ingin kekuasaan yang adil dan tunduk kepada hukum Allah, tanpa harus merampasnya dari tangan mereka.

Ketiga, narasi sebagai musuh ideologi negara. Bahwa Musa as dianggap membawa ideologi berbahaya yang akan merusak ideologi nasional. Padahal ideologi merupakan alat perekat bangsa. Ia menjadi nilai paling sakral yang dijunjung tinggi seluruh elemen bangsa.

Ketika Musa diopinikan membawa idelogi baru yang kontradiktif dengan ideologi bangsa, seluruh elemen akan murka dan memusuhi Musa as. Jika publik sudah marah, tindakan zalim Firaun terhadap Musa jadi dimaklumi.

Dalam realita kekinian, Islam dianggap sebagai musuh ideologi negara. Tauhid dimusuhi oleh jargon kebhinekaan dan kebangsaan. Bahkan mengajarkan loyalitas iman saja dianggap menebar gagasan berbahaya.

Tiga narasi ini akan selalu terulang dalam sejarah perseteruan antara al-haq melawan al-batil. Kemasannya berbeda, tapi substansinya sama. Tinggal kita, apakah mampu menangkap narasi itu dan mewaspadainya, ataukah termasuk mudah tertipu propaganda.

sumber: channel telegram.me/islamulia