Memandu dengan ilmu

Pelaku Dakwah, Kuatkan Semangatmu

0

Pelaku Dakwah, Kuatkan Semangatmu

Oleh: Burhan Sodiq, S.S

Berat dan penat pastilah sering menyapa para pelaku dakwah. Kadang bikin lelah, tapi seringkali bikin berkah.

Jika tidak siap mental, akan ada banyak dai yang terpental. Jatuh bergulung gulung di lembah kekecewaan. Jika tidak siap niat, maka akan banyak dai yang berguguran di jalan dakwah. Maka memahami karakter dakwah ini, menjadi sangat penting.

Salah satu karakter dakwah yang harus dipahami setiap pelakunya adalah terus memerangi siapa saja yang berani menghalang-halangi Islam dan mencegah tersebarnya dakwah dan bersungguhsungguh dalam melaksanakannya. Karakter ini patut untuk selalu dijadikan pegangan dalam berdakwah.

Bagaimana seorang dai senantiasa melihat dakwah sebagai upaya untuk melawan kemungkaran. la tidak hanya berkutat pada masalah-masalah yang ringan, tetapi juga berkutat pada masalah-masalah perlawanan. Karena setiap ajakan kebaikan dan kebenaran, akan selalu mendapat halangan dan rintangan.

Maka perjalanan ke arah ini sangatlah berat. Banyak aral yang melintang, banyak halangan-halangan yang siap menerjang. Dibutuhkan stamina dan endurance yang kuat sehingga setiap dai mampu melalui segala uiian itu dengan baik.

Allah Subhana Wa ta’ala berfirman: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 2-3)

 

BAGAIMANA MENGUATKAN SEMANGAT?

Seperti batere, kadang kita kehabisan energi, Semua pekerjaan kita yang menangani. Akhirnya tidak kuat, ambruk dan tidak mau jalan lagi. Padahal pekerjaan dakwah itu bukannya habis, tapi terus menerus ada. Urusan ini belum selesai sudah muncul urusan lain lagi yang lebih penting. Belum habis lelah kita, sudah muncul lagi amanah baru.

Banyak sahabat yang memeluk Islam pada masa awal dakwah di Makkah berasal dari kalangan pemuda. Abu Bakar saat itu baru berusia 37 tahun. Umar bin Khathab baru berusia 27 tahun. Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdurrahman bin Auf, Sa’id bin Zaid, Mush’ab bin Umair, Bilal bin Rabah, dan lain-lain berusia lebih muda dari mereka.

Juru dakwah Islam yang pertama kali diutus ke Madinah adalah seorang pemuda, yaitu Mush’ab bin Umair.

Pada masa dakwah dan jihad di Madinah, banyak pemuda yang memiliki peranan penting. As’ad bin Zurarah, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, Zaid bin Tsabit, Mu’adz bin Jabal, dan tokoh-tokoh besar Madinah lainnya adalah para pemuda. Mereka berada dalam barisan terdepan setiap kali Rasulullah memerlukan tenaga, pikiran, harta, dan bahkan jiwa mereka.

Melihat fakta ini, kita sebagai pelaku dakwah harus terus menanamkan pada jiwa kita bahwa dakwah itu kewajiban yang harus kita lakukan. Jika masing masing kita melihat dakwah sebagai kewajiban, maka kita akan terus memompa semangat untuk mewujudkan itu.

“Hendaklah di antara kalian ada satu kelompok yang mengajak umat manusia kepada kebaikan, memerin tahkan perbuatan yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang meraih keberuntungan. ” (QS. Ali lmran: 104) Dalam ayat lain, Allah berfirman:

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dimunculkan (oleh Allah) kepada umat manusia, (karena) kalian memerintahkan perbuatan yang makruf mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan beriman kepada Allah..” (QS. Ali lmran: 110)

Ajak bicara diri kita, tentang pilihan apa yang akan kita pilih untuk menghabiskan waktu di dunia ini. Apakah kita akan menghabiskan waktu dengan mencari dunia sebanyak-banyaknya. Ataukah kita akan menghabiskan waktu dengan mencari ridha Allah dan menguatkan posisi kita di akhirat-Nya. Karena jika kita pun mengejar dunia, juga akan kecapekan. Banyak energi yang terbuang, tapi dapatnya hanya dunia saja. Namun jika kita kejar akhiratnya, bisa jadi kita mendapatkan dua duanya. ‘

Jadi dalam diri kita harus ada nyala semangat yang terus berkobar. Jika nyala ini mati, maka semangat kita akan mati. Tidak ada motivasi lagi untuk bangkit. Maka menyemangati diri terus menerus untuk berdakwah adalah sebuah kepastian yang harus kita tempuh.

Kenali pula tanda-tanda dimana semanagat kita melemah. Mungkin dengan mulai surutnya keinginan untuk berdakwah. Mulai malas untuk mendatangi pertemuan-pertemuan dakwah. Mulai mundur dari beberapa amanah dakwah dan lain lainnya. Jika hal hal seperti ini sudah dikenali, maka kita harus segera mengubahnya.

Jangan sampai gejala-gejala ini menjadi lebih serius lagi. Jiwa mulai ogah-ogahan untuk menempa diri. Tidak punya keinginan untuk terjun dalam kancah dakwah. Memilih menarik diri dari pusaran aktivitas dan dakwah dengan alasan jenuh dan lain sebagainya.

Mumpung belum terlambat, setiap diri harus segera melakukan upaya pemompaan semangat ulang. ibarat batere melakukan recharge ulang terhadap energi yang sudah hilang. Agar kekuatan semangat itu kembali penuh. Sehingga kapal dakwah bisa terus berlayar sampai jauh. ‘

(ar risalah 199)