Memandu dengan ilmu

Pena Telah Diangkat Dan Lembaran Telah Kering

0

Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.

 

“….Ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya mereka bersatu untuk membahayakanmu, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah padamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain:

تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ، يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ،…قَدْ جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ، فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ عَلَيْكَ، لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ، وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ عَلَيْكَ، لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ، وَاعْلَمْ أنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا، وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “

 

“…Ingatlah Dia di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit… Telah kering pena dengan apa yang telah terjadi. Seandainya seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padmu, niscaya mereka tidak akan mempu mencelakakanmu. Ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap halyang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.” (HR. Ahmad)

 

Hadits ini adalah akhir  dari kalimat yang diajarkan Rasulullah kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dan kedua kalimat (wasiat) yang mendahuluinya merupakan cabang yang merujuk pemahamannya pada kalimat yang akhir ini, yaitu meng-Esakan dan mentauhidkan Allah.

 

Tauhid Yang Paling Awal Diajarkan

Mentauhidkan Allah adalah pelajaran yang harus diajarkan sejak dini kepada anak, bahkan dakwah kepada manusia dewasa pun dimulai dari tauhid, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah di Makkah dan para sahabat yang diutus untuk berdakwah di luar Madinah, seperti Khudaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu.

Sejak kecil harusnya kita mengetahui, siapa hakikatnya yang bisa memberi manfaat dan siapa yang dapat mendatangkan madharat. Tiadalah yang menimpa kita, kebaikan atau keburukan pasti itulah yang telah dituliskan Allah kepada kita semua, dan betapa pun manusia bersungguh-sungguh untuk menyelisihi takdir, maka usaha mereka akan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.

Jika demikian, bahwa Allah lah yang maha memberi dan menahan sesuatu, mendatangkan kebaikan dan keburukan, memberikan kemanfaatan dan kemudharatan, maka wajib atas kita untuk mentauhidkanNya, menyendirikanNya dalam ketaatan, harapan, takut, dan doa. Menghindar dari kemurkaan Allah meskipun berkonsekuensi seluruh makhluk murka kepada kita.

 

Iman Kepada Taqdir Membuahkan Ridha

Ketetapan seluruh makhluk telah ditulis oleh Al-qalam atas perintah Allah semenjak penciptaan yang awal, rasulullah bersabda, “Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Al-Qalam menjawab, ‘Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?’ Allah menjawab, ‘Tulislah semua takdir yang (terjadi) hingga datangnya hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad)

Ridha, itulah hasil yang dituju. Ridha atas setiap ketetapan Allah atas kita. Dan keridhaan ini perlu dilatih dengan mendekat kepada Allah dengan berbagai ketaatan ketika kita masih banyak rezekinya, sehat badannya, luang waktunya, dan tidak ada masalah yang sedang menghimpit dada.

Maka ketika sedang terhimpit, rezeki sedikit, jasadnya sakit, kita juga akan bisa menenal (mendekat) kepada Allah dengan penuh keridhaan.

Keridhaan adalah ra’sul mahabbah, dan derajat di bawahnya adalah kesabaran. Berkata Abdul Wahid bin Ziyad, “Tidaklah aku menyukai suatu amal yang mendahului sabar ketika ridha, dan tidaklah aku mengetahui suatu derajat yang lebih mulia dan lebih tinggi dari ridha karena dia adalah puncak (kepala) dari mahabbah.” (al-Jami’ syarh arbain, II/812).

 

Pertolongan Dan Kemudahan Bersama Kesabaran Dan Kesulitan

Setiap keburukan dan musibah yang menimpa harus disikapi dengan kesabaran. Dengan kesabaran maka datanglah pertolongan, besama kesempitan yang melanda ada jalan keluar dan di setiap kesulitan bersamanya ada kemudahan.

Kalimat Rasululah ini adalah obat bagi setiap muslim  untuk mengobati penyakit putus asa, terhindar dari menghina dan menghamba kepada manusia, dan menghilangkan ketakutan dari kekuatan musuh-musuh Islam yang memiliki logistik dan sarana perang yang lengkap. Simaklah firman Allah di bawah ini;

“…Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)

 

Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa. ” (QS. Yusuf: 110)

 

Sumber: Majalah ar risalah edisi 163, hal. 41-42