Memandu dengan ilmu

Pengalaman Pahit Ahli Kalam

0

Syarh Aqidah ath-Thahawiyah ke: 42

 

فَيَتَذَبْذَبُ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيمَانِ، وَالتَّصْدِيقِ وَالتَّكْذِيبِ، وَالْإِقْرَارِ وَالْإِنْكَارِ، مُوَسْوَسًا تَائِهًا، زَائِغًا شَاكًّا، لَا مُؤْمِنًا مُصَدِّقًا، وَلَا جَاحِدًا مُكَذِّبًا

 

(42) Maka dia terobang-ambing antara kekafiran dan iman, antara membenarkan dan mendustakan, antara menetapkan dan mengingkari; selalu kacau dan bingung serta bimbang dan menyimpang; dia bukan mukmin yang membenarkan, tetapi juga bukan orang yang ingkar dan mendustakan.

 

Selalu berada di dalam keraguan dan terombang-ambing antara kekafiran dan keimanan adalah keadaan mereka yang berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan cenderung kepada ilmu kalam (apalagi Filsafat Yunani) yang tercela. Juga mereka yang berusaha mengkompromikan antara al-Qur’an, as-Sunnah, dan ilmu kalam. Pasalnya, saat terjadi pertentangan antara nash-nash syar’i dengan ilmu kalam, mau tidak mau mereka akan melakukan ta’wil nash dan lebih memilih pendapat tokoh-tokoh dalam Filsafat, alih-alih mengembalikannya kepada Nabi Muhammad saw dan para ulama salaf. Abul Ma’ali al-Juwayni, Ibnu Rusyd, al-Fakhrurrazi, dan al-Amidi, adalah sedikit dari ulama Islam yang pernah mencecap pahitnya racun ilmu kalam. Semoga kita dapat memetik pelajaran dari perjalanan hidup mereka. “Orang-orang yang sukses adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain,” kata sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

 

Taubat Iman al-Haramain                     

Imam al-Haramain Abul Ma’aliy al-Juwainiy lahir pada awal tahun 419 H. Ia adalah seorang ulama besar Madzhab Syafi’i. Berbagai macam disiplin ilmu dipelajari dan dikuasainya, salah satunya adalah ilmu Kalam atau Filsafat.

Suatu hari Imam al-Haramain berdiri di atas mimbar masjid menjelaskan perkara akidah. Ia menegasikan sifat ‘uluw (tinggi) Allah. Pada saat yang sama Abu Ja’far al-Hamdaniy sedang duduk di masjid. Mendengar pertuturan al-Juwainiy, Abu Ja’far berseru, “Syaikh! Tidak usah berdebat atau main logika lagi! Tolong jelaskan kepadaku tentang fenomena orang-orang yang berdoa. Tidak ada seorangpun yang memohon kepada Allah, melainkan ia menengadah dan menghadap ke atas!” Imam al-Haramain membisu sejenak; lalu turun dari mimbar seraya berkata, “Al-Hamdaniy membuatku bingung, al-Hamdaniy membuatku bingung!”

Sejak peristiwa itu, Imam al-Haramain bertaubat dari mempelajari ilmu Kalam. Ia berpesan, “Wahai sahabat-sahabat kami, janganlah kalian menyibukan diri dengan ilmu Kalam. Seandainya aku tahu ilmu Kalam menyesatkanku sejauh ini, aku tidak akan menyibukan diri denganya.”

Imam al-Haramain wafat pada tahun 478 H. Menjelang ajal ia berpesan pada murid-muridnya, “Aku telah menyelami samudera kegelapan. Aku telah meninggalkan ahli Islam dan ilmu mereka. Aku telah melanggar apa yang mereka larang. Kini, jika Rabb-ku tidak menganugerahkan rahmat-nya, aku, Ibnul Juwainiy pasti celaka. Duhai, inilah aku! Aku bersiap mati di atas akidah ibuku.”

 

Kerancuan Akal Ibnu Rusyd                 

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd atau lebih dikenal Ibnu Rusyd lahir di Cordoba, Andalusia (sekarang Spanyol) pada tahun 520 H/1126 M.  Ia adalah seorang filosof besar yang membawa pengaruh besar kepada pemikiran filsafat barat. Orang-orang Barat menyebutnya sebagai guru kedua setelah Aristoteles.

Menurut Ibnu Rusyd, filsafat yang disebutkannya dengan hikmah tidak bertentangan dengan syariat. Wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw tidak bertentangan sama sekali dengan konsep rasionalitas ketuhanan yang diajarkan oleh Aristoteles.

Karena itulah Ibnu Rusyd membela Aristoteles mati-matian. Ia menulis buku Fashlul Maqaal fii Maa Bainasy Syarii’ati wal Hikmah minal Ittishaal (Penjelasan panjang lebar tentang hubungan antara syariat dan hikmah) yang menegaskan bahwa metode dan tujuan hikmah (baca: filsafat) sama dengan metode dan tujuan syariat. “Keduanya adalah saudara sepersusuan,” kata Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd lupa bahwa Rasulullah saw dan para sahabat adalah manusia-manusian yang cerdas dan berperadaban tinggi sejak sebelum diturunkannya wahyu. Tetapi akal mereka dan akal siapa pun tidak mampu mencapai kepada konsep ketuhanan yang benar, seperti yang dijabarkan oleh wahyu.

 

Pengakuan al-Fakhrurrazi

Penulis tafsir Mafaatihul Ghaib, Fakhruddin ar-Razi atau al-Fakhrurrazi ini berbeda dengan az-Razi. Fakhrurrazi lahir pada tahun 544 H. sedangkan az-Raziy atau Rhazes, demikian orang Barat memanggilnya, lahir sekitar dua abad sebelumnya. Keduanya memang sama-sama ahli di bidang ilmu kalam dan filsafat. Fakhrurraziy wafat pada tahun 606 H.

Setelah berkutat dengan ilmu  kalam dan menyelaminya selama bertahun-tahun, Fakhrurraziy menulis kitab Aqsaamul Ladzdzaat. Di dalam buku itu Fakhrurraziy menuliskan pengakuannya tentang kerusakan filsafat. Katanya, “Aku telah mencermati berbagai metode yang ditawarkan oleh ilmu kalam dan filsafat (tentang ketuhanan). Nyatanya, keduanya sama sekali tidak menyirnakan dahaga orang yang kehausan. Kudapati, metode yang paling baik adalah metode al- Qur’an. Bahkan itu adalah satu-satunya metode yang benar. Tentang itsbat, bacalah: ‘ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha: 5) dan ‘kepada-nya akan naik perkataan-perkataan yang baik. ‘(QS. Fathir: 10). Tentang nafyi, bacalah: ‘Tidak ada sesuatu yang semisal dengan-nya. ‘ (QS. asy-Syuara: 11).”

Fakhrurraziy juga menggubah seuntai syair yang maknanya sebagai berikut:

ujung lancing akal hanyalah belenggu

akhir upaya orang-orang yang sok berilmu

hanyalah kesesatan

ruh-ruh kita rasa terasing dari jasad kita

buah dunia kita hanyaderita dan marabahaya

kita tidak beroleh faidah kajian sepanjang umur

swlain kumpulkan katanya dan kata mereka

betapa telah kita liat tokoh-tokoh dan berbagai negeri

semua maju dengan cepat, namun segara pula semua hilang

tak sedikit gunung telah didaki tokoh-tokoh      

tokoh-tokoh hilang, tapi gunung tetaplah gunung

 

Tinta di Kaki al-Amidiy (w. 631 H)

Tokoh bergelar saifuddin (pedang agama) ini lahir antara tahun 550 sampai 560 H. namun kecilnya ‘Ali. ‘Ali bin Muhammad bin Salim at-Taghlibiy al-Amidiy. Sejak kanak-kanak ia sudah tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari menghafal al-Qur’an, mempelajari Qiraat, sampai kepada ilmu Manthiq dan ilmu kalam. Saat dewasa pun al-Amidiy menjadi sosok yang pilih tanding dalam bebbagai disiplin ilmu. Karena kepandaiannya dalam beradu argument dan berdebat, Ibnu ‘Abdussalam berkata, “Seandainya ada seorang Zindiq atau siapa pun yang meragukan Islam, ia pasti teryakinkan oleh al-Amidiy. “Tetapi Islam bukan hanya agama ilmu dan adu argument. Islam juga agama Islam.

Berbeda kabar bahwa al-Amidiy sering tidak mengerjakan shalat. Karenanya, seperti dikatakan oleh Syaikh Syamsuddin bin Abul ‘Izz, bermaksud membuktikan kebenaran kabar burung itu. Saat al-Amidiy tertidur di majlisnya, seseorang menorehkan tinta di kakinya. Selang beberapa hari kemudian, diketahui bahwa torehan tinta di kaki al-Amidiy belum hilang. Maknanya dia belum berwudhu atau mandi dan belum atau tidak mengerjakan shalat lima waktu. Apa saja yang dilakukan oleh al- Amidiy selama itu? Ia mempelajari dan menghapal beberapa kitab tentang ilmu kalam, ilmu diskusi, dan ilmu Ushul. Ia menghafal kitab al-Mustashfa karya al-Ghazali dan kitab-kitabyang lainnya yang diakui oleh para ulama sebagai kitab-kitab yang sulit untuk dipahami. Al-Amidiy sendiri menulis al-Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam dalam Ushul Fiqh.

Semoga Allah mengampuni al-Amidiy yang wafat pada tuhun 631 H. dan juga mengampuni kita semua. Semoga kita terhindar dari fitnah ilmu kalam dan filsafat. Wallah Muwaffiq.

Sumber: majalah arrisalah edisi 82