Perbedaan Antara Ahlussunnah dan Ahlul Bathil

0

Sungguh kebenaran dan kebathilan memiliki sisi perbedaan yang sangat jelas, dan mudah untuk dibedakan. Jelasnya perbedaan keduanya sebagaimana jelasnya rembulan di malam purnama dan jelasnya matahari di siang bolong.

Allah ta’ala telah menjelaskan tentang perbedaan keduanya, Allah berfirman:

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. Al-Mulk: 22)

Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa manakah yang lebih baik dan selamat antara orang yang berjalan dengan mata tutup tidak mampu melihat depan dan arah kiri-kanannya dengan orang yang berjalan dengan mata terbuka dan berjalan dengan kedua kakinya?[1]

Sungguh sangat berbeda antara orang yang berjalan di atas jalan hidayah dengan orang yang berjalan di atas jalan kesesatan ketika mereka berjalan menuju Allah. Dalam hal memegang teguh ajaran dan prinsip-prinsip agama Islam Rasulullah telah menjelaskan perbedaan antara pemegang kebenaran dan pengusung kebathilan.

Dalam riwayat sahabat Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَاثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ”, قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ هِيَ؟ , قَالَ:”الْجَمَاعَةُ”.

“Kaum Yahudi akan berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan kaum nashrani akan berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan demi jiwaku yang di tangan-Nya, sungguh umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan di jannah dan tujuh puluh dua golongan di neraka.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, siapakah satu golongan itu?” beliau menjawab: “Al-Jama’ah”. (HR. Ibnu Majah no. 3992 ) [2]

Dalam riwayat lain disebutkan dari sahabat Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً ، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.

Dan sesungguhnya Bani Israil akan berpecah menjadi tujuh puluh dua aliran, dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga aliran seluruhnya di neraka kecuali satu aliran, mereka (para sahabat) bertanya: “Siapakah aliran itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Mereka adalah yang berada di atas ajaranku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641)[3]

Dari kedua hadits di atas memiliki beberapa kesimpulan, di antaranya:

Akan terjadi dalam agama Islam perpecahan menjadi sekian banyak golongan atau aliran yang seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu golongan saja. Hal ini menandakan bahwa akan terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam ajaran Islam.

Rasulullah telah membedakan antara ahlul bathil yang suka berpecah belah dan dengan ahlussunnah yang senantiasa memegang ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Inilah yang membedakan antara Ahlussunnah dengan ahlul bathil dan

Salah satu syubhat pemikiran yang sering diseber luaskan oleh ahlul bathil dan sedang beredar luas di tengah kaum muslimin adalah yang mengatakan bahwa sekte-sekte menyimpang yang nampak sekarang mereka tidak salah. Bahkan dengan berdalil bahwa hadits tentang tujuh puluh tiga golongan itu bermakna seluruhnya masuk jannah dan hanya satu yang masuk neraka.

Argumen lain yang sering dibawakan adalah bahwa aliran aliran tersebut masih memiliki kesamaan dengan prinsip ahlussunnah.

Tentunya pemahaman seperti ini sangatlah kontradiksi dengan argumen-argumen Al-Qur’an maupun As-Sunnah, dan dengan apa yang dipahami oleh para sahabat. Serta sangat bertolak belakang dengan akal sehat manusia.

Oleh karena itu penting untuk mengetahui kaidah yang membedakan antara ahlussunnah dengan ahlul bathil, setidaknya dapat meluruskan syubhat di atas,

Kebathilan itu dikenali karena penyelisihannya, bukan karena kesamaannya.

Para pengusung kebathilan sering mengedepankan sisi kesamaan aliran mereka dengan ajaran Islam, dan menutup-nutupi sisi perbedaannya. Sebagai contoh aliran syi’ah hal mana terdapat banyak sekali perbedaan prinsip-prinsip mereka dengan prinsip Ahlussunnah. Namun untuk menutupi itu semua mereka berupaya untuk mencocok-cocokannya, seperti perkataan mereka, “Syiah masih Islam, toh mereka masih beribadah kepada Allah, toh mereka masih shalat menghadap kiblat dan mereka membaca al-qur’an.” Dan masih banyak toh… toh… yang lain.

Sungguh jika melihat dari sisi kesamaan saja, maka tidak ada perbedaan antara orang muslim dengan orang musyrik, toh ketika mereka ditanya siapakah yang menciptakan mereka maka pasti akan menjawab, yang menciptakan kami adalah Allah.” Allah berfirman: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?, (QS. Az Zukhruf: 87)

Apakah ketika mereka mengakui bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah dengan serta merta mereka disebut muslim?, sungguh ini adalah bentuk kejahilan dalam berpikir. Allah ta’ala melanjutkan firman-Nya: “dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Rabbku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” (QS. Az Zukhruf: 88)

Mereka dikenal musyrik tidak muslim bukan kerena mereka mengakui Allah sebagai pencipta manusia dan segala apa yang ada di alam semesta ini, atau dalam istilah lain hanya mempercayai rububiyah Allah. Akan tetapi mereka dikenal sebagai orang musyrik dikarenakan mereka tidak meyakini uluhiyah Allah.

Begitu pula dengan sekte-sekte menyimpang dari Islam, mereka dikenal sebagai sekte menyimpang karena penyelisihan mereka terhadap prinsip-prinsip Ahlussunnah, bukan karena kemiripan dengan Ahlussunnah, jika mereka tidak ingin dikatakan sebagai sekte menyimpang maka konsekuensinya mereka harus taat terhadap prinsip-prinsip pokok Ahlussunnah.

Imam Asy Syathibi berkata, “Sekte-sekte ini dikatakan sebagai kelompok menyimpang dikarenakan penyelisihan mereka terhadap firqah an-najiyah (kelompok yang selamat) dalam perkara pokok agama, kaidah-kaidah syari’ah, bukan dalam perkara bagian dan cabang agama, sebab perkara bagian dan cabang tidak menyebabkan perselisihan yang berujung kepada terpecah-pecah, namun perpecahan ini terjadi karena adanya perbedaan dalam masalah yang pokok, karena perkara pokok akan menyebabkan pembagian menjadi bagian yang banyak…”[4]

Penamaan Ahlussunnah sebagai lawan dari ahlul bid’ah

Awal munculnya penamaan Ahlussunnah dikarenakan terdapat banyaknya penyimpangan dan bermunculannya firqah-firqah sesat sehingga membutuhkan pembedaan nama terhadap prinsip-prinsip yang diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.[5]

Dari sini diketahui bahwa penamaan Ahlussunnah memiliki maksud yang jelas, yaitu membedakan ajaran-ajaran yang murni dari Rasulullah sehingga tidak tercampur dengan ajaran-ajaran yang telah menyimpang.

Maka tidak boleh serta merta memasukkan atau mengkatagorikan suatu firqah menjadi bagian dari Ahlussunnah, sebab jika ingin dikatagorikan sebagai Ahlussunnah maka ia harus mengikuti prinsip-prinsip pokok yang menjadi pegangan mereka. Wallahu a’lam.

Daftar Isi

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan fie Ta’wilil Qur`an. (Bairut: Mu`assasah ar-risalah, 2000 M.)

Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah, (Bairut: Dar al-Fikr, -)

Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Al Jami’ Ash Shahih Sunan At-Tirmidzi, (Bairut: Dar Ihya Turats al-‘Arabiy, -)

Ibrahim bin Musa Asy Syatibi, Al-I’tisham, (-Dar Ibn Jauzi, )

Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, Ahlussunnah wal Jama’ah Ma’alim al-Intilaqatil Kubra, (Kairo: -, -)