Perhiasan Iman Bagi Lisan

0

Hati yang sehat dan selamat pasti akan membuahkan hal yang bermanfaat, ia bagaikan raja yang bisa dengan seenaknya memerintahkan prajuritnya untuk melakukan segala hal yang dikehendakinya. Di antara prajurit yang berada di baris terdepan adalah lisan.

Lisan yang baik akan menghantarkan pemiliknya menuju surga, dan sebaliknya bila rusak lisannya maka jaln menuju nerakalah yang akan ditempuhnya, tidak hanya perkataan yang bisa didengar manusia yang membahayakan, bahkan bisik-bisiknya pun bisa membuat shahibul lisan celaka dan binasa.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS. An Nisa`: 114)

Rasulullah mengingatkan kita semua akan bahaya yang bisa ditimbulkan oleh lisan bila kita tidak menjaganya, sampai-sampai beliau memegang lisannya, dan bersabda:

“Tahanlah (lidah) mu ini.” Aku (Mu’adz bin Jabal) bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, (apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?’ Beliau menjawab, “Tsaqilatka Ummuka” (ungkapan orang Arab ketika ta’jub disertai marah dan bukan merupakan doa, yang artinya ibumu celaka karena kehilanganmu (kematianmu)), wahai Muadz, Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka melainkan karena hasil ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

 

Alhamdulilah

Amal shalih yang paling utama dari lisan adalah doa, baik berupa permintaan (du’au tholab) maupun berupa pujian (du’au tsana`). Dan di antara doa yang paling afdhal adalah alhamdulillah, sebagaimana sabda Rasulullah,

“Dan sebaik-baik doa adalah alhamdulillah (segala pujian adalah milik Allah).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani).

Ternyata tidak hanya doanya saja yang mulia, yang mendoakannya; yaitu seorang muslim atau muslimah pun akan menjadi orang yang mulia di sisi Allah, Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ عِبَادِ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ الحَمَّادُوْنَ

“Seutama-utamanya hamba Allah pada hari kiamat adalah al hammaduun.” (HR. Thabrani)

Alhammaaduun adalah orang yang banyak memuji Allah baik di waktu luang atau senang maupun di waktu  sempit atau mendapat musibah. Yang ridha kepada setiap putusan Allah yang menimpanya, memanfaatkan kenikmatan yang diberikan dari Allah untuk melakukan ketaatan-ketaatan kepada-Nya.

 

Kebiasaan Orang Shaleh Memuji Allah

Ketika bangun tidur, seorang muslim langsung memuji Rabbnya,

Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da maa amaatana wa ilaihin nusyur (segala pujian adalah milik Allah yang telah menghidupkanku kembali setelah kematian (tidur) dan kepada-Nya lah semua akan kembali, mendapatkan balasan kebaikan atau keburukan) (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Abu Daud)

Memakai baju juga mengucap pujian,

Alhamdulilla alladzi kasaani hadza tsauba wa rozaqoniihi min ghoiri hauli minni walaa quwwah, segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian ini dan memberikan rizki berupa pakaian ini tanpa daya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Daud)

Ketika selesai makan dan minum memuji Rabb, Rasul bersabda,

Sesungguhnya Allah (ridha) sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum.” (HR. Muslim)

Mengucapkan hamdalah merupakan ukuran dan setiap kesyukuran akan menambahkan kenikmatan, sebagaimana firman Allah, la in syakartum la aziidannakum, kalau kalian bersyukur maka sungguh pasti akan aku tambahkan kepada kalian (nikmat). (QS. Ibrahim: 7) bahkan pujian yang diucapkan setelah makan dan minum bisa mendatangkan keridhaan Allah kepada kita, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

 

Tetap Memuji

Ucapan hamdalah tidak mesti diucapkan karena didahului kenikmatan. Rasulullah mencontohkan kepada kita, apa yang mesti kita ucapkan bila datang suatu perkara menyenangkan atau sebaliknya.

Keadaan Nabi adalah kalau mendekati perkara yang mengembirakan maka beliau mengucap; segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatannya sempurnalah amal shaleh, dan bila mendapati perkar ayang tidak disukai beliau berkata, segala puji bagi Allah pada setiap hal dan keadaan.” (HR. Ibnu Sunny, al Hakim dan dishahihkan al Albani)

Musibah yang menimpa orang lain pun bisa membuat kita memuji kepada Allah, karena Allah telah menghindarkan ujian dan musibah itu dari diri kita, yaitu dengan mengucapkan:

Alhamdulillahillaadzii ‘Aafaanii mimmaabtalaaka bihi wa fadhalanii ‘alaa katsiirin mimman khalaqa tafdhilan (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diberikan kepadamu, dan melebihkanku atas kebanyakan orang yang dia ciptakan). (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Setiap musibah yang menimpa kita bisa jadi itu adalah kebaikan dan akan menjadi investasi kebaikan yang abadi kenikmatannya meski di dunia sebentar saja kita bersedih dan susah. Lagi-lagi lisanlah yang menentukan, sebagaimana hadits Abu Musa al Asy’ari

Dari Abu Sinan ia berkata; Aku menguburkan anakku, dan saat saya masih di kuburan, Abu Thalhah menarik tanganku lalu mengeluarkanku (dari kuburan) lalu dia berkata, “Maukah kamu akau berikan  kabar gembira? Aku menjawab, “Ya.” Dia berkata, adh Dhahak bin Abdurrahman telah berkata kepadaku dari Abu Musa al Asy’ari ia berkata; Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman: ‘Wahai malakul maut engkau telah mencabut nyawa anak hamba-Ku, engkau telah mencabut nyawa penyejuk mata dan buah hatinya? Malaikat menjawab: ‘Ya.’ Allah bertanya” apa yang dia katakan? Malaikat Menjawab: Dia memuji-MU dan mengucapkan istirja’ (INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI RAAJI’UN).’ Allah befirman: ‘Buatkanlah untuknya suatu rumah di surga dan namakanlah rumah tesebut dengan ‘Baitul Hamd’ (Rumah pujian) (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Semoga lisan kita bisa dihiasi dengan hiasan iman, yaitu menjadi al-Hammaduun, yang banyak memuji Allah baik di waktu luang maupun sempit baik mendapat nikmat maupun rasa sakit. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah arrisalah edisi 162 hal. 62-63