Perjalanan Dakwah ke Suku Togutil Pedalaman Halmahera

0

Pada bulan Syawal 1438 H, Majelis Dakwah Islam Indonesia atau Madina dengan salah satu da’inya Ust. Rofiq Faizin, berhasil menembus hutan Halmahera dan bertemu dengan suku Togutil yang berada di daerah Patlian, Kec. Maba Utara, Kab. Halmahera Timur.

Lokasi dimana suku togutil berada

Suku Togutil merupakan suku yang sampai sekarang tetap bertahan tinggal di hutan belantara Halmahera. Dengan rumah sederhana tanpa dinding dan beratap daun woka. Diantara mereka pun masih banyak yang memakai sabeba, meski sebagian sudah memakai pakaian biasa. Togutil sendiri memiliki arti “suku yang hidup di hutan” atau dalam bahasa Halmahera pongana mo nyawa.

Makanan keseharian mereka adalah sagu, pisang mentah yang dibakar, kelapa, kasbi atau singkong, batata dan ikan. Dan tidak makan sampai dua hari, bagi mereka itu suatu hal yang biasa. Jika selama dua hari itu mereka tidak mendapatkan makanan apa-apa.

Mayoritas diantara mereka tidak mengenal agama maupun siapa yang telah menciptakan mereka. Maka ini sudah menjadi kewajiban kita semua untuk bisa mengenalkan kepada mereka agama yang benar dan siapa yang telah menciptakan mereka.

Perjalanan untuk bisa sampai menemui mereka bukanlah tanpa halangan. Dari melewati lautan, menyebrangi sungai, jalanan yang berlumpur, tidak ada sinyal maupun listrik, kehujanan di tengah hutan, jalan kaki berjam-jam hingga bertemu dengan buaya dan ular.

Perjalanan masuk ke hutan
Tempat dimana buaya bersarang

Suku Togutil termasuk suku yang berwatak keras dan rasa curiganya sangat tinggi. Setiap bertemu dengan pendatang, mereka mengganggap pendatang tersebut ingin membunuh mereka. Jadi tentu mereka akan waspada dan bisa juga menyerang duluan dengan panah, tombak maupun parang. Maka jangan sekali-kali masuk ke Tugotil sendirian. Bisa-bisa pulang tinggal nama.

Suku Togutil ini saat ini jumlahnya masih sekitar ribuan yang tersebar di hutan Halmahera Timur dan Halmahera Tengah. Mereka hidup berkelompok, berpindah-pindah dan tinggal tidak jauh dari sungai. Suku Togutil tidak memiliki kepala suku. Hidup berkelompok sesuai dengan hubungan kekeluargaan.

Antara satu kelompok suku Togutil dengan kelompok yang lain tak jarang mereka saling menyerang. Rumah mereka yang tanpa dinding bukan tanpa alasan. Karena dengan tanpa dinding, mereka bisa lebih waspada jika ada yang datang mengganggu. Dan di atap rumah woka mereka, biasanya terselip parang, panah maupun tombak untuk berjaga-jaga.

Pemerintah daerah pernah membuatkan perumahan untuk mereka. Rata-rata rumah di Maluku Utara beratap kan dengan seng. Ketika hujan datang, orang-orang dari suku Togutil ini kabur kembali masuk ke Hutan. Mereka mengira sedang diserang. Padahal itu hujan, karena beratapkan dengan seng maka suaranya agak sedikit keras.

Dan ada juga seorang da’i yang ingin membawa salah seorang anak suku Togutil ke Ternate untuk dibina dan diberi ketrampilan. Namun sama ayahnya, ustadz tersebut dikejar-kejar dengan parang yang terhunus. Karena memang mereka beranggapan setiap yang dibawa keluar dari hutan pasti akan dibunuh. Padahal tidak. Nah persepsi inilah yang membuat kesulitan tersendiri dalam berdakwah ke suku Togutil.

Singkat cerita, setelah tiga bulan dibina di Ternate anak suku Togutil tadi menjadi muallaf. Yang semula bernama Bui, kini menjadi Hamzah. Sekarang Hamzah setiap shalat lima waktu pasti pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat. Yang semula tidak pernah mandi, sekarang setiap hari pasti mandi.

Temapat dimana keluarga Hamzah berada

Akhirnya Hamzah dibawa kembali pulang untuk menemui keluarganya di Hutan. Melihat Hamzah kembali pulang dalam keadaan hidup dan terlihat lebih bersih. Kini ayahnya baru sadar bahwa anggapan itu ternyata salah. Dan kemudian hari ayahnya Hamzah beserta ibu dan adik-adiknya mengikuti jejak Hamzah menjadi seorang muallaf.

Berdakwah ke suku Togutil tidaklah mudah. Selain mereka berbahasa Tobelo yang tidak setiap dari kita mengerti, medan yang sulit ditempuh, juga karena wataknya yang keras dan rasa curiganya sangat tinggi. Tetapi dengan pertolongan Allah dan kesungguhan kita dalam berdakwah, InsyaAllah lambat laun mereka akan menyambut seruan dakwah kita.

Rhofiq Faizin melaporkan dari Indonesia Timur.

#DakwahRamadhan
#DakwahPedalaman
#PengirimanDaiRamadhan
#DaiMadina

Mengarungi lautan dengan kapal bodi
Jalan berlumpur
Di sekitar sungai seperti inilah suku Togutil berada
Digubuk seperti inilah mereka tinggal
Gubuk beratapkan daun woka dan beralaskan tanah
Isi dari tunas kelapa atau Tombong Kelapa diantara makanan suku Togutil
Pisang mentah yang dibakar juga menjadi makanan keseharian suku Togutil
Di Desa Patlian inilah yang menjadi persinggahan sebelum masuk ke hutan menjumpai suku Togutil. Desa kecil, listrik cuman pada malam hari dan tidak ada sinyal telfon sama sekali.