Memandu dengan ilmu

Perjalanan Dakwah ke Suku Togutil Pedalaman Halmahera

0

Dalam rangakain program dakwah pedalaman,  Madina berhasil menembus hutan Halmahera dan bertemu dengan suku Togutil yang berada di daerah Patlian, Kec. Maba Utara, Kab. Halmahera Timur.

Suku Togutil merupakan suku yang sampai sekarang tetap bertahan tinggal di hutan belantara Halmahera. Dengan rumah sederhana tanpa dinding dan beratap daun woka. Dan diantara mereka pun masih banyak yang memakai sabeba, meski sebagian sudah memakai pakaian biasa. Togutil sendiri memiliki arti “suku yang hidup di hutan” atau dalam bahasa Halmahera pongana mo nyawa.

Makanan keseharian mereka adalah sagu, pisang mentah yang dibakar, kelapa, kasbi atau singkong, batata dan ikan. Dan tidak makan sampai dua hari, bagi mereka itu suatu hal yang biasa. Jika selama dua hari itu mereka tidak mendapatkan makanan apa-apa.

 

Mayoritas diantara mereka tidak mengenal agama maupun siapa yang telah menciptakan mereka. Maka ini sudah menjadi kewajiban kita semua untuk bisa mengenalkan kepada mereka agama yang benar dan siapa yang telah menciptakan mereka.

Perjalanan untuk bisa sampai menemui mereka bukanlah tanpa halangan. Dari melewati lautan, menyebrangi sungai, jalanan yang berlumpur, tidak ada sinyal maupun listrik, kehujanan di tengah hutan, jalan kaki ber jam-jam hingga bertemu dengan buaya dan ular.

 

 

 

 

 

 

Suku Togutil termasuk suku yang berwatak keras dan rasa mencurigainya sangat tinggi. Setiap bertemu dengan pendatang, mereka mengganggap pendatang tersebut ingin membunuh mereka. Jadi tentu mereka akan waspada dan bisa juga menyerang duluan dengan panah, tombak maupun parang. Maka jangan sekali-kali masuk ke Tugotil sendirian. Bisa-bisa pulang tinggal nama.

Suku Togutil ini saat ini jumlahnya masih sekitar ribuan yang tersebar di hutan Halmahera Timur dan Halmahera Tengah. Mereka hidup berkelompok, berpindah-pindah dan tinggal tidak jauh dari sungai.

Suku Togutil tidak memiliki kepala suku. Hidup berkelompok sesuai dengan hubungan kekeluargaan. Antara satu kelompok suku Togutil dengan kelompok yang lain tak jarang mereka saling menyerang.

Rumah mereka yang tanpa dinding bukan tanpa alasan. Karena dengan tanpa dinding, mereka bisa lebih waspada jika ada yang datang mengganggu. Dan di atap rumah woka mereka, biasanya terselip parang, panah maupun tombak untuk berjaga-jaga.

Pemerintah daerah pernah membuatkan perumahan untuk mereka. Rata-rata rumah di Maluku Utara beratap kan dengan seng. Ketika hujan datang, orang-orang dari suku Togutil ini kabur kembali masuk ke Hutan. Mereka mengira sedang di serang. Padahal itu hujan, karena beratap kan dengan seng maka suaranya agak sedikit keras.

Dan ada juga seorang Da’i yang ingin membawa salah seorang anak suku Togutil ke Ternate untuk dibina dan diberi ketrampilan. Namun sama ayahnya, ustadz tersebut di kejar-kejar dengan parang yang terhunus. Karena memang mereka beranggapan setiap yang dibawa keluar dari hutan pasti akan dibunuh. Padahal tidak, nah persepsi inilah yang membuat kesulitan tersendiri dalam berdakwah ke suku Togutil.

Singkat cerita, setelah tiga bulan dibina di Ternate anak suku Togutil tadi menjadi Muallaf. Yang semula bernama Bui, kini menjadi Hamzah. Sekarang Hamzah setiap shalat lima waktu pasti pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat. Yang semula tidak pernah mandi, sekarang setiap hari pasti mandi.

 

Akhirnya Hamzah dibawa kembali pulang untuk menemui keluarga nya di Hutan. Melihat Hamzah kembali pulang dalam keadaan hidup dan terlihat lebih bersih. Kini ayahnya baru sadar bahwa anggapan itu ternyata salah. Dan Insyaallah, dalam waktu dekat ayahnya Hamzah beserta ibu dan adik-adiknya akan mengikuti jejak Hamzah menjadi seorang Muallaf.

Berdakwah ke suku Togutil tidakkah mudah. Selain mereka berbahasa Tobelo yang tidak setiap dari kita mengerti, medan yang sulit ditempuh, juga karena watak nya yang keras dan rasa curiganya sangat tinggi. Tetapi dengan pertolongan Allah dan kesungguhan kita dalam berdakwah, InsyaAllah lambat laun mereka akan menyambut seruan dakwah kita.

 

Rofiq Faizin.

Da’i Madina melaporkan dari Indonesia Timur.