PERNYATAAN SIKAP MADINA ATAS PENGHAPUSAN ISTILAH KAFIR

0

 PERNYATAAN SIKAP MADINA ATAS PENGHAPUSAN ISTILAH KAFIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد الله والصلاة والسلام على رسول لله وعلى آله وأصحابه ومن واله

 

Kaum muslimin yang dirahmati Allah ta’ala. Hari ini kembali ramai isu istilah KAFIR yang diusulkan diganti menjadi NON-MUSLIM.

Hal ini muncul dari hasil MUNAS (Musyawarah Nasional) NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Muda Al Azhar, Banjar Jawa Barat Kamis (28/02/2019).

Dalam dalam kesempatan ini kami akan memberikan tanggapan terhadap hal ini dalam beberapa poin berikut ini:

  1. Setiap muslim menyakini bahwa kata kafir dalam Islam merupakan Istilah baku. Bahkan dalam Al Qur’an banyak disebutkan kata Kafir dalam banyak turunannya hingga di ratusan ayat. Tentu kita meyakini bahwa Allah memiliki maksud, tujuan serta hikmah di balik istilah-istilah yang Ia sebutkan dalam Al Qur’an. Dalam Al Qur’an kita mengenal istilah mukmin dan kafir. Istilah Kafir sendiri memiliki arti menghalangi, menutupi ataupun menolak, para ulama sepakat makna makna kafir adalah sebutan untuk orang yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, atau orang yang menolak dakwah Rasulullah shallahu’alaihi wasallam, baik dia berasal dari Ahlul Kitab, Majusi atau Musyrik dan istilah ini sudah ada sejak 14 abad silam. Sehingga tidak ada hak bagi siapapun untuk mengubah istilah yang telah baku ini.
  2. Kami memandang bahwa usulan ini merupakan upaya orang liberal, munafik serta orang-orang kafir sebagai bentuk permusuhan abadi mereka terhadap agama Islam untuk mengaburkan batasan-batasan antara keimanan dan kekafiran. Padahal Islam telah mengatur batasan-batasan tersebut dengan sangat jelas. Syaikh Sa’id Wahf Al Qahthani menyebutkan dalam kitab Al Wala’ wal Bara’, “Kita sedang berada di satu masa dimana seorang muslim malu menyebut orang kafir dengan sebutan orang kafir.” Tujuan dari upaya ini adalah merusak aqidah terutama dalam adalah al wala’ wal bara’ sehingga orang muslim membenci dan alergi terhadap ajarannya sendiri.
  3. Islam memiliki konsep yang jelas dalam masalah penyematan istilah kafir, hal ini terdapat dalam pembahasan Dhawabit Takfir (Aturan Vonis Kafir) bukan dilakukan tanpa aturan. Sehingga Islam mengafirkan orang-orang yang disebut Allah dan Rasulnya sebagai orang kafir, meskipun orang kafir tidak terima atau merasa keberatan dengan istilah ini, hingga kapanpun istilah kafir akan senantiasa melekat pada diri mereka hingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
  4. Penyematan istilah kafir bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bukan bentuk diskriminasi. Sebab Allah telah menetapkan banyak aturan kaitannya hubungan dengan orang kafir, di antaranya orang muslim masih diperbolehkan untuk berbuat baik, menolong, berbuat adil, melakukan transaksi jual beli dan lainnya dengan orang kafir selama tidak memerangi orang beriman.
  5. Kami berpendapat bahwa usulan untuk mengubah istilah kafir ini bukan sebagai bentuk toleransi dalam Islam. Justru ini merupakan contoh sikap toleransi yang di luar batas alias toleransi kebablasan.

 

Ketua MADINA

Ust. Yazid Abdul Alim, Lc