Memandu dengan ilmu

Pinjaman Yang Akan Kembali

0

 

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

 

Imam al-Qurthubi meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, ia menuturkan, “Ketika ayat (yang artinya), “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik(menafkahkan hartanya di jalan Allah),” Abu Dahdah bertanya, “Sesungguhnya tebusanmu adalah ayah dan ibuku wahai Rasulullah! Apakah Allah menerima pinjaman dari kita, padahal Dia sangat tidak membutuhkan pinjaman?” Nabi menjawab, “Ya, Dia ingin memasukan kalian ke jannah dengan pinjaman itu.” Abu Dahdah berkata, “Sekiranya aku meminjamkan suatu pinjaman kepada Rabbku, apakah Dia memberikan jaminan Jannah untukku dan bagi anakku Dahdah? Jawab Nabi, ya. Lalu Abu Dahdah berkata, “Jika demikian, maka ulurkanlah tangan Anda kepadaku.” Lalu Abu Dahdah berkata,

“Sesungguhnya aku memiliki dua bidang kebun, yang satu ada di kampung Safilah dan yang satu lagi ada di kampung ‘Aliyah; sungguh hanya itu yang aku miliki, dan aku telah berbulat hati untuk meminjamkannya kepada Allah.” Rasulullah bersabda, “Mengapa tidak salah satunya saja engkau pinjamkan kepada Allah, dan yang satu lagi untuk keperluan hidupmu dan keluargamu.” Abu Dahdah berkata, “Jika begitu, maka aku menjadikan engkau sebagai saksi wahai Rasulullah, bahwasannya yang terbaik dari kedua kebunku itu yang aku pinjamkan kepada Allah, yang kebun berisikan 600 pohon kurma.” Lalu Rasulullah bersabda, “Jika begitu, Allah akan memberikan balasan Jannah.”

Lalu Abu Dahdah pulang menjumpai istrinya Ummi Dahdah yang sedang berada di kebun bersama anak-anaknya bernaung di bawah pohon kurma; Abu Dahdah berkata, “Rabbku telah  menunjukanmu ke jalan yang lurus, yaitu jalan kebaikan dan kebenaran; aku telah menjadikan kebun yang ada di Wadad sebagai pinjaman untuk selama-lamanya. Aku telah meminjamkannya kepada Allah dengan seulus hati. Bukan pula karena ingin pujian atau sanjungan. Melaikan karena harapan balasan berlipat ganda di akhirat kelak.”

Lalu Ummu Dahdah menyahut, “Beruntunglah jual belimu! Semoga Allah selalu memberkahi apa yang yang engkau beli.” Kemudian Ummu Dahdah menemui anak-anaknya dan mengeluarkan segala apa yang di dalam mulut mereka dan tangan mereka, serta membawa mereka ke kebun yang satunya.”

Begitulah sahabat Nabi merespon tawaran yang menggiurkan dari Allah. Memang menakjubkan perniagaan yang Allah tawarkan, dan alangkah menajubkan cara Allah menawarkan perniagaannya kepada kita.

Allah menghasung orang beriman untuk bersedekah dengan kalimat tanda tanya ‘Siapakah yang mau memberi pinjaman’, bukan dengan kata perintah ‘berikanlah pinjaman!’. Ini merupakan bahasa yang sangat halus, di mana Allah menjaga perasaan orang beriman agar tidak merasa terbebani, dan agar mereka mau mengeluarkan sedekah dengan sukarela.

Allah juga mengistilahkan sedekah dengan bahasa “Memberikan pinjaman kepada Allah.” Padahal orang beriman mengetahui dan menyakini bahwa jiwa dan hartanya, semua milik Allah, sedangkan manusia yang diberi pinjaman oleh Allah. Akan tetapi Allah memberikan penghargaan atas kepemilikian manusia, sekaligus menyentuh nurani orang beriman agar merasakan betapa hebatnya nilai sedekah, hingga Allah membahasakan dengan pinjaman dari manusia kepada Allah. Kesan ini yang mendorong sahabat Abu Dahda bertanya, “Apakah Allah menerima pinjaman dari kita, padahal Dia sangat tidak membutuhkan pinjaman?” dan ini pula memotivasi beliau untuk memberikan pinjaman kepada Allah.

Tidak hanya menggunakan bahasa penawaran yang paling halus dan menyentuh, Allah juga memberikan jaminan untuk memberikan ganti bagi siapapun yang mau bersedekah. Ini bisa kita lihat dari dua hal.

Pertama, Allah menggunakan istilah pinjaman. Ketika Allah meminjam sesuatu kepada orang yang beriman, berarti Dia pasti akan mengembalikan pinjamannya. Berbeda halnya dengan istilah meminta atau menyuruh, yang tidak ada konsekuensi untuk mengembalikan kepada pemiliknya.

Kedua, bahkan Allah berjanji melipatgandakan pinjaman-Nya dengan kelipatan yang banyak.

Tentang seberapa banyak kelipatan yang Allah berikan, sebagaian ulama menafsirkan dengan ayat yang lain,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan olehnya) orang-orang yang mengeluarkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih, yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Tidak disebutkan secara pasti kapan dan dimana Allah memberikan gantinya. Sehingga bisa bermakna umum: Allah memberikan ganti yang lebih baik di dunia dan di akhirat, wallahu a’lam.

Maka, jika setelah tawaran yang begitu halus dan menyentuh dari Allah tersebut tidak pula menggerakkan hati seseorang untuk bersedekah, maka ada dua sebab yang memungkinkan. Apakah dia orang-orang yang benar-benar bakhil dan kikir, ataukah dia tidak percaya dengan jaminan yang Allah janjikan, dan ini menjadi bukti kelemahan imannya. Karena itu Nabi menyebutkan, “Sedekah itu adalah burhan (bukti).” Yakni bukti akan ketulusan imannya.

Hanya saja, tatkala Allah mengistilahkan sedekah dengan ‘qardhan’ atau pinjaman, Allah menambahkan kata ‘hasanan’ yang berarti baik sebagai sifat pinjaman yang akan diberi ganti lebih baik oleh Allah. Ibnu Qayyim dalam Miftah Daaris Sa’adah menyebutkan bahwa sedekah disebut sebagai ‘qardhan hasana’ atau pinjaman yang baik.

Pertama, berasal dari harta yang baik dan halal, bukan dari  harta rendahan yang ia miliki atau harta yang buruk (haram).

Kedua, hendaknya sedekah dikeluarkan dari jiwa yang baik, di mana tatkala mengeluarkan sedekah hanya mengharapkan keridhaan Allah.

Dan yang ketiga, hendaknya sedekah tidak disertai dengan kata-kata yang menyakitkan, tidak pula mengungkit-ungkit pemberikan. Semoga Allah menyingkirkan sifat kikir di hati kita. Amin.

Sumber: majalah ar risalah edisi 134