Memandu dengan ilmu

Pintu Kebaikan Dari Mengerjakan Sampai Meninggalkan

0

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ الله أَيُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ الإِيْمَانُ بِاللهِ وَالجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِهِ قَالَ قُلْتُ أَيُّ الرِقَابِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ أَنْفُسَهَا عِنْدَ أَهْلِهَا وَأَكْثَرُهَا ثَمَنًا قَالَ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ ؟ قَالَ تُعِيْنُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لِأَخْرَقَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعِفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ ؟ قَالَ تَكُفُّ شَرَّكَ عَنْ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ

Abu Dzar berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Amalan apakah yang paling utama? ‘Rasulullah menjawab, “Beriman kepada Allah dan berjihad fisabilillah.” Aku bertanya, “Hamba sahaya yang bagaimanakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab: “Hamba sahaya yang paling baik menurut pemiliknya  dan paling mahal harganya.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak bisa mengerjakannya?” Rasulullah menjawab: “Kamu bisa membantu orang yang berkerja  atau berkerja untuk orang yang tidak memiliki pekerjaan (menciptakan pekerjaan untuk orang yang tidak berkerja).” Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu jika aku tidak mampu melakukan sebagian dari amalan? ‘Rasulullah menjawab: “Kamu hendaklah menghentikan kejahatanu terhadap orang lain karena hal itu merupakan sedekah darimu kepada dirimu.”


 

Sahabat Abu Dzar nama aslinya adalah Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu. Beliau termasuk sahabat yang masuk Islam di awal dakwah Nabi di Makkah. Ketika itu Rasulullah memerintahkan Abu Dzar kembali ke Kaumnya dan setelah mendengar Rasulullah berhijrah, Sahabat Abu Dzar pun hijrah dan melazimi Rasulullah di Madinah dan berjihad bersana Nabi Muhamad shalallahu ‘alahi wasallam.

 

Amalan Utama Setelah Iman Adalah Jihad

Para sahabat bertanya kepada Nabi tentang amalan yang paling utama untuk dilakukan, mereka sangat ingin tahu dan ingin sesegera mungkin melakukannya, tidak hanya sahabat Abu Dzar yang bertanya tentang amalan yang paling mulia, sahabat Ibnu Mas’ud juga pernah menanyakan dan mendapat jawaban yang berbeda, yaitu shalat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan berjihad fisabilillah. Rasulullah lebih mengetahui kenapa jawabannya berbeda, sesuai dengn kondisi penanya dan sesuai dengan keadaan saat itu.

Tidak diragukan lagi jihad fisabilillah merupakan amalan mulia, sebagaimana disebutkan dalam hadits, amalan paling mulia setelah iman adalah jihad fisabilillah. Dan tentunya jika jihad hukumnya menjadi fardhu ‘ain maka ia lebih utama untuk didahulukan dari kewajiban yang lain, misalnya seperti haji dan bakti kepada orang tua (meminta ijin pergi berjihad), hal ini karena kemanfaatan jihad lebih banyak; yaitu penyelamatan agama, darah, kehormatan, negara dan harta. Adapun dalam kondisi fardhu kifayah, maka tentunya berbakti kepada orang tua dan haji (yang wajib) lebih utama untuk dikerjakan.

 

Yang Paling Berharga Dan Mahal Harganya

Kemudian Abu Dzar bertanya tentang budak yang mana yang lebih utama untuk dibebaskan, maka Rasulullah menjawab budak yang paling dicintai tuannya dan paling mahal harganya. Mungkin kita tidak menjumpai budak saat ini, namun kita bisa mengambil faedah dari kalimat Rasulullah; “Paling dicintai dan paling mahal harganya.” Yaitu dalam shadaqah, para sahabat sudah mempraktekkan kalimat Rasulullah ini, yaitu menginfakkan harga yang paling dicintainya sesuai dengan firman Allah:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Abu Thalhah ketika mendengar ayat ini langsung menginfakkan kebun yang paling dicintainya, begitupula sahabat Abdullah bin Umar, jika ada harta yang membuatnya senang dan ta’jub maka diinfakkan.

 

Membantu Orang Yang Berkerja Atau Menyediakan Pekerjaan

Kadang orang yang sudah berkerja penghasilannya belum mencukupi, dan ia malu untuk meminta meski sebenarnya sangat membutuhkan, orang-orang tidak tahu dan melalaikannya. Maka membantu orang yang masturul hal (tidak diketahui orang bahwa ia membutuhkan) lebih utama daripada membantu orang yang meminta-minta dan manusia sudah tahu kalau ia memang butuh bantuan (karena sudah banyak yang membantu). Makanya (wallahu a’lam) Rasulullah mendahulukan i’anatus shani’ (orang yang berkerja) dari pada ghairu shani’ (al-Akhraq), orang bodoh yang tidak mempunyai pekerjaan.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Orang miskin bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang banyak, lalu peminta itu diberi sesuap dua suap, atau sebutir dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, “kalau begitu, seperti apakah orang yang miskin itu?” beliau menjawab, “Orang miskin sesungguhnya ialah mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk menutupi kebutuhannya, namun keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bersedekah padanya, dan tidak pula meminta-minta  ke sana ke mari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membantu orang yang berkerja dan orang yang tidak mempunyai pekerjaan haruslah dengan niatan lillahita’ala sehingga perbuatannya membuahkan pahala di sisi Allah ta’ala.

 

Bershodaqoh Kepada Diri Sendiri

Meninggalkan keburukan yang bersumber dari diri merupakan perbuatan yang bisa mendatangkan pahala, syaratnya diniatkan lillahita’ala, mengharap balasan serta menjauh dari ancaman, serta dilakukan karena memenuhi perintah Allah, sebagai upaya mendekat diri kepada-Nya.

Setelah berbagai perbuatan kebaikan yang banyak tidak bisa dilakukan karena sebab tertentu, maka yang paling bisa dilakukan adalah dengan meninggalkan keburukan yang bersumber dari diri kita. Karena hal ini bisa dilakukan oleh semua orang. Itulah mengapa (wallahua’lam) Rasulullah menyebutkan di urutan yang terakhir meski meninggalkan keburukan hukumnya wajib.

Sumber: majalah arrisalah edisi 165