Memandu dengan ilmu

Pohon Kurma dan Orang Mukmin

0

                                   POHON KURMA DAN ORANG MUKMIN

عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْماً لِأَصْحَابِهِ أَخْبِرُوْنِيْ عَنْ شَجَرَةٍ مِثْلُهَا مَثَلُ المُؤْمِنِ فَجَعَلَ القَوْمُ يَذْكُرُوْنَ شَجَراً مِنْ شَجَرِ البَوَادِي  قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَلْقَي فِيْ نَفْسِيْ أَوْ رُوْعِيَ أَنَّهاَ النَّخْلَةُ فَجَعَلْتُ أُرِيْدُ أَنْ أَقُوْلُهَا فَإِذَا أَسْنَانُ القَوْمُ فَأَهَابُ أَنْ أَتَكَلَّمَ فَلَمَّا سَكَتُوْا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ

Dari Mujahid dari ibnu Umar berkata : Rasulallah bertanya kepada para sahabat beliau pada suatu hari:  “Beritahukanlah padaku tentang sebuah pohon, perumpamaannya sama seperti orang mukmin.” Orang- orang menyebut  salah satu pepohonan gurun lalu Ibnu Umar berkata, Hatiku mengatakan –atau mempertimbangkan pohon tersebut adalah pohon kurma, aku ingin mengatakannya tapi mereka semua orang-orang tua, aku segan berbicara. Saat aku diam, Rasulallah bersabda: “Itu adalah pohon kurma.” (HR.Bukhari dan Muslim)

=======================

Mujahid Rahimahullah, seorang tabi’in fuqahanya Makkah pernah menemani sahabat Abdullah bin Umar safar menuju Madinah, dalam perjalanan itu beliau mendapat satu hadits dari sahabat Abdullah bin Umar, haditsnya adalah kisah beliau ketika masih berusia 10 tahun, dan beliau ketika itu sudah duduk bermajelis bersama Rasulallah di temani bapaknya, Umar bin Khattab.                                                 

HIKMAH :

Menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menyiapkan anak kita di usia 10 tahun sudah siap bermajelis ilmu di majelis para ulama. Bila anak kita hari ini masih belum tenang pada usia tersebut dan belum siap mendengarkan ilmu dengan orang-orang dewasa maka ada kesalahan dalam pendidikan anak kita. Apakah sistem pendidikannya atau cara mendidiknya. Dan lebih salah lagi kalau kita, sebagai orang yang sudah dewasa tapi tidak memiliki jadwal rutin untuk hadir dalam majelis ilmu. Belajar pun bisa di dapat dengan mendengarkan ilmu di perjalanan bersama ahli ilmu.

Ketika beliau duduk bersama Rasulallah didatangkan kepada beliau jummaaru nakhlin, jantung pohon kurma {daging dari cabang pohon kurma yang lunak, manis dan berwarna putih, yang keluar darinya (bakal) buah kurma}, kemudian beliau memakannya dan bertanya kepada para sahabatnya, “Beritahukanlah padaku tentang sebuah pohon, perumpamaannya sama seperti orang mukmin.”

Imam Bukhari dalam riwayat yang lain menyebutkan dengan lafal yang lain,

“Sesungguhnya di antara pohon ada suatu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim.”

“Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada satu jenis pohon yang keberkahannya seperti seorang muslim.”

 

HIKMAH :

Rasulullah ingin memberikan pelajaran kepada para sahabatnya dengan cara bertanya dan memberikan permisalan, cara ini (Tanya jawab) adalah cara yang bisa menarik perhatian siapa saja yang ingin mendapatkan ilmu, dan dengan permisalan mayangka akan mempermudah murid untuk menghafal ilmu tersebut.

Pohon yang ditanyakan oleh Rasulallah ini adalah suatu pohon yang sangat penting untuk selalu di perhatikan oleh seorang mukmin, karena ia menyerupai sifat-sifat orang mukmin sehingga dengan memperhatikan sifat pohon ini maka ia bisa meniru dan mengupayakan ada pada dirinya.

Beberapa sahabat ada yang menjawab dan menyebut salah satu pepohonan gurun, Abdullah bin Umar melihat Abu Bakar dan Umar diam dan tidak menjawab, dalam hati Abdullah bin Umar terbetik bahwa pohon yang ditanyakan Rasulallah adalah pohon kurma, beliau memperhatikan jammaru naklin yang barusan dimakan Rasulallah, namun karena beliau adalah terkecil di antara sahabat yang hadir dan melihat Abu Bakar dan Umar tidak menjawab maka beliau segan untuk mengatakannya. Dan ternyata ketika tidak ada jawaban yang benar, dan sahabat bertanya, beritahukan kepada kami pohon apakah itu ya Rasulallah, maka Rasulallah menjawab, “itu adalah pohon kurma.”

 

HIKMAH

Termasuk adab dalam mencari ilmu adalah memuliakan orang tua dan tidak mendahului mereka dalam berkata, duduk bermajelis ilmu tidak hanya menghadirkan jasad, namun menghadirkan akal dan jasad secara bersamaan. Ilmu tidak mesti ada pada orang yang dewasa, kadang Allah membukakan ilmu itu pada anak kecil, jawaban sahabat yang salah dan sahabat yang diam mendakan bahwa setinggi apapun ilmu seseorang bisa jadi ia tidak tau dan salah dalam suatu masalah, namun tidak menjadikan seseorang meninggalkan gurunya karena kesalahan yang terjadi.

Allah subhanahu wata’ala menyebutkan kurma dalam Al-Quran, bahkan mengulangnya sampai 20 kali pada ayat yang berbeda. Menguatkan betapa pentingnya manusia memperhatikan apa saja yang berkenaan dengan kurma. Bahkan Allah juga menjadikan pohon kurma sebagai permisalan kalimat tauhid dalam surat Ibrahim ayat 24-25.

Pohon yang berbarakah semua bagiannya bisa di gunakan, keberadaannya selalu memberikan kemanfaatan dan menambah kebaikan, sepanjang tahun, baik di musim panas (dengan buahnya dan naungannya dari panas) maupun di musim dingin (menahan angin, kuat tidak condong terterpa angin dan hawa dingin). Daunnya tidak jatuh pada musim apapun sebagaimana daun dari pohon yang lain. Buahnya bisa di makan dan dimanfaatkan sebelum matang, ketika basah maupun ketika kering. Akarnya kuat, cabangnya menjulang tinggi.

Demikian juga mukmin, apa saja yang keluar darinya adalah kebaikan dan kemanfaatan bagi yang lain, sepanjang tahun hidupnya mengingat Allah ta’ala dan berusaha taat kepadaNya, kuat dalam menghadapi panasnya badai syahwat dan dinginnya syubhat. Tiap musim baik keadaannya, kokoh dalam menghadapi kesulitan dunia, saat sakit dan sempit bersabar dan saat sehat dan penuh nikmat bersyukur. Tidak menjatuhi keluarga dan saudaranya dengan ‘daun yang kering’ akhlak dan perbuatan yang buruk, tapi memberikan senyum harum dan kalimat yang manis. Kokohnya imanya dan tersebar dalam cabang-cabang keshalehan.

Bila dilempar dengan keburukan maka membalas dengan kebaikan, sebagaimana pohon kurma yang di lempari batu menjatuhkan buah yang terbaik lagi manis. Wallahua’lam

(ar risalah: 175)