Pondasi Tauhid Pilar Ma’rifah dan Penompang Iman

0

Syarh Aqidah ath-thahawiyah ke: 41

 

فَمَنْ رَامَ عِلْمَ مَا حُظِرَ عَنْهُ عِلْمُهُ، وَلَمْ يَقْنَعْ بِالتَّسْلِيمِ فَهْمُهُ، حَجَبَهُ مَرَامُهُ عَنْ خَالِصِ التَّوْحِيدِ، وَصَافِي الْمَعْرِفَةِ، وَصَحِيحِ الْإِيمَانِ

(41) Barangsiapa berkeinginan untuk mempelajari ilmu yang terlarang untuk diketahui dan tidak puas memahaminya dengan berserah diri, maka keinginannya akan menghalanginya dari kemurnian tauhid, kejernihan ma’rifah, dan kebenaran iman.

 

Dua macam ilmu

Abu Ja’far ath-Thahawi menerangkan bahwa menurut akidah Ahlusunnah wal Jamaah, ilmu itu ada dua. Ilmu yang diperintahkan dan dibolehkan untuk dipelajari sedetail-detailnya. Dan ilmu yang dilarang dan tidak dibolehkan untuk dipelajari. Misal yang pertama adalah ilmu fiqh, ilmu bahasa, ilmu tentang bumi, ilmu tentang manusia, tentang binatang, tentang tumbuhan, dan lain sebagainya. Sedangkan misal yang kedua adalah ilmu tentang kaifiyah sifat Allah, ilmu tentang hakikat adzab kubur, ilmu tentang perkara ghaib, dan lain sebaginya.

Dengan matan di atas, Abu Ja’far menerangkan bahwa kewajiban kita terhadap ilmu yang terlarang adalah mengimaninya dan mengembalikannya kepada Allah. Kita dilarang mempelajarinya, apalagi mengklaim bahwa kita menguasainya. Siapa saja yang mencari-cari ilmu yang terlarang itu, menurut Ibnu Abil ‘izz, salah seorang ulama yang mensyarah pernyataan Abu Ja’far  ath-Thahawi di atas, sama dengan orang kafir yang disebut oleh Allah di dalam firmannya ,

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)

Orang-orang kafir bertanya dan ingkar, sedangkan orang-orang yang beriman yakin dan taslim kepada Allah. Orang-orang yang beriman menyakini bahwa perumpamaan itu datang dari Allah karena memang semua itu datang dari Allah. Pernyataan mereka ini sama dengan pernyataan mereka saat mendapati ayat-ayat Mutasyabih menurut sebagian mufassir mereka mengembalikan yang Mutasyabih kepada yang Muhkam seraya mengatakan, “Semua dari Allah”. Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘kami beriman kepadanya (ayat-ayat Mutasyabihat), semua itu dari sisi Rabb kami.” (QS. Ali ‘Imran: 7)

Sedangkan tentang sikap orang-orang yang sesat dan di hati mereka ada penyakit, Allah berfirman,

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya.” (QS. Ali ‘Imran: 7)

 

Akibat Tidak Taslim

Saat tidak taslim kepada Rasulullah saw dan manhaj para salaf di dalam memahami perkara-perkara yang kita hanya diperintahkan untuk mengimaninya, seseorang sadar maupun tidak pasti mengajukan pendapatnya atau hawa nafsunya pribadi, atau pendapat dan hawa nafsu orang lain tanpa petunjuk dari Allah. Allah berfirman,

“Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan pengetahuannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Jika sudah demikian seperti yang dinyatakan oleh Abu Ja’far ath-Thahawi pengajuan buruknya itu hanya akan menghalangi dari  kejernihan ma’rifah, kebenaran akidah, dan kebenaran iman. Pada imannya ada lubang, di dalam tauhidnya ada kelemahan dan kekurangan, dan didalam imannya ada kabut. Semua karena dia mencari sesuatu yang terlarang.

Bukankah kita tidak diperbolehkan berpilar dan menggunakan rasio. Tetapi ada perkara-perkara dalam ma’rifah, akidah, dan iman yang bukan merupakan ladang kerja pikiran dan rasio. Ada banyak ladang dan medan kerja pikiran dan rasio di luar ketiganya yang dibolehkan, dan seandainya kita mau mengeksploitasi pikiran dan rasio kita untuknya, pun kita akan kehabisan waktu. Ladang itu adalah ilmu pengetahuan alam, hal-ihwal makhluk, dan lain sebagainya.

Demikianlah, jika kita dilarang melakukan sesuatu, mestinya kita tidak boleh melanggarnya. Saat kita dilarang mencari-cari ilmu tentang kaifiyah sifat-sifat Allah dan hakikat perkara-perkara yang ghaib, sejatinya hal itu karena kita memang tidak akan pernah sampai kesana (selama kita berada di dunia ini). Sekali lagi, jika kita nekat, sungguh, ini adalah sikap awal berpaling kita dari ajaran Rasulullah saw. Dan sejarah mencatat, fakta terbesat dari sesatnya manusia adalah karena mereka berpaling dari ajaran Rasulullah saw dan menyibukan diri dengan pendapat orang-orang Yunani dan pendapat-pendapat yang lain. Dus, taslim kepada petunjuk Nabi saw adalah pondasi tauhid, pilar ma’rifah, dan penopang iman.

 

Sebuah Pesan Terkait dengan Dakwah                  

Jika kita berdakwah atau menyeru umat menuju jalan Allah, maka yang pertama-tama mesti kita siapkan adalah ajakan dan seruan kita untuk mengimani dan menyakini petunjuk Rasulullah saw.  Keimanan dan keyakinan yang diikuti dengan ketundukan dan kesanggupan untuk memanifestasikannya. Keliru jika langkah pertama dakwah kita adalah seruan menuju kepuasan dan kepasrahan akal atau penerimaan konsep dan teori rasional ansich. Sebab kepuasan konseptual jarang jika tidak boleh mengatakan tidak sama sekali mengakibatkan iman dan ketundukan kepada Allah. Allah berfirman,

“Katakanlah (Muhammad), ‘inilah jalan ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru (kalian) kepada Allah dengan bashirah.” (QS. Yusuf: 108)

Jika yang kita inginkan dalam dakwah sekedar memuaskan khalayan bahwa Islam tidak bertentangan dengan ilmu maupun peradaban, kita cukup mengadakan seminar atau symposium, dimana kita dapat memamparkan kesesuaian Islam dengan ilmu pengetahuan dan peradaban, kemudian diadakan dialog dengan waktu yang panjang sampai semua yang hadir terpuaskan dan tidak tersisa lagi pertanyaan. Tetapi hal itu tidak akan membuahkan sesuatu yang kita inginkan sebagaimana kita bisa memuaskan seseorang akan urgensi beriman kepada Allah, bahwa tidak ada jalan selamat dari siksa neraka dan kebahagiaan di dunia dan  di akhirat melainkan dengan mengimani semua yang dibawa oleh Nabi saw.

Tujuan pertama Dakwah bukanlah memuaskan akal. Tujuannya adalah memuaskan keyakinan hati. Dakwah lebih berbicara kepada hati dari pada berbicara kepada akal.

 

Larangan Bicara Tanpa Ilmu

Matan ini, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Abil ‘Izz dan pensyarah yang lain, juga mengisyaratkan supaya kita tidak berbicara tanpa ilmu, baik mengenai Ushuluddin maupun yang lain. Seseorang yang tidak memiliki ilmu tentu tidak tahu manakah perkara yang tidak boleh dipelajari dan manakah pula yang tidak. Dan karenanya bisa-bisa dia terperosok berbicara mengenai perkara yang sebenarnya dia tidak diperkenankan mempelajarinya. Allah berfirman,

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra: 36)

“Di antara manusia ada orang yang membantah Allah tanpa ilmu danm mengikuti para setan yang sangat jahat. (para setan) yang telah ditetapkan bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, maka dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke adzab neraka.” (QS. Al-Hajj: 3-4)

Akhirnya, mari kita ber-taslim kepada petunjuk Rasulullah saw dalam perkara-perkara yang kita tidak dibolehkan mempelajarinya dan janganlah kita bicara tentang berbagai ihwal agama ini tanpa ilmu. Wallahu Muwaffiq.

Sumber: arrisalah edisi 81