Memandu dengan ilmu

Rapuhnya Bangunan Ukhuwah Islamiyah Umat Islam

0

Rapuhnya Bangunan Ukhuwah Islamiyah Umat Islam

Kekuatan sebuah bangunan ditentukan oleh faktor kualitas unsur-unsur penyusunnya. Semakin berkualitas unsur yang dipakai, semakin kokoh sebuah bangunan. Sebaliknya, semakin buruk kualitas bahan, bangunan akan rapuh dan mudah hancur. Begitu juga bangunan ukhuwah Islamiyah, kekokohannya ditentukan oleh kualitas kaum muslimin yang menjadi unsur utama penyusunnya.

Selain kualitas penyusun, untuk mengokohkan bangunan ukhuwah Islamiyah diperlukan juga unsur pengikatnya. Karena sebagus apapun bahan, jika tidak diikat dan disatukan dengan baik maka tidak akan menjadi sebuah bangunan yang sempurna. Dalam ukhuwah Islamiyah, materi penyusunnya adalah kaum muslimin. Sedangkan tali perekat pemersatunya adalah akidah yang benar.

Syaikh Hasan Al-Banna rahimahumullah mendeskripsikan ukhuwah dengan, “Mengikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa dengan ikatan akidah yang merupakan ikatan yang paling kukuh dan paling mahal harganya.”

 

Ukhuwah Islamiyah para sahabat Nabi

Ikatan akidah antara kaum muslimin akan melahirkan rasa kepedulian, tanggung jawab, dan rasa mendahulukan saudara muslim yang lain. Abdullah bin Mas’ud berkisah tentang sebuah kisah yang menggambarkan tentang indahnya bangunan ukhuwah Islamiyah yang dibangun di atas pondasi akidah. Beliau berkata, “Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari orang itu, maka masing-masing mereka berkata, “Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku.”

Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.

Dalam riwayat yang lain pula ditambahkan, “Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula. Maka Ikrimah berkata, “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku. Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata, “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.”

Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorang pun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Begitulah potret kesempurnaan bangunan ukhuwah yang dibangun atas landasan akidah yang benar. Sesungguhnya Islam sangat menekankan persaudaraan dan persatuan. Bahkan Islam itu sendiri datang untuk mempersatukan kaum muslimin, bukan untuk memecah belah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, dalam al-Ushûlus-Sittah pada pokok yang kedua, mengatakan, “Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar (umat Islam) bersatu di dalam agama dan melarang berpecah-belah di dalamnya. Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang sangat terang dan mudah dipahami oleh orang-orang awam. Allah Azza wa Jalla melarang kita menjadi seperti orang-orang sebelum kita yang berpecah-belah dan berselisih dalam urusan agama hingga mereka hancur karenanya.”

Masalah persatuan ini, oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah diangkat sebagai masalah pokok di antara enam pokok yang beliau rahimahullah angkat.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa bangunan ukhuwah Islamiyah yang kita lihat saat ini terlihat begitu sangat rapuh. Kaum muslimin sebagai unsur utama penyusun bangunan ukhuwah berada pada sebuah kadar kualitas yang begitu memprihatinkan. Dampaknya berupa lunturnya rasa kepedulian terhadap saudara muslim yang lain.

Lunturnya kepedulian begitu nampak dengan masa bodohnya mayoritas kaum muslimin terhadap nasib saudara-saudaranya seakidah yang sedang mengalami krisis kemanusiaan. Seperti di Suriah, Iraq, Xinjiang, Myanmar, dan belahan bumi yang lain.

 

Menguji ukhuwah dari musibah umat

Tercatat 35.000 pengungsi asal Suriah yang telah memasuki negara Turki, 76.000 pengungsi menuju benua Eropa, dan akan terus meningkat hampir 2.000 migran per hari. Jumlah tersebut sebenarnya amat sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk muslim yang mencapai 1,4 miliar jiwa yang tersebar di seluruh benua-benua dunia, 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia. Seandainya 30% saja penduduk muslim di dunia ini peduli, maka masalah krisis kemanusian di suriah tidak akan berlarut-larut seperti saat ini.

Fakta di atas jelas sekali menunjukkan tentang rapuhnya bangunan ukhuwah di tubuh kaum muslimin. Padahal jelas sekali Allah SWT berfirman;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Q.S Al-Hujurat:10)

Begitu juga sabda Rasulullah SAW:

“Ibnu Umar meriwayatkan, Rasulullah SAW. bersabda: “Seorang muslim adalah saudara dari seorang muslim (lainnya) dan dia tidak akan memperlakukannya tidak adil atau dia tidak meninggalkannya sendirian (menjadi korban ketidakadilan orang lain) dan barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya”. (HR Bukhari).

(Sumber: globalmoslem.com )