RELA TERPISAH, MENYAMBUT PENGGILAN HIJRAH

0

Abu salamah bin Abdul Asad termasuk orang pertama dan bergegas menyambut perintah Rasulullah untuk berhijrah ke Madinah. Ia juga merupakan orang pertama yang berhijrah dari kekufuran menuju keislaman. Ia dan istrinya, Ummu Salamah, berasal dari kabilah yang sama, dari Bani Makhzum.

Kedudukan mereka yang mulia sebagai keluarga terhormat di Makkah, tidak menghalangi mereka untuk hijrah ke Madinah. Mereka nafikan kelas sosial mereka demi menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya. Abu Salamah, istrinya, dan seorang anaknya pun berangkat menuju Madinah.

Setelah keluar dari batas Kota Makkah, mereka bertemu dengan keluarga Ummu Salamah. Mereka berkata kepada Abu Salamah , “Masalah dirimu, itu adalah urusanmu, tapi bagaimana dengan kerabat perempuan kami ini (Ummu Salamah)? Dengan alasan apa kami membiarkanmu dengan mudah membawanya keluar dari negeri ini?”

Setelah mencoba mempertahankan istrinya, akhirnya Abu Salamah yang seorang diri pun tidak mampu melawan keluarga istrinya itu. Mereka berhasil merebut istrinya itu. Mereka berhasil merebut tali kekang onta Ummu Salamah dan mengambil istri dan anaknya. Lalu berangkatlah Abu Salamah menuju Madinah.

Melihat keadaan demikian, keluarga Abu Salamah tidak bisa menerima perlakuan keluarga Ummu Salamah terhadap kerabat mereka. Mereka mendatangi keluarga Ummu Salamah, lalu berkata, “Kami tidak akan membiarkan anak kami (anak Abu Salamah)  tinggal bersamanya (Ummu Salamah) jika kalian memisahkannya dari ayahnya.” Lalu kedua keluarga ini memperebutkan anak kecil, buah hati Abu Salamah dan Ummu Salamah kedua keluarga saling tarik-menarik memperebutkan sang anak. Sampai akhirnya anak tersebut berhasil direbut dan kemudian dibawa oleh keluarga Abu Salamah. Tinggallah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha  seorang diri di Makkah.

Setelah itu, setiap hari Ummu Salamah keluar menuju tempat perpisahannya dengan sang suami tercinta. Di tempat tersebut ia senantiasa menangis dari pagi hingga sore hari. Teringat akan dua orang yang ia cintai telah dipisahkan darinya secara paksa. Pada malam hari barulah ia pulang menuju rumahnya. Keadaan demikian terus berlangsung hingga satu tahun lamanya.

Rasa sedih yang dialami Abu Salamah yang terpisah dari anak dan istrinya, hidup sendiri di negeri yang asing, duka mendalam yang dialami Ummu Salamah, dan kesedihan yang dialami sang anak yang dipisahkan dari kedua orang tuanya tidak lain dan tidak bukan kecuali disebabkan keimanan mereka kepada Allah, Rabbul ‘alamin. Apakah Allah tidak menyayangi mereka? Demi Allah, merekalah orang-orang yang pertama memeluk Islam yang Allah puji di dalam Al-Qur`an. Allah meridhai mereka. Namun demikianlah ujian. Demikianlah harga surga. Kalau kesuksesan itu mudah, maka semua orang pasti akan berhasil. Rasulullah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal dan ketahuilah bahwa sesungguhnya barang bagangan Allah adalah surga.” (HR. Tirmidzi).

Setelah  satu tahun berlalu, salah seorang paman Ummu Salamah  mulai merasa iba terhadap keponakannya ini. Ia berkata kepada keluarga yang lain, “Tidaklah kalian merasa iba melihat keadaannya? Kalian  pisahkan ia dengan suami dan anaknya.” Setelah beberapa waktu, akhirnya ia berhasil membujuk anggota keluarga Ummu Salamah. Ummu Salamah pun diizinkan untuk menyusul suaminya.

Kemudian Ummu Salamah mendatangi keluarga Abu Salamah. Mengetahui bahwa Ummu Salamah akan pergi ke Madinah, mereka pun memberikan sang anak kepada Ummu Salamah. Saat melihat anaknya, ia pun langsung memeluk sang anak yang sudah terpisah satu tahun lamaya. Kemudian ibu anak itu pun berangkat menuju ke Madinah, padahal keduanya tidak tahu jalan menuju Madinah.

Ketika sampai di daerah at-Tan’im Ummu Salamah berjumpa dengan Ustman bin Thalhah bin Abu Thalhah dari bani Abdur ad-Dar. Ia berkata kepada Ummu Salamah, “Hendaknya pergi kemana wahai putri Abu Umayyah?” Ummu Salamah menjawab, “Aku ingin menyusul suamiku di Madnah.” Ia balik bertanya “Apakah tak ada seorang pun yang mengantarmu?” maka beliau menjawab, “Demi Allah tidak ada kecuali Allah dan Anakku ini.”

Suka rela Utsman bin Thalhah mengantarkan Ummu Salamah sampai di Madinah. Berangkatlah Utsman bin Thalhah dengan memegang tali kendali unta menemani Ummu Salamah ke Madinah. Ummu Salamah menyatakan, “Demi Allah tidak pernah aku berjalan bersama seorang lelaki Arab yang aku lihat lebih memuliakan aku lebih dari yang dia lakukan. Apabila sampai di satu tempat untuk istirahat, ia menjauh dariku hingga aku turun dari untaku. Kemudian barulah ia menyingkirkan untaku dan mengikatnya di pohon, kemudian ia menjauh ke arah satu pohon dan tidur di bawahnya. Apabila tiba waktu berangkat, ia bersegera menuju untaku dan menuntunnya  kepadaku dan ia menjauh sambil berkata, “Naiklah!” apabila aku telah naik dan sudah berada di atas unta, maka ia datang mengambil tali kendalinya dan menuntunnya hingga turun istirahat di satu tempat yang lain. Ia melakukan hal demikian terus-menerus hingga sampai di Madinah. Saat ustman melihat perkampungan Bani  Amr bin Aus di Quba, dia berkata, “Suamimu berada di kampung ini. Masuklah dengan barakah dari Allah!” kemudian Utsman bin Thalhah pun kembali ke Makkah akhirnya Ummu Salamah bisa berkumpul lagi dengan Abu Salamah.

Begitulah perjuangan para sahabat Nabi demi menyelamatkan agama mereka. Harta yang mereka kumpulkan mereka nafikan, kedudukan yang hormat mereka abaikan, bahkan di antara mereka menahan duka terpisah dari orang-orang tercinta. Semoga Allah meridhai mereka.

(M. Sirais Rasyid)

Sumber: Majalah Kalam Dakwah edisi 13 hal. 15-16