Riba Jahiliyah

0

Sebelum datangnya Islam, praktek ribawi telah menyebar di jazerah Arab khususnya di kota Makkah dan Thoif. Dua kota tersebut terletak di tempat strategis dan menjadi pusat perdagaangan. Pada saat itu riba menjadi bagian sector perniagaan seperti halnya transaksi jual-beli. Bukti yang menunjukkan hal itu adalah ketika Allah mengumumkan tentang pengharaman riba dan mencelanya di hadapan manusia, kaum Quraisy dan orang-orang kafir berreaksi dengan mengingkarinya seraya berkata : “Sesungguhnya riba itu seperti jual-beli” [QS. Al Baqoroh: 275]. Namun pada hakikatnya ada pula di antara mereka –khususnya yang memiliki fitrah lurus meskipun menjadi praktisi riba- merasa bahwa praktek riba adalah perkara buruk. Mereka memandangnya dengan pandangan kehinaan. Mereka pun juga menganggap riba sebagai cara terburuk dalam usaha. Sebenarnya mereka pun juga menganggap praktik riba sebagai perkara haram dari sisi agama dan penyimpangan dari sisi etika dan akhlaq.

Bukti dari itu semua adalah ketika rusaknya pagar ka’bah dan kabilah Quroisy berkeinginan untuk merenovasi bangunannya, mereka pun berniat mengumpulkan harta untuk proyek tersebut dengan catatan tidak darihasil riba. Hingga tidak terdapat dalam pembangunan ka’bah dari harta haram. Imam Ibnu Katsir menukil dari Muhammad bin Ishaq perkataannya dalam kitab sirohnya dari Abdullah bin Abi Najih bahwa beliau mengabarkan dari Abdullah bin Shofwan bin Umayyah : bahwa Abu Wahb bin Abid bin Imron bin Makhzum telah berkata : “Wahai seluruh kaum Quroisy janganlan kalian memasukkan ke dalam bangunan ini (ka’bah) kecuali harta-harta kalian yang baik. Tida boleh dimasukkan harta dari hasil zina, jual-beli riba dan harta hasil mendzolimi salah seorang dari manusia”.[1]

Di masa jahiliyyah, praktek ribawi dilakukan dalam beberapa bentuk. Bentuk pertama adalah riba hutang. Yaitu tambahan atas harga penangguhan yang belum terbayar apabila telah jatuh tempo. Berkata Imam Mujahid[2] tentang riba yang dilarang oleh Allah : “Dahulu pada masa jahiliyah seseorang bisa memiliki piutang atas orang lain dengan mengatakan : bagimu ini atau itu jika engkau mengakhirkan pembayarannya dariku, kemudian dirinya pun mengakhirkan waktu (ketika jatuh tempo agar mendapatkan kompensasi keterlambatan pembayarannya.penj).

Berkata Qotadah[3] : “Sesungguhnya riba di masa jahiliyyah adalah ketika seseorang menjual barang kepada orang lain dengan pembayaran yang diakhirkan di waktu yang telah disepakati. Apabila telah tiba jatuh temponya dan pembeli belum bisa membayarnya maka diberikan tambahan harga dan diberikan penanguhan waktu”.[4]

Berkata Zaid bin Aslam : “Sesungguhnya riba pada masa Jahiliyah terjadi dalam dua hal; penggandaan(penambahan harga. pent) dan umur (umur hewan. pent). Seseorang mendapatkan riba tambahan (fadhl) apabila telah tiba tempo pebayaran dan dia pun berkata; engkau mau membayarnya atau ingin menambahkan untukku ? apabila orang tadi memiliki harta untuk membayarnya maka dia pun langsung menunaikannya dan lunas, jika tidak punya maka akan dirubah ke umur binatang onta yang di atas itu, jika (hutangnya) adalah seeokor ont betina yang lagi hamil maka akan dijadikan pembayarannya berupa anak betina dari onta Labun (onta memiliki susu) berusia masuk tahun kedua, kemudian menjadi Hiqqoh (onta yang genap umur tiga tahun dan masuk tahun ke empat), kemudian menjadi JJadz’ah (onta yang genap empat tahun) kesemuanya berjumlah empat ekor, dan begitu seterusnya. Jika hutangnya berupa emas atau perak, apabila tidak bisa membayarnya maka akan digandakan di tahun depannya. Jika masih belum bisa membayarnya maka akan dilipatgandakan lagi di tahun depannya menjadi 200 keping (emas atau perak). Jika belum bisa membayarnya juga maka akan diipatgandakan menjadi 400 keping. Bagi penghutang melipatgandakan atau membayarnya.[5]

Imam Ibnu Jarir[6] berkata ketika menafsirkan firman Allah ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (130)﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta riba berlipat-lipat ganda. Dan takutlah kalian kepada Allah agar kalian beruntung”. (QS. Ali Imron[3]: 130)

Maksud dari ayat tersebut adalah: “Wahai orag-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya janganlah kalian memakan harta riba dalam keilaman kalian setelah Allah memberikan petunjuk kepada kalian sebagaimana dahulu kalian memakannya di masa jahiliyyah kalian. Riba yang dimakan pada masa jahiliyyah mereka dalam bentuk ketika seseorang dari mereka memiliki piutang atas orang lain dalam masa waktu tertentu, apabila telah tiba temponya dia meminta kepada orang yang berhutang, dan orang yang berhutang berkata : “tangguhkanlah untukku waktu dan aku akan menambahkan hartamu”, kemudian keduanya menyepakatinya.

Berkata imam ‘Atho’[7]: Dahulu orang-orang Tsaqif berhutang di kalangan Bani al Mughiroh di masa Jahliyyah. Maka apabila telah tiba jatuh tempo, mereka berkata: kami akan menambahkan harta dengan syarat kalian menangguhkan waktu pembayaran”, maka turunlah ayat QS. Ali Imron ayat 130.[8]

Bentuk kedua adalah pinjaman berbunga dengan pembayaran sekali saat jatuh tempo. Abu Bakar al Jasshos[9] berkata : “Sesungguhnya menjadi perkara yang sudah dimaklumi bahwa riba jahiliyah berupa pinjaman yang diakhirkan pembayarannya dengan tambahan harta sebagai syarat. Tambahan tersebut sebagai kompensasi penangguhan waktu, maka Allah ta’ala menghapuskan transaksi tersebut”.

Di tempat lain, beliau juga berkata: “Riba yang diketahui dan sering dilakukan oleh orang-orang Arab adalah meminjamkan dirham dan dinar dalam waktu tertentu dengan penambahan kadar atas apa yang dipinjam dan disepakati oleh mereka. Inilah riba yang dikenal di kalangan mereka. Oleh sebab itulah Allah berfirman :

﴿وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّه﴾

“Dan apa-apa yang kalian berikan dari riba agar berharap tumbuh di dalam harta manusia maka sesungguhnya (harta itu) tidak tumbuh di sisi Allah”. (QS. Al Ruum[30]: 39)[10]

Imaduddin bin Muhammad al Thobari yang dikenal dengan Balkiya al Hirosi berkata: “Allah ta’ala telah mengharamkan riba yang menjadi tradisi di masa jahiliyyah dari pinjaman berbunga emas dan dirham”.

Bentuk ketiga dari riba jahiliyyah adalah bunga penjualan kredit setiap bulannya, apabila orang yang berhutang belum bisa membayar pada waktu yang telah ditentukan maka akan ditambahkan beban biayanya dan diakhirkan waktu pembayarannya.

Dalam maslah ini imam al Fakhrurroozi berkata: “sesungguhnya riba nasi’ah (karena penangguhan waktu) adalah transaksi yang masyhur di masa jahiliyyah. Mereka terbiasa membayarkan harta atas apa yang mereka ambil setiap bulannya dengan kadar tertentu sementara modal masih tetap ada. Kemudian apabila telah tiba jatuh temponya mereka meminta orang yang berhutang uang pokoknya, jika tidak bisa membayarnya maka mereka akan menambahkan haknya dan memberikan penagguhan waktu. Inilah riba yang sering ditransaksikan di masa jahiliyyah”. [11]

Imam Ibnu Hajar al Haitami berkata : “Dan riba nasi’ah (karena penangguhan waktu) adalah jenis riba yang masyhur dilakukan di masa jahiliyyah. Karena salah seorang dari mereka apabila membayar harga atas apa yang mereka ambil kepada orang lain dalam masa tempo kapan pun setiap bulannya sementara modal awal masih tetap ada. Maka apabila telah tiba jatuh tempo pembayaran akan diminta pembayaran modalny. Jika tidak mampu membayar maka diwajibkan penambahan pembayaran dan diberikan tangguhan waktu. Praktek seperti ini disebut sebagai riba nasiah meskipun dalam waktu yang bersamaan juga masuk dalam kategori riba fadhl. Karena penangguhan waktu adalah tujuan yang dicapai dalam transaksi ini. dan praktek ini paling dikenal oleh masyarakat sekarang ini dan sering terjadi.[12]

Imam al Baidowi[13] berkata: “Dahulu salah seorang dari mereka (orang-orang Arab) meribakan transaksinya sampai batasan waktu tertentu kemudian menambahkan tambahan lain dalam waktu tersebut hingga bisa memperoleh tembahan keuntungan dari orang yang berhutang”.[14]

Dan di antara orang yang paling terkenal bertransaksi dengan cara riba adalah ‘Abbas bin Abdul Mutholib paman Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Kholid bin Walid juga pernah ikut, dahulu perniagaan mereka berdua sering bertransaksi dengan riba. Mereka berdua (Abbas bin Mutholib dan Kholid bin Walid) pernah meminjamkan harta dengan cara riba kepada orang-orang Bani ‘Amr bin ‘Umair dari Tsaqif. Kemudian datanglah Islam, sementara keduanya memiliki harta yang banyak dari hasil riba, lalu beliau menyuruh mereka semua untuk membayarkan hutang modalnya (harga awal) saja tanpa adanya tambahan.

Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah menyampaikan khutbah dalam haji wada’ di ‘Arofah: “Segala sesuatu dari perkara jahiliyyah telah terhapuskan di bawah kedua kakiku dan riba jahiliyah terhapuskan semuanya, dan riba pertama kali yang aku hapuskan adalah riba Abbas bin Abdul Mutholib”.[15]

Begitu pula dengan Utsman bin ‘Affan, beiau dahulu juga termasuk dari orang-orang yang bertransaksi dengan riba. Orang-orang Tsaqif adalah yang paling sering bertransaksi ribawi. Pernah sekali waktu Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bertransaksi dengan mereka dan mensyaratkan agar tidak melakukan praktek riba. Dahulu ada empat orang sekeluarga, mereka adalah Mas’ud, Abd yalail, Hubaib dan Robi’ah, semuanya dari keluarga Bani ‘Amr bin Umair bin ‘Auf al Tsaqofi. Mereka menghutangkan harta kepada Bani al Mughiroh bin Abdulloh bin ‘Umair bin Makhzum, dan mereka melakukan praktek riba. Ketika Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- muncull di tengah-tengah mereka, berislamlah semuanya, kemudian mereka (Bani ‘Amr bin ‘Umair al Tsaqofi) meminta harta riba dari Bani al Mughiroh. Kemudian berkatalah Bani al Mughiroh: “Demi Allah, kami tidak akan membayar riba di masa Islam sementara hal tersebut telah dihapuskan oleh Allah ta’ala”. Kemudian mereka mengadukan perkara tersebut kepada ‘Uttab bin Usaid –beliau adalah petugas Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- di Makkah-, kemudian ‘Uttab menuliskan persoalan harta tersebut kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan pada saat itu harta yang dipersengketakan berjumlah besar. Kemudian Allah menurunkan ayat 278 -279 dari Al Qurân surat Al Baqoroh.[16]

Diterjemahkan dari kitab al Riba wa al Mu’amalât al Mashrifiyyah fi nadzor al Syari’ah al Islamiyyah karya Prof. DR. Umar bin Abdul ‘Aziz al Matrok (wafat 1405 H) hal19 – 25

Penerjemah : Ustadz Abu Harits, Lc (Ketua Umum MADINA Pusat)