Rugi, Karena Menipu Diri Sendiri

0

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ . وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”

(QS. Al-Qiyamah: 14-15)

 

Disebut dalam Kitab Uyunul Atsar, Imam Zuhri mengisahkan, “Bahwa suatu ketika Abu Sufyan, Abu Jahal, dan Akhsan bin Syarik secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah saw. Masing-masing mengambil posisi untuk mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah saw dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi masing-masing, yang tidak diketahui oleh yang lain. Hingga, ketika Rasulullah saw, usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah saw.

Namun pada malam berikutnya. Ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejola jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al- Qur’an. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah saw. Usai melaksanakan shalat, mereka pun selalu memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadinya saling cela sebagaimana yang terjadi sebelumnya.

Malam berikutnya, lagi-lagi mereka rindu untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menepati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala rasulullah saw usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergogi yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat janji satu sama lain untuk tidak kembali ke rumah Rasulullah saw.

Begitulah, meski mereka memungkiri kenabian Muhammad saw, namun hati kecil mereka tidak bisa di tipu, bahwa Al-Qur’an itu indah, benar dan menakjubkan. Berbagai alasan, argument dan kilah sebenarnya  tidak bisa mengelabuhi perasaannya.

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasanya.”( QS.Al-Qiyamah: 14-15)

Rumus ini berlaku bagi siapapun yang menyelisihi kebenaran, baik yang ringan maupun yang berat. Mereka sebenarnya hanya membohongi diri sendiri tatkala lebih memilih menyelisihi daripada tunduk dan petuh terhadab kebenaran.

Sejenak kita intropeksi dan jujur terhadap diri sendiri. Tatkala diri merasa malas untuk belajar ilmu syar’i, berbagai alasan muncul untuk membela diri. Sibuk dengan pekerjaan, ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, kesulitan kendaraan, tidak ada tempat kajian, kurang enak badan dan seabrek alasan yang lain. Ketika itu, nurani kita  bisa mengukur, apakah semua itu kita utarakan itu benar-benar menjadi udzur, hingga betul-betul tak memiliki peluang untuk menambah ilmu syar’i? jawabanya , Balil insaanu’ala nafsihi bashiira, walau alqaa ma’adziirah,” Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” Diri kita sendiri yang tahu akan alasan kebenaran kita, selagi jujur dengan hati nurani.

Begitupula, tatkala ada yang lama tidak menampakan diri di masjid untuk shalat berjama’ah, berbagai argument  juga digelar agar orang lain memaklumi. Alasan tidak wajib, ada urusan penting, badan masih kotor karena belum mandi, jauh dari masjid, tidak mendengar adzan, tidak khusyu shalat dimasjid dan masih banyak alasan yang lain. Apakah alasan ini dibuat-buat ataukah tidak, sebenarnya diri kita sendiri mengetahui. Diri kita menjadi saksi atas apa penyebab sesungguhnya ketidakhadiran kita ke masjid untuk berjama’ah. Kita juga menjadi saksi akan kejujuran atau kedustaan lisan kita saat mengungkapkan alasan.

Sebagaimana dalam hal meninggalkan ketaatan, setiap kemaksiatan seringkali dicarikan alasan oleh pelakunya. Agar orang lain memaklumi, mengapa  dia melakukan itu semua. Alasan belum tau ilmunya, menurutnya, hanya coba-coba dan sederet alasan yang bisa dipaparkan. Tapi, kebenaran ucapannya diuji oleh hati nuraninya sendiri. Benarkah ini belum tahu ilmunya, betulkah berdasarkan ilmu yang diketahuinya itu tidak berdosa dan seterusnya. Cukuplah kita katakan kepadanya, Balil insaanu ‘ala nafsihi bashiirah, walau alqaa ma’aadziirah.” Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

Jika kita merenungkan hal ini, niscaya kita dapat perkara yang mengherankan, apa gunanya alasan-alasan itu dikemukakan jika tidak sesuai dengan kenyataan? Siapa yang rugi dengan kebohongan itu? Bukankah dirinya sendiri yang rugi? Tidaklah ini berarti membinasakan  diri sendiri? Memang aneh, tapi faktanya banyak orang yang berusaha menjerumuskan diri sendiri.

Sebagaimana sabda Nabi saw:

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُوْ فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا

“Setiap manusia itu berusaha, maka ia mempertaruhkan jiwanya, ada yang usahanya itu menyelamatkan dirinya, ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR.Muslim)

Orang yang membohongi diri sendiri termasuk golongan orang yang usahanya untuk membinasakan diri sendiri dalam konteks ini.

Setelah hati nurani kita di dunia menjadi saksi atas setiap alasan saat taat atau maksiat, maka kelak di akhirat, seluruh anggota badan kita sendiri juga akan menjadi saksi atas seluruh apa yang kita jalani di dunia saat itu, benar atau tidaknya alasan yang diungkapkan lisan, akan dibuktikan dengan kesaksian seluruh anggota tubuh. Inilah makna kedua dari firman Allah, “Balil insaanu ‘ala nafsihi bashiirah, walaw alqaa ma’aadziirah,” Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menafsirkan ayat ini, “Makna bashirah adalah saksi. Yakni kesaksian seluruh anggota badan atas dirinya. Tentang tangannya, apa yang telah ia jamah dengan keduanya, tentang kedua kakinya ke mana ia melangkahkan keduanya, tentang matanya, apa yang telah ia lihat dengan keduanya.”

Ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki, mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. an-Nuur: 24)

Maka jika kita sayang kepada diri sendiri, hendaknya berlaku jujur dalam menilai diri sendiri. Lalu menepis segala hal yang melemahkan kita dari ketaatan, dan memangkas jalan menuju kemaksiatan. Wallahu muwaafiq.

sumber: majalah arrisalah edisi 125 hal. 38-39