Memandu dengan ilmu

Sangihe : Dakwah Terkendala Pasca Pilkada

0

Kabupaten Sangihe adalah kabupaten di Sulawesi Utara dan merupakan wilayah terluar Indonesia sebelah utara yang berbatasan langsung dengan Philipina. Dakwah di sini menjadi penting karena wilayah perbatasan yang memungkinkan pengaruh-pengaruh luar yang masuk. Salah satu tantangan dakwah di sini adalah kristenisasi yang sangat tinggi. Sementara itu pemahaman agama umat masih lemah. Maka dibutuhkan dai untuk membimbing umat beribadah dan memahami Islam serta memperkuat aqidah mereka. Selain tantangan masyarakat, tantangan alam juga sangat tinggi dalam berdakwah. Wilayah ini sebagian besar adalah lautan dengan pulau-pulau kecil mencapai kurang lebih 90 pulau. Untuk berdakwah antar desa harus melewati laut dengan perahu sebagai alat transportasinya.

Pasca Pilkada

Ust. Fathurahman -dai SAHDAN asal Semarang- ditugaskan sebagai di daerah ini. Kondisi Kabupaten Sangihe pasca pilkada cukup mempengaruhi masyarakat. Gesekan-gesekan antar pendukung calon Bupati masih terasa. Kedatangan dai Sahdan terkena dampaknya. Dakwah tidak bisa leluasa antar masjid atau antar desa karena masih ada kecurigaan-kecurigaan antar masyarakat. Demikian juga jamaah masjid belum seramai seperti semula. Anak-anak TPQ pun hanya beberapa yang bertahan. Bahkan ust. Fatkhurahkan sempat diminta keterangan di Polres Sangihe. Namun ini hanya prosedur standard antisipasi pihak kepolisian. Pengawasan ketat juga mungkin karena daerah perbatasan. Meski demikian dakwah tetap berjalan. Shalat tarawih, kultum, pengajian tetap diadakan.

Sementara itu dakwah dai SAHDAN sangat diterima masyarakat. Apalagi dai ini memiliki suara yang bagus maka tidak heran ketika buka bersama yang diselenggarakan oleh Bupati Sangihe, beliau yang ditunjuk sebagai imam sholat.

 

 

 

 

 

 

 

Semoga dengan berkah ramadhan dan hadirnya dai SAHDAN akan menyatukan kembali hati kaum muslimin di Sangihe dan ibadah semarak kembali.(ya)