Memandu dengan ilmu

Sebelum Kesempatan Berubah Menjadi Penyesalan

0

Sebelum Kesempatan Berubah Menjadi Penyesalan

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الأرْضِ لافْتَدَتْ بِهِ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

”Dan jikalau setiap diri yang zalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Yunus: 54)

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Begitulah kata mutiara berbicara. Akan tetapi, ada kondisi di mana kegagalan tak mungkin lagi menjadi tangga kesuksasan. Yakni, kegagalan yang dialami manusia dalam menjalani kehidupan, lalu datang padanya kematian. Jika seseorang salah dalam mengelola hartanya, menyimpang dalam mempergunakan waktu dan umurnya di dunia, juga sesat dalam mengkaryakan hati dan seluruh jasadnya, maka ia akan menelan pahitnya kegagalan selamanya, kesengsaraan yang takkan ada ujung kesudahannya. Yakni saat datangnya hari pembalasan, yang ada hanyalah penyesalan, yang ada hanyalah kata terlambat. Tak ada waktu perbaikan, tiada kesempatan untuk mengulang. Tinggallah angan-angan kosong dan rintihan permohonan yang mustahil dikabulkan, mereka berkata,

“Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mukminun: 99-100)

 

Andai Hidup Bisa Diulang

Itulah penyesan yang telah menyia-nyiakan umurnya, menghamburkan kesempatan dan peluangnya untuk hal hal yang sia sia, atau kadang bahkan terlalu boros dalam mengalokasikannya ke dosa. Saat yang bersamaan, mereka amat bakhil untuk memanfaatkannya di jalan yang dikehendaki oleh penciptanya. Mereka begitu ‘dermawan’ dalam membagi bagikan jam demi jam untuk menikmati hiburan haram, hari demi hari untuk kesibukan diluar ketaatan. Namun mereka terlampu ‘hemat’ dan bakhil untuk meluangkan menuntut ilmu syar’i, shalat tepat waktu, terlebih untuk berdakwah, meyeru manusia ke jalan Allah. Kalaupun ia mengerjakan, di akhir waktu atau disela sela kesibukan duniawinya.  Pun dikerjakan dengan tergesa gesa. Berbeda sekali ketika mereka menggunakan waktunya untuk memuaskan hawa nafsunya.

Begitupun halnya  dengan potensi jasad ban tenaga, berapa banyak dikerahkan untuk beribadah? Sering kali kewajiban sebagai hamba Allah ditunaikan hanya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Andai saja mereka melihat siksa yang dihadapan mereka, tentu mereka rela mengarahkan seluruh potensi yang dimilikinya, medermakan total waktu hidupnya agar selamat dari siksa. Firman Allah ta’ala.”

”Dan jikalau setiap diri yang zalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Yunus: 54)

 

Andai Siksa Bisa Ditukar Dengan Harta

Nasib teragis juga akan dialami oleh orang yang salah dalam mengelola hartanya. Penyesalan mereka dikisahkan oleh Allah swt,

”Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Saat menyaksikan siksa yang hendak ditimpakan atasnya, mereka ingin seandainya bias, hendak menebus dirinya dengan apapun yang dimilikinya di dunia, yang penting dirinya bias selamat dari siksa.

Anas bin malik meriwayatkan, bahwa nabi saw bersabda, ”Akan dikatakan kepada orang kafir pada hari kiamat, ”Bagaimana pendapatmu, seandainya kamu memiliki emas sepenuh bumi, apakah kamu akan menebus siksa dengannya?” ia menjawab, ”benar” dikatakan kepadanya, ”Dahulu (di dunia), kamu dituntut untuk melakukan hal yang lebih ringan dari itu (namun enggan melakukannya).”

Dalam riwayat yang lain, ”Dikatakan kepadanya, ”Dusta kamu, dahulu kamu dituntut melakukan hal yang lebih ringan (namun enggan kamu lakukan).” (shahih muslim dengan syarah an-Nawawi)

Ya, tuntunan di dunia lebih ringan dari itu semua. Manusia tidak diharuskan menginfakkah seluruh harta yang dimilikinya. Mereka juga tidak dituntut berderma emas sepenuh bumi meskipun punya. Yang wajib hanyalah zakat fitri berupa 1 sha’ makanan pokok, pun setiap setahun sekali. Juga zakat mal yang rata rata hanya 2,5 persen atau lebih sesuai dengan jenis hartanya. Itupun juga dilakukan atas harta yang sudah mencapai nishab dan sampai haulnya. Selebihnya adalah sedekah tathawu’ dan keutamaan. Andai saja manusia tahu dan peduli, tentu halitu amatlah ringan dilakukan. Jauh lebih ringan dari apa yang diangankan manusia di akhirat, yakni menginfakkan sepenuh bumi emas.

 

Mumpung Masih Di Dunia

Kita tidak ingin kegagalan itu menimpa kita. Nas’alullah’afiyah, kita juga tak ingin penyesalan yang terlambat itu bakal kita alami nantinya. Dan kita masih punya kesempatan untuk itu.

Abu Ishaq, Ibrahim bin Yazid bercerita, ”suatu kali Riyah al Qaisy mendatangiku dan berkata, ”Wahai, abu Ishaq, mari ikut aku menemui penghuni akhirat, dan marilah kita membuat komitmen bersama di sisi mereka.” Lalu kamipun pergi ke sebuah pemakaman untuk dzikrul maut. Kami duduk di sisi sebuah kuburan, lalu Riyah berkata, ”Wahai Abu Ishaq, kira-kira apa yang ingin diangan-angankan oleh mayit ini jika ia diminta untuk berangan-angan?” Ibrahim menjawab, ”Demi Allah, pastilah ia ingin dikembalikan ke dunia, agar bisa mentaati Allah dan memperbaiki amalnya.” lalu Riyah berkata, ”Nah mumpung kita masih di dunia, selayaknya kita mentaati Allah dan memperbaiki amal kita.”

Benar, kita sedang menempati ruang yang diangankan oleh orang yang mati. Semestinya, kita beramal sesuai dengan apa yang menjadi angan-angan mereka, sebelum nantinya kita benar-benar akan menyesal dan hanya bisa berangan-angan. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariiq.

(ar risalah 94)