Selamat Dengan Niat

0

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى  اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

 

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barang siapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari)

=========================

Lalai adalah penyakit yang menghancurkan jiwa. Potensi ini hanya dimiliki oleh manusia yang memiliki kesadaran dan kemampuan. Berbeda dengan binatang yang diciptakan menjalani hidupnya sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkan untuknya yang tidak menyimpang. Kesadaran dan kemampuan manusia apabila tidak dipergunakan dengan benar maka kehidupannya akan tertawan dengan hawa nafsunya, dan terjatuh lebih jauh dari derajat binatang, Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf: 179)

Agar senantiasa sadar dan terbebas dari penyakit lalai ini, setiap muslim memerlukan obat penyembuhnya, yaitu niat. Niat mendidik manusia agar senantiasa terjaga dan memiliki keinginan dan perhatian yang menyebabkan sifat ikhlas beramal kepada Allah. Niat adalah tekad, rencana, gabungan dari keinginan. Keinginan yang terkonsentrasi hingga seorang hamba melaksanakan suatu perbuatan dalam keadaan indra yang penuh perhatian.

 

Keterbatasan Amal Dan Kebutuhan Terhadap Niat

Perbuatan tanpa niat seperti jasad tanpa ruh. Ia tidak mendatangkan manfaat. Bila salah niatnya dalam beramal shalih, ia tidak saja dianggap batal, bahkan pelakuknya akan disiksa karena niatnya yang rusak.

Rusaknya niat dipandang sebagai rusaknya amal dan syirik kepada Allah. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dengan amalan hijrah dalam hadits. Barangsiapa benar niatnya maka berpahala dan mendapatkan balasan di akhirat, dan barangsiapa rusak niatnya maka ia tidak mendapatkan  balasan kebaikan atas amalan hijrahnya.

Hijrah merupakan salah satu amalan yang terhenti ketika agama Islam tersebar luas. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Tidak ada hijrah setelah pembebasan kota Makkah yang tersisa hanyalah jihad dan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah Makkah dibebaskan, tidak ada hijrah lagi dari Makkah ke Madinah karena Makkah sudah menjadi negara Islam seperti Madinah, tapi yang ada adalah amalan jihad dan niat (yang baik) dalam setiap perbuatan.

Bahkan dengan niat yang benar seorang muslim akan mendapatkan pahala sama seperti orang yang melakukan amal, meskipun ia tidak melakukannya. Sebagaimana para sahabat yang tertinggal dari perang Tabuk dan harus tinggal di Madinah, mereka sangat ingin ikut berjihad bersama Rasul, akan tetapi sebagian  di antara mereka  tidak memiliki  perbekalan  dan tidak mempunyai unta, Rasul tidak bisa membawanya dan ada di antara mereka yang sakit dan diserahi urusan Madinah, maka Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya ada kaum yang berada di Madinah tidak ikut berperang besama kita, tidaklah kita mendaki bukit, tidak pula menyusuri lembah melainkan mereka  bersama kita dalam mendapat pahala berperang karena mereka tertahan oleh udzur alasan yang benar.” (HR. Bukahri dan Muslim)

Bahkan, pahala syahadah pun bisa didapatkan bila benar-benar diniatkan meskipun  ternyata qadarullah kematian menjemput di tempat tidur.

 

Kekal Di Surga Atau Neraka Dengan Niat

Ada syubhat yang mengatakan, “Mengapa Allah menyiksa orang-orang kafir dengan kekal berada dalam neraka tanpa batas waktu, sedangkan keadilan Allah itu meski menghukum sesuai dengan masa kekufurannya. Dan mengapa orang beriman kekal di dalam surga sedangkan dia tidak beriman dan tidak taat melainkan hanya dalam waktu terbatas?

Para ulama menjawab, orang yang beriman kekal di dalam surga karena dia berniat untuk taat kepada Allah selama-lamanya. Oleh sebab itu ia mendapatkan balasan kekal di dalam surga.

Sedangkan orang kafir itu selama di dunia telah bertekad  untuk kafir selama-lamanya, meskipun dia berbuat kekafiran hanya sepanjang hidupnya di dunia yang sementara. Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang kafir bertekad untuk kafir selama-lamanya adalah firman Allah tentang orang-orang kafir yang meminta agar dikembalikan ke dunia supaya mereka beriman:

“Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” (QS. Al An’am: 28)

 

Betulkan Niat, Sesuaikan Dengan Syariat

Karena niat merupakan amalan hati maka tidak mungkin akan benar niatnya bila tidak selamat hatinya. Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ كَالْوِعَاءِ , إِذَا طَابَ أَسْفَلُهُ طَابَ أَعْلَاهُ , وَإِذَا فَسَدَ أَسْفَلُهُ فَسَدَ أَعْلَاهُ

“Sesungguhnya amalan seorang itu bagaikan tempat minum, jika bawahnya jernih maka atasnya pun ikut jernih, namun jika bawahnya keruh maka permukaannya pun ikut keruh.” (HR. Ibnu Majah)

Bila benar niatnya dan diamalkan maka ia tidak bermanfaat kecuali sesuai dengan syariat. Ibnu Mas’ud berkata, “Ucapan tidak bermanfaat kecuali dengan amal. Ucapan dan amal tidak bermafaat kecuali dengan niat. Ucapan, amal, dan niat tidak bermanfaat kecuali sesuai dengan sunnah. Wallahu a’lam.

 

(Abu Abdillah-ar-risalah edisi 149)