Memandu dengan ilmu

Senang Belum Tentu Bahagia

0

Senang Belum Tentu Bahagia

Banyak orang tak mampu membedakan; membutuhkan iman yang benar, yang mana kebahagiaan dan mana kesenangan. Hingga ketika kesenangan usai, kesedihan dan masalah hadir kembali. Berfoya-foya sembari berjoged bersama, dugem dan bahkan minum khamr dianggap sebagai ara untuk mendapatkan kebahagiaan. Harta melimpah hingga dengan leluasa bisa digunakan untuk memperturutkan keinginan pemiliknya juga sering diduga sebagai sebab kebahagiaan. Ini karena mereka tidak mampu membedakan antara kebahagiaan dan kesenangan.

Durasi kesenangan itu singkat dan sangat dipengaruhi faktor luar. Jika faktor itu ada maka ia gembira, tapi begitu faktor itu hilang, maka hilang pula kesenangan. Untuk merasakan kesenangan dibutuhkan tiga kondisi; memiliki waktu, kesehatan dan harta. Padahal jarang sekali ketiganya berkumpul dalam satu momen. Atau kalaupun terjadi, hanya berlangsung singkat. Bukankah ketika masa anak-anak rata-rata  manusia  memiliki waktu dan sehat, tapi belum memiliki harta yang bisa dipergunakan untuk bersenang-senang. Lalu menginjak dewasa dan mampu mandiri, ia memiliki harta dan tubuh masih sehat, akan tetapi kesibukannya dalam pekerjaan membuatnya  hanya memiliki sedikit waktu untuk bersenang-senang. Dan ketika manusia memasuki usia tua, ia memang memiliki harta, waktupun banyak tersedia, tapi ada daya saat itu kesehatan dan kondisi fisik tidak mampu lagi mengenyam berbagai jenis kenikmatan. Maka alangkah nisbi jika kesenangan disebut sebagai kebahagiaan.

Padahal kebahagiaan itu mestinya lebih langgeng. Untuk mendapatkannya membutuhkan iman yang benar, yang membutuhkan amal shalih lalu konsisten dan istiqamah di atasnya. Maka siapapun yang memiliki tiga hal itu, ia mendapatkan kebahagiaan, bahkan meskipun terkadang ia kehilangan sebagian kesenangan.

Kadang tidak mendapatkan makanan yang enak, sesekali tubuhnya kurang fit dan kali lain ia sangat sibuk. Mungkin dia bukan dari kalangan kaya raya atau pejabat. Tapi, kebahagiaan tetap bersemayam di hati. Karena ia tidak terpengarh oleh faktor eksternal berupa materi fisik yang apabila ada ia bahagia dan apabila tiada ia menjadi sengsara, sama sekali tidak.

Bahwa ia bahagia ketika rezeki melimpah, namun faktor utamanya adalah rasa syukur kepada Allah yang memberikan  anugerah dan nikmat. Karenanya saat itu ia akan berucap sebagaimana tuntunan Nabi, “Alhamdulillahi bini’matihi tatimmush shaalihaat,” segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, kebaikan menjadi sempurna.

Dan ketika suatu kali diuji dengan sempit rezeki atau bahkan musibah menghampiri, tak berarti kebahagiaan tercabut. Mungkin saja kesenangan hilang, tapi kebahagiaan tetap bersemayam di hati. Dari sisi mana kebahagiaan dinikmati? Yakni dengan ridha terhadap  takdir, mengharapkan pahala di sisi Allah, terhapusnya dosa-dosa dan dengan pengharapan kepada Allah agar memberi ganti yang lebih baik. Karena itulah, dalam kondisi tidak ideal seperti yang diharapkan pun, ia tetap berucap alhamdulillah ‘ala kulli hal, segala puji Allah atas segala keadaan. Wallahu a’lam.

(Abu Umar Abdillah,  ar risalah: 197)