Memandu dengan ilmu

Serangan Nasionalisme

0

Serangan Nasionalisme

Apa yang diucapkan Ahok Gubernur DKI Jakarta dengan mendiskreditkan ayat 5: 51 sejatinya mencerminkan perseteruan dua aqidah; nasionalisme dan tauhid. Nasionalisme bertumpu pada alat ikat bangsa, apapun keyakinannya. Sementara tauhid berpijak pada alat ikat aqidah Islam, apapun suku dan bangsanya.

Kedua aqidah ini saling berebut penguasaan atas hati manusia dan tanah hamparan tempat hidup manusia. Perseteruan ini kadang tampak kadang berlangsung halus dan senyap.

Ucapan Ahok termasuk serangan kasar penganut aqidah nasionalisme terhadap penganut aqidah tauhid. Akibatnya, penganut tauhid naik pitam dan meletus kemarahan masal 411 yang fenomenal itu.

Padahal kalau diamati lebih jeli, serangan sebetulnya sudah lama terjadi dan terus terjadi. Hanya masalahnya serangan itu dilakukan dengan bahasa halus.

Contohnya, upaya mempopulerkan istilah ukhuwah wathaniyah, persaudaraan atas dasar tanah air dengan mengabaikan aqidah. Lebih parah, ukhuwah insaniyah yakni persaudaraan dan cinta dengan bingkai manusia, apapun agamanya.

Bila diamati seksama, serangan halus lebih mematikan. Tanpa sadar umat membenarkan pikiran nasionalisme bahkan lebih mampu memahaminya jika dibandingkan dengan aqidah tauhid yang ada di hatinya.

Muslim yang hidup di tengah sistem nasionalisme, akan terus mengalami perang batin tanpa ujung. Negaranya menuntutnya mengelola cinta dengan bingkai kebangsaan, sementara agamanya menuntutnya untuk menunaikan cinta berdasarkan keislaman, apapun bangsanya.

Semoga kemarahan umat terhadap ucapan a hog bukan hanya karena tersinggung kasarnya pilihan kata dan intonasi, tapi karena sadar bahwa aqidah tauhid akan selalu marah jika diserang pikiran nasionalisme.