Memandu dengan ilmu

Siapa Orang Tua Yang Mandul ?

0

Jika ada pertanyaan, siapakah orang yang mandul diantara kita? Tentu banyak yang menjawab bahwa orang yang mandul adalah orang yang tidak diberikan keturunan ataupun sudah lama menikah belasan tahun tetapi tidak mendapatkan keturunan yang dititipkan Allah melalui rahim istrinya. Tapi tahukah kita, bahwa pengertian mandul tersebut tidak seratus persen benar dan salah. Mari kita merenungkan kembali sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ؟ قَالَ قُلْنَا: الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ، قَالَ: «لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا

Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah engkau siapakah yang mandul?” Para sahabat menjawab; “Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”. Lalu Rasulullah bersabda; Orang yang mandul ialah orang yang memepunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia”. (HR. Ahmad)

Jadi pengertian mandul (tidak mempunyai keturunan) hari ini kurang tepat. Tetapi seorang yang mandul adalah para orangtua yang hanya mempunyai anak-anak biologis dan tidak memiliki anak-anak ideologis. Para orangtua yang gagal mencetak anaknya untuk menjadi shalih dan mau berjuang di jalan Allah. Merekalah orangtua yang mandul berdasarkan hadits nabi di atas.

Disinilah kita mengerti betapa banyak diantara kita yang mandul. Kita tidak mampu mempengaruhi anak, sebab anak-anak lebih banyak dipengaruhi oleh kawan, televisi dan lingkungannya. Sehingga anak-anak tersebut bertumbuh kembang tidak menjadi hamba Allah dan membawa manfaat kepada agama Allah, namun mereka tumbuh menjadi hamba dunia dan tidak mengerti islam.

Imam Al Qurthubi Rahimahullahu berkata; ”Tidak ada perniagaan yang membahagiakan pandangan laki-laki kecuali ia mendapatkan anak-anaknya menjadi shalih dan mereka senantiasa memikirkan agama Allah”.

Jadi, tidak semua anak bisa menjadi investasi akhirat. Dan memang tidak banyak orang tua shalih yang mampu mencetak anak-anaknya menjadi shalih, sehingga bermanfaat panjang untuk kehidupan orangtuanya di masa tua atau di akhirat kelak.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِى الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : أَنَّى (لِي) هَذَا؟ فَيَقُالُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لك

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya: Bagaimana (aku bisa mencapai) semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu”. (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya)

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan memiliki anak yang shaleh serta keutamaan menikah untuk tujuan mendapatkan keturunan yang shaleh. Imam al-Munawi berkata: “Seandainya tidak ada keutamaan menikah kecuali hadits ini saja maka cukuplah (menunjukkan besarnya keutamaannya)”.

5 Perkara Yang Harus Menjadi Perhatian Ketika Ingin Menjadikan Anak Shalih

 

Mendidik Mereka Dengan Iman Dan Aqidah Yang Shahih

Sesuai dengan berkembangnya zaman, tantangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh orangtua dalam mendidik putra-putrinya saat ini terasa berat. Beban ujian dan godaan datang bertubi-tubi dari segala penjuru. Jika tidak pandai mendidik anak, bisa saja mereka masuk dalam generasi gagal. Anak kita tidak dilahirkan selaras dengan zaman kita.

Belajar dari seorang Luqman, kita dapat belajar tentang mendidik anak. Beliau membekali anaknya dengan iman, tauhid dan akidah yang kokoh. Luqman mengajarkan putranya agar menjadi insan beriman, memiliki kekokohan akidah, tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun juga.

Luqman mengenalkan kepada putranya siapa yang telah menciptakannya, menghidupkan, mematikan, dan memberi rezeki. Iman merupakan sumber inspirasi, pembuka wawasan, dan ide-ide cemerlang. Sebagai inspirasi, iman dapat membuat seseorang tergerak melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan. Dengan inspirasi iman, seseorang akan memilki motivasi dalam memenuhi seruan-seruan kebajikan.

Sejarah mengukir kisah orang-orang yang terdidik dengan iman.

Dengan iman, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan semua hartanya di jalan Allah. Dengan iman pula, Umar bin Khattab sebagai Kepala Negara siap sedia membawa gandum di pundaknya, ia serahkan kepada seorang wanita yang papa. Dengan inspirasi iman, Ali bin Abi Thalib rela tidur di pembaringan Sang Nabi di waktu rumahnya dikepung musuh.

Dengan inspirasi iman, seseorang akan mampu bangun di waktu malam, bermunajah kepada Allah, di musim dingin sekalipun. Dengan kekuatan iman juga, Sumayyah tetap berkomitmen menjaga tauhidnya meski harus merelakan nyawa satu-satunya. Semuanya karena iman kepada Allah.

Dengan iman yang kuat, seseorang akan berusaha menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Akhlak sangat penting dihadirkan dalam segala situasi dan kondisi. Kemuliaan akhlak ada pada dorongan iman yang kuat. Kekuatan iman membuat seorang anak selalu beretika dalam tiap tindak tanduknya, menghindari perilaku-perilaku tercela. Dengan iman yang mantap, seorang anak yang didik dengan metode ini, akan memilki rasa malu. Malu dalam melakukan kejahatan.

Rasa malu nyaris lenyap dalam kehidupan kita saat ini. Ada seorang anak tidak malu-malu membuat malu keluarga dengan perbuatan nistanya. Tanpa rasa malu ia berbuat keji. Tanpa iman, seseorang akan ringan-ringan saja melangkahkan kaki dalam perbuatan yang dimurkai Allah Ta’ala.

 

Tidak Memberikan Harta Syubhat Atau Haram Untuk Anak, Istri Dan Keluarga
Ibnu Qudamah Rahimahullah pernah menyatakan, “siapa yang ingin mendapatkan anak yang shalih, maka perhatikan bagaimana bapaknya mencari uang dan mendapatkan rezeki, karena akan terpantul pada kehidupan anaknya”.

Abu Abdurrahman Abdullah bin Almubarak al-Hanzhali Al-marwazhi, seorang ahli hadist yang terkemuka,Lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya seorang Turki dan Ibunya Seorang Persia.

Cerita ini tentang orang tuanya, bukan mengenai dirinya. Cerita mengenai asal muasal pernikahan ayah nya dan ibunya.

Ceritanya, ayahnya Abdullah bin Mubarak bekerja di salah satu saudagar kaya, yang memiliki kebun anggur yang besar, setelah 3 tahun bekerja, si saudagar kaya beserta para teman-temanya berkunjung ke kebun anggur yang amat besar tersebut, dan berencana membuat suatu acara disana.

Lalu saudagar kaya tersebut, meminta ayahanda Abdullah tersebut, untuk memetikkan anggur yang manis-manis untuk disajikan.

Si ayah (Mubarak) pun memetik anggur dari kebun dan membawakannya kepada majikannya. Saat dimakan, si majikanpun marah, sambil berkata “saya memintamu untuk membawakan anggur yang manis, ini masam”.

Hal tersebut, terjadi berulang kali, dan si majikan tambah marah akan perbuatannya, Yang tak menjalakan perintahnya. Lalu ayahanda Abdullah berkata kepada majikan “wahai Tuanku, saya bekerja di kebun sudah 3 tahun, tapi saya belum pernah satu kalipun memakan 1 biji buah anggur yang ada di kebun, jadi saya tidak tahu yang mana yang manis dan mana yang asam”.

Si majikan kemudian bertanya “mengapa engkau tidak pernah memakannya?”

Lalu ia pun menjawab: “engkau memintaku untuk menjaga seraya merawat kebun beserta isinya, dan engkau belum pernah meminta saya untuk mencoba buah-buahnya.

Kemudian si majikan terkejut akan kejujurannya, saat itu juga ia dinikahkan dengan putri majikannya dan memperoleh seorang anak yang luar biasa.

 

Berhubungan Baik Dengan Orangtua
Siapapun yang ingin mendapatkan anak yang shalih, hendaknya ia memperhatikan hubungannya dengan orangtua. Karena pada dasarnya anak akan menjadi tidak shalih disebabkan kita tidak shalih terhadap orangtua kita. Dan ini adalah kaidah yang akan berlaku sepanjang zaman.

Dan ini adalah cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak. Karena harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Begitu pula dengan merubah sikap dan perilaku kita kepada kedua orang tua kita, yaitu dengan berbuat baik dan taat kepadanya, serta menjauhi sikap durhaka kepadanya”.

Wahab bin Munabbih, dia berkata, “Hormatilah kedua orang tuamu, karena sesungguhnya orang yang menghormati kedua orang tuanya, maka Allah akan panjangkan umurnya dan akan diberikan anak yang akan berbakti kepadanya. Dan (sebaliknya) barangsiapa yang durhaka kepada kedua orang tuanya, akan Allah pendekkan umurnya dan akan Allah berikan anak yang akan durhaka kepadanya.”

 

Mencarikan Teman Dan Lingkungan Yang Baik
Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Oleh sebab itu, Al-Qur`ân dan as-Sunnah sangat menaruh perhatian dalam masalah persahabatan.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya”. [Al-Kahfi: 28]

Para orangtua hendaknya memilihkan untuk anak-anaknya teman yang baik sebagaimana engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik.

Namun, keluarga adalah lingkungan pertama dan mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar dalam pendidikan anak. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali bagi tumbuh kembangnya anak, baik jasmani maupun rohani. Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk aqidah, mental, spiritual dan kepribadian, serta pola pikir anak. Yang kita tanamkan pada masa-masa tersebut akan terus membekas pada jiwa anak dan tidak mudah hilang atau berubah sesudahnya. Dengan mengajarkan hal-hal yang baik di lingkungan keluarga, anak akan tahu bahwa temannya melakukan hal-hal yang baik atau pun tidak baik.

Mendoakan Anak-Anak Disetiap Waktu Dan Kesempatan Yang Kita Miliki
Banyak doa yang dicontohkan oleh para nabi di dalam alquran untuk diamalkan oleh para tua. Diantaranya;

.وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al Furqan: 74)

.رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh”. (Ash Shaffat: 100)

. رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Al Ahqaf: 15)

 

Berkah Doa Rasulullah Untuk Anas Bin Malik Radhiallahu Anhu

Suatu kali Ummu Sulaim Radhiallahu Anhu menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lalu menawarkan anak kesayangannya, Anas bin Malik menjadi pelayan beliau, dan beliau menerimanya dengan senang hati. Beliau juga berdoa untuk Anas atas permintaan ibunya, “Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan juga anak-anaknya, serta berkahilah ia di dalamnya…!!”

Doa Nabi ini dikabulkan Allah, Anas berumur panjang dan hartanya melimpah ruah, tetapi ia tetap hidup dalam kezuhudan sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beberapa orang anak dan cucunya telah meninggal sementara ia tetap dalam keadaan sehat dan selalu dalam keshalehannya.

Anas bin Malik meninggal dalam usia sekitar 100 tahun, yakni pada tahun 90-an hijriah, pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. Karena kewafatannya ini, para ulama pada masa itu berkata, “Telah hilang dari kita separuh dari ilmu…”.

Semoga kita tidak menjadi pribadi-pribadi mandul dihadapan Allah dan Rasul-Nya. Siapapun yang belum mempunyai keturunan, bersabarlah. Aisyah Radhiallahu Anha yang merupakan perempuan yang indah di surga hingga beliau wafat-pun belum dikaruniai keturunan. Siapapun yang telah dikaruniai keturunan, jangan sia-siakan keturunan yang telah Allah titipkan. Jangan menjadi mandul dengan tidak memiliki anak yang shalih ataupun mati syahid di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wallahu Ta’ala A’lam

sumber: darussalam-online.com