Solidaritas Umat Islam

0

Solidaritas Umat Islam

Oleh : Firdaus Arifulloh, M.HI

 

Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat ini semua orang beriman itu adalah bersaudara dalam agama, diperintahkan untuk mendamaikan dua golongan yang saling berperang dan  perintah untuk takut kepada Allah dalam semua urusan agar mendapat rahmat-Nya.[1]

 

Fakta Sejarah Adanya Solidaritas Muslim

Tersebutlah dalam lintasan sejarah Nusantara tentang kuatnya persaudaraan dalam Islam, bahwa ketika tentara Daulah Islam Demak bertempur dan menyerbu wilayah kerajaan Syiwo-Budho Majapahit pada tahun 1481 M, terdapat sekitar 9.100 mujahid Islam. Di dalam barisan mereka terdapat 7 orang prajurit dari Daulah Islam Malaka, 40 orang prajurit dari wilayah Islam Pasai dan 40 orang prajurit Islam dari Daulah Islam Aceh.[2]

Fakta sejarah di atas adalah gambaran kuatnya hubungan antara kaum muslimin di Nusantara. Semangat membela agama telah menghilangkan sekat negara, meskipun mereka berasal dari wilayah kekuasaan yang berbeda (pasukan inti adalah para mujahid Daulah Islam Demak Bintoro, dan pasukan tambahan adalah sukarelawan yang dikirim oleh Daulah-Daulah Islam Nusantara demi membantu perjuangan kaum muslimin di tanah Jawa). Pada masa itu leburlah seluruh nilai nasionalisme yang didasarkan atas kebathilan (suku, bangsa, kepentingan ekonomi dan lain lain). Kaum muslimin menyatu dalam bingkai Islam, untuk Islam, oleh Islam dan dari Islam. Hasil dari peperangan itu adalah kesuksesan besar, Allah memberikan kemenangan mutlak kepada para mujahid Daulah Islam Demak yang dibantu oleh saudara-saudara muslim mereka dari berbagai Daulah Islam lain di Nusantara, setelah ditaklukkannya ibukota kerajaan Syiwo-Budho Majapahit pada bulan Shafar 1482 M.[3]

Demikianlah bentuk nyata kepedulian kaum muslimin kepada muslim yang lain, dan pernah dipraktikkan langsung oleh nenek moyang umat Islam di Nusantara. Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam haditsnya:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin satu dengan yang lain adalah bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu dengan yang lain.” (HR. al-Bukhari)[4]

Letak dan posisi Daulah Islam Demak dengan Daulah Islam Aceh sangatlah jauh, untuk ukuran zaman itu. Perjalanan laut adalah satu-satunya penghubung yang memungkinkan umat Islam di dua Daulah Islam Nusantara ini saling berhubungan, sehingga perjalanan membutuhkan waktu berhari-hari. Meskipun demikian, lama dan jauhnya perjalanan tidak menghalangi kaum muslimin untuk saling membantu dan membela perjuangan Islam saudara muslim di wilayah lain.

Kepedulian kepada sesama muslim adalah bukti keimanan seseorang. Setiap orang yang memeluk agama Islam pastilah mengaku beriman kepada Allah, ajaran-Nya dan beriman kepada Rasul-Nya. Ada di antara pengakuan iman mereka itu, sekelompok manusia yang bersikap jujur kepada Allah dan ada pula yang pengakuannya hanya sebatas klaim semata. Di antara cara untuk mengetahui kebenaran pengakuan iman seseorang adalah dengan melihat pengorbanan dan kesetiaan orang itu kepada Allah, ajaran dan uturan-Nya, dan bersikapnya kepada kaum muslimin.

Pada waktu pangeran Diponegoro terdesak oleh kekuatan VOC dalam perang Jawa, pada tahun 1827 para mujahidin di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro rahimahullah memutuskan untuk meninggalkan wilayah Pajang (yaitu wilayah yang terletak di barat Surakarta yang mencakup dua daerah yaitu Boyolali dan Klaten). Kyai Mojo rahimahullah yang merupakan tokoh Pajang dan diangkat sebagai patih, penghulu sekaligus qadhi (hakim) untuk wilayah Pajang, dengan penuh kepatuhan memilih untuk tidak tinggal di Pajang. Beliau ikut Pangerang Diponegoro melakukan “Long March” ke arah barat di wilayah Mataram antara sungai Progo dan Bogowonto. Meskipun waktu itu telah terjadi perbedaan sikap dan beberapa prinsip antara Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo. Ketundukan Kyai Mojo itu dilakukan bukan untuk menutupi perselisihan beliau dengan Pangeran Diponegoro, tidak pula dilakukan untuk menunjukkan kesetiaannya pada pangeran Diponegoro. Akan tetapi sikap patuh Kyai Mojo semata-mata tunduk kepada kemauan strategi perjuangan membangun daulah Islam yang tengah diserbu oleh kekuatan VOC kafir dan pendukungnya.[5]

Sikap tidak peduli terhadap nasib kaum muslimin mendatangkan murka Allah yang sangat besar. Kepedulian terhadap nasib kaum muslimin adalah bagian penting dari keimanan kepada Allah Ta’ala dan ajaranNya. Oleh sebab itu, sikap acuh tak acuh dan tidak mau tahu terhadap kezaliman yang menimpa kaum muslimin mendatangkan kemurkaan besar dari Allah Ta’ala. Sangat tidak layak, seseorang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi bersikap tidak mau tahu dengan kezaliman yang menimpa umat Islam.

 

Mahalnya Harga Diri Seorang Muslim

Kaum muslimin memahami, betapa hinanya seorang muslim yang tidak peduli dengan kezhaliman yang menimpa umat Islam lain. Kaum muslimin memahami pula besarnya murka Allah apabila darah seorang muslim tertumpah tanpa haq. Nilai seorang muslim mujahid amatlah mahal di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam- bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di hadapan Allah daripada terbunuhnya seorang muslim (tanpa haq).” (HR. Ibnu Majah).[6]

Maka lihatlah apa yang dilakukan oleh Al-Mu’tashim, seorang Khalifah Bani Abbasiyah dalam membela kehormatan para muslimah yang dihinakan oleh pasukan Romawi. Pada tahun 223 H terjadi kisah pilu ketika raja Romawi bernama Tufail bin Mikail menyerbu wilayah kaum muslimin di kota Maltyah (sebuah kota di Suriah hari ini), membunuh banyak kaum muslimin dan menawan lebih dari seribu muslimah. Tufeil menyerbu wilayah ini dengan kekuatan seratus ribu personel. Serangan yang menyebabkan meninggalnya banyak kaum muslimin dan tertawannya lebih dari seribu muslimah, didengar oleh al-Mu’tashim. Maka dia segera mempersiapkan pasukan sangat besar untuk menyerbu wilayah Romawi. Al-Mu’tashim bertanya kepada bawahannya, “Kota Romawi manakah yang paling kuat pertahanannya?” Para bawahan menjawab; “Kota Amuriyah, kota ini adalah kota yang belum pernah bisa diserang sejak keberadaan Islam dan kota yang lebih penting daripada Konstantinopel.” Kota inipun dikepung dan dihancurkan sebagai balasan atas kekejaman raja Romawi terhadap umat Islam dan penghinaannya terhadap para muslimah.[7]

Para mujahid Islam Nusantara pun tidak ketinggalan, mereka memahami betul kehinaan yang Allah timpakan kepada setiap muslim yang tidak peduli dengan nasib umat Islam yang lain. Oleh sebab itu, mereka bangkit melakukan pembelaan ketika ada kaum muslimin di seberang yang terzalimi oleh orang-orang kafir. Adipati Yunus (yang terkenal dengan julukan Pati Unus) putera dari Sultan Daulah Islam Demak Raden Fattah, diperintahkan oleh sang ayah untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk perang melawan Portugis di Malaka (yang telah dijajah oleh Portugis sejak tahun 1511 M). Serangan ini dilancarkan demi mengembalikan tanah Islam yang dirampas oleh musuh (kaum kafir Portugis) dan mengembalikan kemuliaan Daulah Islam Malaka. Maka serangan dilakukan dua kali yaitu pada tahun 1513 M dan 1521 M. Meskipun kedua serangan itu berhasil digagalkan oleh Portugis dan mengakibatkan Adipati Yunus syahid dalam peperangan terakhir.[8]

Ikatan duniawi bukanlah pondasi dasar solidaritas umat Islam, tetapi ikatan iman itu di atas itu semua. Lihatlah kisah perang Rasulullah Shollallaahu ‘alaihiwasallam melawan kaum Yahudi Bani Qainuqa. Perang tersebut terjadi disebabkan oleh tantangan perang yang dilancarkan oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, dan dipicu oleh sebuah peristiwa pelecehan kehormatan seorang muslimah oleh orang-orang Yahudi. Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu Aun bahwa seorang muslimah datang ke pasar Bani Qainuqa’ dengan mengenakan jilbab. Wanita itu duduk di dekat seorang pengrajin perhiasan. Tiba-tiba beberapa orang Yahudi Bani Qainuqa’ hendak menyingkap kerudung yang menutupi wajahnya. Diam-diam tanpa diketahui oleh sang muslimah, pengrajin perhiasan tersebut mengikat ujung baju wanita muslimah itu, sehingga ketika dia bangkit, auratnya tersingkap. Orang orang Yahudi tertawa melihat kejadian itu. Maka muslimah itu segera berteriak. Seorang lelaki muslim yang berada di dekatnya melompat ke arah pengrajin perhiasan dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi pun membalas dengan mengikat lelaki muslim itu dan membunuhnya. Hal itu membuat keluarga lelaki muslim itu meminta pertolongan kepada kaum muslimin atas tindakan kaum Yahudi tersebut. Sehingga akhirnya terjadilah perselisihan berat antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi. Dan berakhir dengan diusirnya kaum Yahudi Qainuqa’ dari Madinah.[9]

Kita sebagai dakwah wajib menumbuhkan kesadaran umat Islam bahwa ukhwah dan persatuan adalah dua hal yang mestinya melewati berbagai sekat yang dibuat manusia. Sehingga dengan memahaminya diharapkan makin cairnya hubungan antar umat Islam dan menguatnya solidaritas keutaman sesama mereka. Maka, agar solidaritas umat Islam itu mudah diwujudkan dengan benar dan tepat guna, hendaklah kaum muslimin di Nusantara saat ini khususnya dan di dunia Islam pada umumnya wajib bersatu. Solidaritas mereka manakala kuat dan tangguh, maka musuh-musuh Islam akan berpikir seribu kali lipat untuk mengusik ketenangan umat Islam. Sejarah zaman Islam pada masa Nabi, Khalifah Mu’tashim, Daulah Islam Demak dan lainnya yang ada di Nusantara tersebut dapat dijadikan sample dan qudwah betapa kuatnya solidaritas umat Islam dalam berukhwah islamiyyah saat itu. Seperti itulah hakikat Solidaritas Islam yang sebenarnya manakala diaplikasikan dalam kehidupan dan perjuangan secara nyata.

Footnote:

[1] Abu al-Fida’ Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah, Mauqi’ Majma’ al-Malik Fahd, Saudi: Dar Thayyibah, 1999M/1420H, vol. 7, hlm. 375-376

[2] Rachmad Abdullah, Sultan Fattah Raja Penakluk Tanah Jawa, Surakarta: al-Wafi Publishing, 2015, hlm.89

[3] Rachmad Abdullah,   Sultan Fattah Raja Penakluk Tanah Jawa,  hlm. 92

[4] Muhammad  bin Ismail bin Ibrahim bin al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, tahqiq: Muhammad Zuhair, Dar Thauq al-Najah, 1422, vol.3, hlm.129,  hadits no.2446.

[5] Shaleh As’ad  Djamhari, Strategi Menjinakkan Diponegoro, Depok: Komunitas Bambu, cet. II, 2014, hlm. 83.

[6] Muhammad bin yazid Abu Abdillah, terkenal dengan Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, tahqiq: Muhammad Fuad Abd al-Baqi, Beirut: Dar al-Fikri, tt,  vol.2, hlm.874, hadits no: 2619, pentahqiq berkata: “Hadits ini shahih.”

[7] Lihat kisah ini di Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, Penerbit  Al-Hijr li  al-Nasyr wa al-Tiba’ah wa al-Tauzi’,  vol. 14, hlm. 250-259.

[8] Rahmat Abdullah, Kerajaan Islam Demak, Surakarta: al-Wafi Publishing, 2015, hlm. 41-59.

[9] Shofi al-Rahman  al-Mubarakfury,  Ar-Rakhiqu al-Makhtum, Jakarta: Penerbit Umm al-Qura, 2011, hlm. 442-443.