Memandu dengan ilmu

Standar Kebenaran Bukan Pada Amalan Semata.

0

Mungkin kita pernah atau bahkan sering mendengar orang yang berkata, “Tidak usahlah menyalah-nyalahkan orang lain yang sedang beramal, toh dia berusaha mengamakan kebenaran.” Atau dalam kalimat yang lain, “Mereka sudah beramal dan memperjuangkan kebenaran dengan harta dan jiwa, nah kalian?”. Dan masih banyak lagi kalimat senada. Inilah kalimat yang sering didengar oleh seseorang berusaha untuk meluruskan sebuah penyimpangan ketika beribadah, ketika berjuang bahkan ketika berjihad.

Sungguh saudara sekalian, kebenaran itu tidak diukur dan ditentukan hanya dengan amalan saja. Ketika kebenaran itu disandarkan kepada amal perbuatan semata, maka akan menghasilkan produk amal berstandar dan bermerk hawa nafsu.

Amalannya berdasarkan apa yang disenangi oleh nafsunya, ketika sesuai nafsunya ia lakukan, namun ketika bertentangan dengan nafsunya dengan segera ia tinggalkan. Merk amalannya bukan lagi asli sesuai tuntunan Al-Qur`an dan As-Sunnah menurut pemahaman salafusshalih, namun sudah berubah menjadi merk KW yaitu hawa nafsu, meskipun terlihat asli namun jika diteliti akan nampak kepalsuannya.

Ketika standar kebenaran diletakkan pada amal perbuatan semata, maka kita akan dapatkan orang yang paling benar adalah orang-orang khawarij. Perhatikanlah sabda Rasulullah shallahu ‘alihi wasallam ketika menjelaskan sifat mereka, diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudry berkisah, ketika kami bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau sedang membagikan ghanimah, lalu datanglah Dzul Khuwaishirah salah seorang dari Bani Tamim dan berkata, “Wahai Rasulullah berbuat adillah!” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka! Siapa yang akan berbuat adil jika saya tidak berbuat adil? Niscaya saya celaka dan binasa jika saya tidak adil.” Umar bin Khattab berkata, “Wahai Rasulullah! Ijinkan saya memenggal lehernya.” Namun Berkata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

“دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَاباً يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَئُوْنَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَيَمْرُقُوْنَ مِنْ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ.”

“Biarkanlah dia. Sesunggulinya dia mempunyai banyak teman, dimana dianggap remeh shalat di antara kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al?Qur’an tidak sampai kecuali pada tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah membandingkan antara amalan lahiriyah mereka dengan amalan para sahabat, namun masih belum tertandingi. Meski demikian Rasulullah menjelaskan bahwa kondisi lahiriyah orang-orang khawarij yang penuh dengan hiasan-hiasan amal yang tak tertandingi oleh para sahabat, tidak bernilai apa-apa. Amalan mereka tidak menjadikan mereka dekat dengan Allah, justru mereka jauh dari Allah, amalan mereka tidak menguatkan tali keIslaman mereka, namun justru membuat mereka sebagai orang yang paling cepat keluar dari tali keIslamannya. dan mereka pula golongan yang mendapat celaan dari Rasulullah.

Mengapa hal ini bisa terjadi?, jawabanya dikarenakan mereka dalam satu waktu melakukan kebaikan dan keadaan yang sama melakukan banyak kekufuran, pengingkaran kepada ayat-ayat Allah, dan menolak akan hadits-hadits Rasulullah. Inilah yang menjadikan amalan mereka tidak bernilai disisi Allah.

Contoh lainnya ketika kebenaran disandarkan kepada amalan lahiriyah saja, maka kita akan dapatkan Abdullah bin Ubai bin Salul si “Gembong Munafik” pada zaman Rasulullah adalah orang yang benar. Hal mana secara lahiriyah ia adalah orang yang selalu berada di shaf awal ketika shalat bersama Rasulullah, namun dengan amalan itu semua Rasulullah tetap menjelaskan akan status kemunafikannya. Meski Rasulullah memberi despensasi untuk tidak mengeksekusinya karena khawatir timbul fitnah. Hal ini dikarenakan ia hanya menghiasi lahiriyahya dengan amalan dzahir, namun di dalam hatinya masih menyimpan kekufuran berupa kebencian terhadap Rasulullah dan ajaran Islam itu sendiri.

Fonomena yang kerap terjadi di kehidupan nyata adalah ketika seseorang tengah menjalankan sebuah ibadah besar seperti amalan jihad, banyak orang yang beranggapan dengan amalan tersebut si mujahid telah berada di jalan kebenaran atau jalan ketaatan yang tidak mungkin melakukan kesalahan dan kekeliruan.

Sehingga ketika terdapat suatu kesalahan, dan ada ulama yang mencoba meluruskannya, maka dengan cepat ia menepisnya dengan perkataan sederhana, “Ia sedang berjuang menegakkan kebenaran (berjihad), maka ia tidak mungkin salah.”

Sehingga perlu ditegaskan kembali janganlah menetapkan seseorang di atas jalan kebenaran, hanya semata dikaranakan amalan-amalan lahiriyah yang ia lakukan.

Fudhail bin ‘Iyadh telah menjelaskan akan standar kebenaran itu. ketika menjelaskan makna dari surat Al-Mulk ayat 2.

قال الفضيل بن عياض: هو أخلصه وأصوبه. قالوا: يا أبا علي، ما أخلصه وأصوبه؟ فقال: إن العمل إذا كان خالصاً ولم يكن صواباً لم يُقبل. وإذا كان صواباً ولم يكن خالصاً لم يُقبل حتى يكون خالصاً وصواباً. والخالص : أن يكون لله ، والصواب: أن يكون على السنة. ثم قرأ قوله تعالى: ” فمن كان يرجو لقاء ربّه فليعمل عملاً صالحاً ولا يُشركْ بِعبادة ربِّه أَحداً ” ..

Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Maksudnya adalah amalan yang ikhlas dan benar.” mereka bertanya: “Wahai Abu Aly, apa maksud amal yang ikhlas dan benar?” beliau menjawab: “Sesungguhnya amal jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar tidak akan diterima, dan jika dikerjakan dengan benar namun tidak ikhlash maka tidak akan diterima pula, hingga dapat ikhlash dan benar. maksud ikhlash adalah hanya diperuntukkan kepada Allah, dan benar adalah dilakukan sesuai sunnah. kemudian beliau menegaskan dengan membaca ayat : “…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Perkataan beliau memberikan kesimpulan bahwa kebenaran seseorang terletak jika ia mampu mengumpulkan dalam amalan keseharianya dua perkara yaitu; ikhlas dan sesuai sunnah. Sehingga ukurannya adalah dua perkara ini. Wafaqanallahu ilaa maa yuhibbuhu wa yardhahu.