Strategi Dakwah

0

Dakwah adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk merubah manusia dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik, sesuai ajaran Islam.
Berdakwah memerlukan strategi dan rancangan yang matang. Banyak orang yang gagal berdakwah atau hasilnya tidak maksimal karena dilakukan secara sporadis, tidak terstruktur dan sistematis.
Tulisan di bawah ini menjelaskan strategi dakwah secara umum:

 

Pertama : Dakwah Kultural

Yang dimaksud dengan dakwah kultural adalah dakwah melalui pendekataan budaya dan sosial masyarakat setempat. Ini sesuai dengan firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim: 4)

Agar dakwah kultural ini bisa berhasil, seorang da’i harus memahami budaya sosial masyarakat yang hendak didakwahinya. Maka dia harus memiliki kecakapan berbahasa lokal. Mengetahui budaya dan adat istiadat mereka.
Inilah yang dilakukan oleh Wali Songo ketika berdakwah di tengah masyarakat yang masih menganut agama Anisme. Dengan pendekatan budaya, seperti sekaten, apeman dan pendekatan-pendekatan lainnya yang serupa, wali songo berhasil mengislamkan mereka. Orang Jawa menyebutkan pepatah: “Menang tanpa Ngasurake, Nggruduk tanpa bala.” (lihat Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa)

 

Kedua : Dakwah Infrastruktur.

Yang dimaksud dengan Dakwah Infrastruktur adalah dakwah dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya, seperti sekolah-sekolah dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMA, PerguruanTinggi, Masjid, Islamic Centre, Kilinik, Rumah Sehat, Rumah Sakit.
Dakwah ini pernah dilakukan oleh Rasulullah dengan membangun masjid Quba’ dan masjid Nabawi ketika kedatangan beliau pertama kalinya di kota Madinah.
Kelebihan Dakwah Infrastruktur adalah terlihat fisiknya secara nyata di masyarakat dan bisa memberikan manfaat kepada mereka lebih banyak dan tahan lama. Selain itu akan meramaikan dan menggerakan ekonomi masyarakat sekitar.
Keberhasilan dakwah infrastruktur di luar negri dicontohkan oleh Jam’iyah Syariyah Mesir yang mempunyai ribuan klinik dan rumah sakit, dan Jama’ah Anshor Sunnah dengan ribuan masjid tauhidnya di wilayah Mesir.
Untuk di Indonesia, sebagai contoh Muhammadiyah dengan sekolahan dan perguruan tingginya, Nahdhatul Ulama dengan ribuan pesantrennya, Persis dan ormas-ormas lainnya.

 

Ketiga : Dakwah Demografi

Dakwah Demografi adalah kegiatan dakwah yang dilakukan dengan cara memperbanyak jumlah pengikut, memperbanyak keturunan, dan menikahi wanita-wanita masyarakat setempat, tinggal di lingkungan mereka, menyewa dan membangun rumah, apartemen, serta mendapatkan kartu penduduk setempat.
Dakwah Demografi ini pernah dilakukan oleh Rasulullah dengan berhijrah ke kota Madinah, menetap di sana, sebagian Muhajirin menikah dengan wanita-wanita Anshor. Bahkan ketika berhasil membuka kota Mekkah, beliau melarang para muhajirin tiggal di Mekkah kota kelahiran mereka, tetapi harus kembali ke Madinah. Juga dilakukan oleh Amru bin Ash ketika membuka kota Mesir dengan empat ribu tentara dan tinggal di sana hingga turun temurun. Mereka berhasil mengislamkan Mesir, yang dulunya adalah negara Nashrani di bawah kekuasaan Romawi.
Kekuatan Dakwah Demografi ini juga terlihat ketika rakyat Palestina terdesak dengan pembangunan perumahan-perumahan Yahudi di daerah Tepi Barat. Tetapi mereka bisa mengalahkan Israel dengan cepatnya pertambahan penduduk Palestina. Rata-rata satu keluarga Palestina mempunyai 8-10 anak, sedangkan Israel sebagian besar pendudukan malas untuk mempunyai anak, sampai-sampai pemerintah Israel mengiming-imingi bantuan kepada keluarga yang ingin memperbanyak anak.
Transmigrasi besar-besaran penduduk Jawa ke pulau Sumatra dan Kalimantan sangat mempengaruhi kebudayaan masyarakat setempat. Dengan adanya interaksi sosial antara penduduk jelas akan mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dan disinilah letak kekuatan dakwah.
Dakwah Demografi ini juga bisa dilakukan dalam bentuk pembelian tanah-tanah, properti, menikahi penduduk setempat, menikahi anak kepala suku, menyewa rumah-rumah penduduk setempat.
Jika terdapat beberapa pesantren atau perguruan tinggu yang bisa meluluskan mahasiswa dan mahasiswinya serta menikahkan antar mereka dan tinggal di lingkungan pesantren, juga bisa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan dakwah.

Keempat : Dakwah Struktural

Dakwah Struktural adalah dakwah dengan menggunakan kekuasaan dan memanfaatkannya sebesar-besarnya untuk kepentingan umat Islam.
Dakwah Struktural ini sangat penting, karena pengaruhnya yang sangat kuat terhadap penyebaran ajaran-ajaran Islam di tengah – tengah masyarakat. Utsman bin Affan berkata :

إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن

“Sesungguhnya Allah memberikan kekuatan pada kekuasaan untuk melarang manusia dari perbuatan haram, yang tidak dimiliki jika larangan itu dari al-Qur’an saja.”
Rasulullah pernah menyarankan Ja’far dan beberapa sahabat lainnya, agar berhijrah ke Habasyah, karena di sana ada penguasa (Raja Najasyi) yang adil.
Ketika Rasulullah berkuasa kemudian dilanjutkan Khulafa’ Rasyidin, kemudian bani Umayah, Bani Abasiyah dan Khilafah Turkiyah, ajaran Islam terjaga dan menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Ibnu Taimiyah beberapa kali menasehati raja sehingga mereka beramar ma’ruf dan nahi mungkar dan berjihad melawan pasukan Tatar.
Aliran-aliran sesat yang menyebar di Indonesia bisa dilarang dengan kekuasaan, dan akan nsulit dibendung jika Pemerintah tidak turun tangan.

 

Kelima : Dakwah melalui undang-undang

Dalam kondisi negara sekuler religius seperti Indonesia ini, di mana dasar negara bukanlah Islam, sehingga banyak undang-undang yang berlaku di dalamnya tidak mencerminkan ajaran Islam, maka diperlukan perjuangan untuk mengislamkan undang-undang. Perjuangan orang tua kita zaman dahulu, paling tidak telah membuahkan hasilnya dengan adanya Kompilasi Hukum Islam.
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia terdiri dari tiga buku: Buku I tentang Hukum Perkawinan, Buku II tentang Hukum Kewarisan, dan Buku III tentang Hukum Perwakafan. Semuanya terdiri dari 229 pasal. Kompilasi ini didasarkan pada Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991 dan dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI No. 154 Tahun 1991 tanggal 22 Juli 1991.
Akhir-akhir ini, tepatnya pada tahun 2014 juga telah disahkan Undang-undang No. 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal. Sebelumnya juga sudah diperlakukan undang-undang perbankan syariah. Beroperasinya BMI berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. UU ini lalu diamandemen dengan UU No. 10 Tahun 1998. Pada tahun 2008, UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah diberlakukan. Begitu juga telah disahkan Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 23 Tahun 2011. Tentang. Pengelolaan Zakat.
Yang lebih menarik lagi adalah undang-undang tentang larangan penistaan dan penodaan agama yang tertuang dalam UU No.1 PNPS tahun 1965. Undang-undang ini menjadi benteng bagi bagi umat Islam Indonesia dalam menangkal aliran-aliran sesat yang berkembang pesat di Indonesia.
Begitu juga SKB Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri No. 03 Tahun 2008, No. KEP-033/A/JA/6/2008 dan No. 199 Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota dan/atau Pengurus JAI dan Warga Masyarakat, atau yang lebih populer dengan SKB Tiga Menteri.
Semua undang-undang itu dimaksudkan agar umat Islam Indonesia terjaga agamanya dari pihak-pihak tertentu yang ingin menghancurkan Islam melalui hukum dan undang-undang.

 

Keenam : Dakwah Mass Media

Tidak diragukan lagi bahwa mass media, baik cetak maupun elektronik termasuk medsos (WhatsApp, Twitter, Facebook dan lain-liannya ) mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap perilaku masyarakat. Tidak salah jika media disebut sebagai salah satu agent of change (alat untuk merubah) masyarakat.
Oleh karenanya, para da’i dan lembaga-lembaga dakwah hendaknya memperhatikan mass media ini dengan serius untuk keberhasilan dakwah. Seandainya belum bisa mendirikan stasiun TV, atau radio, paling tidak menggandeng mereka untuk menyuarakan kebenaran, selain menggunakan sarana internet seperti website, facebook, WhatsApp, Twitter. Paling tidak ada tim khusus untuk menangani bidang ini agar penyebaran dakwah lebih aefektif dan cepat penyebarannya. Menggandeng para wartawan dalam penyebaran informasi dakwah.

 

Ketujuh : Dakwah bil Hal.

Dakwah bil Hal adalah dakwah dengan memberikan teladan yang baik kepada masyarakat, baik itu berupa akhlaq yang baik, maupun kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Diantara dakwah bil hal yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti sekarang ini adalah baksos, membagi sembako, khitanan massal, penyediaan ambulance, pengadaan mobil untuk kebersihan masjid, penyaluran bantuan untuk korban-korban bencana alam, untuk masyarakat yang tertindas seperti Palestina dan Syiria.
Dakwah bil Hal ini sangat penting, mengingat trend masyarakat kita hari ini cenderung untuk melihat bukti. Banyak orang – orang kafir yang masuk Islam setelah melihat keagungan akhlaq Rasulullah, seperti Tsumama bin Atsal, Sofwan bin Umayyah, Ikrimah bin Jahl, Abu Sufyan dan lain-lainnya. Begitu juga seorang yang mendapatkan Umar bin Khattab tidur di bawah pohon, dia berkata : “Wahai Umar, engkau telah berlaku adil, maka engkau bisa tidur nyenyak.” Kemudian dia masuk Islam.
Orang-orang kafir Qurasy tidak mau beriman kepada nabi Muhammad, sampai terbukti bahwa beliau mampu menaklukan kota Mekkah. Ketika kota Mekkah berhasil ditaklukan maka mereka berbondong-bondong masuk Islam, sebagaiman firman Allah:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr 1-3)
Ketika kota Mekkah berhasil dikuasi oleh kaum muslimin, orang-orang Arab berkata: “Bila Muhammad berhasil mengalahkan para penduduk kota suci (Mekkah), padahal dulu mereka dilindungi oleh Allah dari pasukan Gajah, maka tidak ada kekuatan bagi kalian (untuk menahannya).” Maka mereka pun memeluk Islam secara berbondong-bondong.
Hal ini ini dikuatkan dengan hadist dari Amr bin Salamah, ia berkata:

وَكَانَتْ الْعَرَبُ تَلَوَّمُ بِإِسْلَامِهِمْ الْفَتْحَ فَيَقُولُونَ اتْرُكُوهُ وَقَوْمَهُ فَإِنَّهُ إِنْ ظَهَرَ عَلَيْهِمْ فَهُوَ نَبِيٌّ صَادِقٌ فَلَمَا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ

“(Dahulu) bangsa Arab menunggu-nunggu al Fathu (penaklukan kota Mekah) untuk memeluk Islam. Mereka berkata: “Biarkanlah dia (Rasulullah) dan kaumnya. Jika beliau menang atas mereka, berarti ia memang seorang nabi yang jujur.” Ketika telah terjadi penaklukan kota Mekkah, setiap kaum bersegera memeluk Islam, dan ayahku menyegerakan keIslaman kaumnya.” (HR. Bukhari)

 

Kedelapan : Dakwah Keilmuan

Dakwah Kelimuan adalah dakwah melalui jalur pendidikan, keilmuan dan kaderisasi. Ini bisa dicapai melalui pengiriman kader-kader dakwah ke sekolah-sekolah di luar negri maupun dalam negri, untuk menimpa ilmu dukui sana dan kembali pulang untuk menyebar ilmu mereka ke masyarakat. Cara seperti terbukti sangat efektif dan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam penyebaran ilmu dan dakwah.
Termasuk dalam dakwah keilmuan adalah mendirikan penerbitan-penerbitan dan mencetak buku-buku serta menyebarkannya ke masyarakat melalui acara-acara bedah buku, dan kajian-kajian ilmiyah lainnya. Begitu juga mendorong para kader untuk menulis buku-buku panduan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

 

Kesembilan : Dakwah Perdagangan

Dakwah Perdagangan adalah berdakwah dengan menggunakan jalur ekonomi dan perdagangan. Pedagang dan saudagar adalah seorang da’i, karena dia berinteraksi dengan masyarakat secara lebih intensif dan masif. Dengan jalur inilah ajaran Islam dan hidayah menyapa masyarakat. Abu Bakar Siddiq seorang saudagar yang terkemuka dan mempunyai akhlaq yang mulia, jujur dan dermawan sangat berperan di dalam penyebaran Islam. Dari tangannya saja, sahabat-sahabat terkemuka akhirnya masuk Islam dan menjadi pembela-pembela Islam yang terdepan, seperti Abdurrahman bin Auf, Ustman bin Affan, Bilal bin Rabah dan lain-lainnya.
Tabiat perdagangan, menuntut seseorang untuk menjalin hubungan dengan masyarakat yang lebih luas, maka dipastikan dia mempunyai jaringan yang sangat luas, selain itu dia dituntut untuk banyak mendekatkan dirinya kepada Allah agar perdagangannya terus berjalan dan membuahkan keuntungan.
Oleh karenanya, Allah memuji kebiasaan orang-orang Qurays yang melakukan perjalanan dagang di musim dingin ke selatan ( Yaman) dan di musim panas ke utara ( Syam ), sebagaimana firmanNya di dalam surat Qurasy. Dengan melakukan perjalan ke seluruh penjuru dunia, maka peluang dakwah terbuka lebar dan penyebarannya menjadi lebih luas. Rasulullah termasuk orang yang mengetahui keadaan masyarakat sekitar bahkan masyarakat dunia, karena sejak kecil sering melakukan perjalanan dagang.

(ya/madina)