Syahadat dan Kewajiban Jihad

0

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا  مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ. رواه البخاري ومسلم

Rasulullah shallallahu`alaihi wasallam bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah ta’ala.

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Asbabul Wurud

Hadits ini sebab wurudnya adalah ketika perang khaibar, yaitu tahun ke 7 Hijriyah, tepatnya 20 hari setelah perjanjian Hudaibiyah yaitu pada bulan Muharram (pendapat ibnu Hajar menguatkan pendapat Ibnu Ishaq). Rasulullah keluar menuju khaibar yang dijanjikan (dalam surat al Fath: 20-21) dengan pasukan sekitar 1.600 prajurit dan 200/300 pasukan berkuda.

Pasukan kaum muslimin menghadapi perlawanan yang kuat dan sulit saat menaklukkan sebagian benteng-benteng di khaibar, di antaranya benteng Na’im. Butuh 10 hari lamanya untuk menaklukkan benteng ini, saat pengepungan dan belum ada titik kemenangan, Rasulullah pun bersabda, “Sungguh besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, ia tidak kembali hingga diberi (Allah) kemenangan.”

Ketika shalat fajar di hari ketiga, Rasulullah mencari Ali bin Abi Thalib, ternyata ia sedang sakit mata, kemudian dipanggil dan diobati dengan ludahnya Rasulullah. Ali pun sembuh, kemudian diberikanlah benderana kepada Ali radhiyallahu anhu.

Rasulullah memberikan wasiat kepada Ali agar menyeru mereka (Yahudi) untuk masuk Islam sebelum menyerang, Rasul bersabda: “Demi Allah, andai Allah memberi petunjuk pada seseorang melalui usaha mu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah. Ali pun bertanya, “Wahai Rasulullah, atas dasar apa aku memerangi mereka?” Rasulullah menjawab, “Perangilah mereka hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selian Allah, dan Muhammad utusan Allah, jika mereka melakukannya…(HR. Muslim)

 

Ghayah Dan Wasilah

Imam Ibnu Abdil Izz rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwasannya tauhid adalah awal dakwah yang dilakukan oleh setiap Rasul, dan merupakan awal perjalanan dan tempat memulai perjalanan menuju Allah. Oleh karena itu yang pertama kali wajib bagi setiap mukallaf adalah bersyahaat.

Di dalam hadits ini terdapat ghoyah dan wasilah, ada tujuan dan sarana. Tujuannya adalah memasukkan manusia ke dalam tauhid (mengucap syahadat) dan sarananya adalah dengan jihad fi sabilillah. Kewajiban jihad yang diwajibkan Allah kepada Rasulullah dan umatnya ini tidak bertentangan dengan firman Allah, “Laa ikraaha fiddin,” tidak ada paksaan untuk (masuk) agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 256). Bisa kita lihat dalam lafal hadits, ‘uqatila an naasa’ yang bermakna saling (dari kedua sisi) memerangi, bukan hanya satu pihak saja. Sehingga anak kecil, wanita, orang tua dan yang tidak mengangkat senjata bukanlah objek jihad fi sabilillah (meskipun mereka termasuk manusia –sebagaimana dalam teks hadits), hanya mereka yang menentang jalan dakwah dan yang melawan-lah yang akan diperangi. Yang membayar jizyah tidak diperangi, yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin pun juga tidak diperangi. Jelas sudah bahwa memang tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam.

 

Menghukumi Dengan Dzahirnya

Syahadat yang terucap membuat pelakunya mendapat jaminan keamanan dari Islam, aman darahnya dan aman hartanya, bahkan aman kehormatannya. Dengan terucapnya syahadat, maka rehatlah jihad. Islam menghukumi umatnya dengan dzahirnya (sesuatu yang tampak).

Bila orang kafir telah masuk Islam dengan bersyahadat, maka selanjutnya secara bertahap ada syariat-syariat yang wajib dilaksanakan, seperti menegakkan shalat wajib, shalat merupakan kewajiban kedua (rukun islam kedua) setelah bersyahadat, mendirikan shalat berarti mengerjakan pada waktunya, mengetahui rukun, syarat sah dan sunnah-sunnahya. Bila seseorang shalat maka sudah bisa dipastikan keislamannya secara lahir.

Berkata imam ats-Tsauri, “Hadits ini menunjukkan bahwa siapa saja yang meninggalkan shalat secara  sengaja maka dibunuh.” Para ulama berbeda pendapat apakah dibunuhnya karena murtad atau muslim yang terkena hukuman (had). (al-jaami’ fi syarh arbain: 1/369)

Pernah suatu ketika ada orang yang kurang puas dengan putusan Nabi, bahkan berkata kepada Nabi dengan perkataan yang kurang pantas. Maka Khalid bin Walid berkata: ‘Ya Rasulullah! Izinkan aku menebasnya.’ Nabi bersabda: “Jangan, bisa jadi ia mengerjakan shalat.” Khalid berkata: ‘Berapa banyak orang yang shalat berkata dengan lisannya yang tidak sesuai dengan hatinya.’ Rasulullah bersabda: “Aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati seseorang atau membelah isi perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang mengharamkan darah, harta dan kehormatan suatu kaum adalah syahadat, kemudian bila hak-hak syahadat tidak ditunaikan seperti shalat wajib dan zakat maka darahnya bisa kembali tertumpahkan. Allah berfirman:

“…jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada merka untuk berjalan (terjamin keamanannya).” (QS. At-Taubah: 5)

Wahisabuhum ‘alallahi, dan perhitungan mereka ada pada Allah. Allah akan menjadi hakim bagi perkara batin dan yang tersembunyi. Ia di dunia bersyahadat dan mengerjakan hak-haknya karena ingin mencari selamat dunai saja sedangkan hantinya mengingkari, maka nanti Allahlah yang akan menghukum kemunafikannya di akhirat. Nasalullah ‘afiyah was salamah.

Sumber: majalah arrisalah edisi 164