Memandu dengan ilmu

Syahadat Risalah Bag 1

0

Syarh Matan Ke- 29 Aqidah Ath Thahawiyah

 

وَإِنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ المُصْطَفَى، وَنَبِيُّهُ المُجْتَبَى، وَرَسُوْلُهُ المُرْتَضَى

Dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya yang dibersihkan,

Nabi-Nya yang dipilih, dan Rasul-Nya yang diridhai.

Setelah memberikan penjelasan panjang tentang Tauhidullah yang merupakan kandungan syahadat Tauhid, Abu Jak’far Ath-Thahawiy memberikan penjelasan tentang Syahadat Risalah mulai matan ke-29 ini.  Di awal matan tentang Syahadat Risalah, Abu Ja’far menetapkan tiga sifat yang disandang oleh Muhammad bin Abdullah. Ketiga sifat itu adalah kehambaan, kenabian dan kerasulan.

 

Sifat Kehambaan

Kesempurnaan makhluk terletak pada kesempurnaan upayanya menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Semakin sempurna penghambaan seseorang kepada Allah semakin sempurna dan tinggi pula derajatya. Jika ada yang mengira bahwa makhluk yang keluar dari unsur kehambaannya adalah hamba yang sempurna dan tinggi derajatnya, sungguh ia telah keliru dan sesat.

Allah berfirman, “Mereka berkata, Ar Rahman telah mengambil (mempunyai) anak. Maha suci Allah. Sebenarnya (Malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan.” (QS. Al Anbiya’: 26)

Dan Muhammad bn Abdullah adalah seorang hamba, Allah menyebut kehambaannya dalam beberapa tempat, di antaranya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.” (QS. Al Isra’: 1)

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

“Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al Jin: 19)

فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى

“Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (QS. An Najm: 10)

Hamba yang  dimaksud dalam ketiga ayat di atas adalah Muhammad. Seorang hamba dan dibersihkan oleh Allah dari berbagai kotoran duniawi.

 

Sifat Kenabian

Setelah Muhammad bin Abdullah berumur 40 tahun Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk menurunkan wahyu yang pertama kepadanya. Sejak hari itulah ia terpilih menjadi seorang Nabi. Seorang yang dipilih oleh Allah dan mendapatkan wahyu dari-Nya tentang bagaimana cara beribadah kepada-Nya dan menjalani hidup sesuai dengan perintah-Nya.

Peristiwa penerimaan wahyu pertama itu beliau ceritakan kepada istri beliau tercinta, Khadijah. Khadijah yang sudah lebih dari 15 tahun mengenal kepribadian beliau yakin  dan menyakinkan suaminya, bahwa yang dialaminya bukanlah peristiwa yang buruk. Katanya, “Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu. Karena kamu menyambung tali rahim, berkata jujur, senang meringankan beban orang lain, menghormati tamu, berkerja keras, dan membela orang-orang yang memperjuangkan kebenaran.”

Nubuwah atau kenabian bisa didakwahkan oleh siapa saja. Dan realitanya memang demikian. Ada banyak Nabi palsu yang mendakwakan diri sebagai Nabi yang mendapat wahyu dari Allah. Namun semua tidak berumur panjang. Sebab suatu pengakuan  atau dakwaan, cepat atau lambat tidak berumur panjang. Sebab suatu pengakuan atau dakwaan, cepat atau lambat akan terbukti kebenarannya atau kedustaannya.

Kenabian Muhammad pun demikian. Lambat laun semakin nyata kebenarannya. Bahkan bagi orang-orang yang belum pernah bertemu dengan beliau dan baru mendengar kabar tentang akhlak mulia dan terutama kejujuran beliau sebelum menerima wahyu pertama. Adalah Negus, atau Najasyi, penguasa Habasyah di zaman nubuwah, me-recheck kebenaran kabar Nabi dan meminta seseorang untuk membacakan apa yang diturunkan kepada beliau. Setelah mendengarnya dengan seksama Najasyi berkata, “Sungguh, ini dan yang dibawa Musa bersumber dari misykat yang sama.”

Juga Hiraqla atau Heraclius, penguasa Romawi. Saat menerima surat dari Nabi ia meminta dicarikan orang yang mengenal betul siapa yang mengirim surat kepadanya. Kebetulan orang-orang Heraclius bertemu dengan Abu Sufyan yang kala itu sedang bersama kafilah dagangnya pulan dari negeri Syam. Waktu itu Abu Sufyan masih musyrik. Dan inilah penggalan percakapan menarik itu:

Heraclius bertanya, “Apakah sebelumnya ada seseorang yang mengaku sebagai Nabi, di negerimu?

Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.”

“Apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja?”

“Tidak ada.”

“Orang-orang yang mengikutinya, orang-orang yang mulia atau orang-orang yang hina.”

“Kebanyakan orang-orang yang hina.”

“Apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang?”

“Terus bertambah.”

“Apakah ada seseorang yang membalik kerena benci kepada agamanya, sesudah masuk memeluk agamanya?”

“Tidak ada.”

“Apakah kamu pernah menuduhnya sebagia pendusta sebelum ia mengaku seperti sekarang?”

“Tidak.”

“Apakah dia pernah berkhianat?”

“Tidak. Sekarang ini kami sedang dalam perjanjian damai dengannya. Kami belum tahu perkembangan terakhirnya.”

“Apakah kalian memeranginya?”

“Benar.”

“Bagaimana keadaan kalian saat memeranginya?”

“Kadang-kadang dia kalah, dan kadang-kadang kami yang kalah.

“Apakah yang diperintahkan kepada kalian?”

“Dia memerintahkan kami supaya haya menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan apa pun. Kami juga diperintahkan untuk meninggalkan tradisi nenek moyang kami. Kami diperintahkan mengerjakan shalat, membayar zakat, memelihara diri dari perbuatan keji, memenuhi janji, menyempurnakan kesanggupan, menunaikan amanat, dan menyambung tali rahim di antara kami,” jawab Abu Sufyan jujur.

Sejenak kemudian Heraclius berkata, “Kami bertanya kepadamu apakah ada orang lain sebelum dia yang mengaku sebagai Nabi. Sekiranya ada tentulah kami katakan bahwa dia adalah seorang yang mengikuti pekataan orang yang pernah datang sebelumnya.

“Kami bertanya kepadamu apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja. Jika ada tentulah kami katakan bahwa dia adalah seorang yang menuntut kerajaan nenek moyangnya,” lanjutnya.

“Kami bertanya kepadamu apakah orang-orang yag menjadi pengikutnya terdiri dari dari orang-orang mulia ataukah orang-orang yang hina. Kamu menyatakan bahwa kebanyakan pengikutnya adlaah orang-orang yang hina. Dan demikianlah keadaan para pengikut utusan Allah,” terusnya.

“Kami bertanya kepadamu apakah para pengikutnya semakin bertambah atau berkurang. Kamu menyatakan bahwa mereka semakin bertambah. Dan begitulah keadaan iman. Ia terus bertambah hingga sempurna,” katanya.

“Kami bertanya kepadamu adakah seseorang yang membalik sesudah menjadi pengikutnya karena membenci agamanya. Kamu menjawab, tidak ada. Demikianlah kenyataan iman sehingga meresap ke dalam jantung hati para pengikutnya,” sambunya.

“Kami bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat. Kamu menjawab tidak pernah. Dan begitulah para perusuh Allah. Tidak ada di antara mereka yang berkhianat,” imbuhnya.

“Kami bertanya kepadamu tentang ajarannya. Kamu menjawab bahwa dia memerintahkan kalian supaya hanya menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan apa pun. Juga memerintahkan kalian untuk meninggalkan tradisi nenek moyang, mengerjakan shalat, membayar zakat, memelihara diri dari perbuatan yang keji, memenuhi janji, menyempurnakan kesanggupan, menunaikan amanat, menyambung tali rahim, dan mengekalkan kasih sayang antar sesama. Jika yang kamu katakan itu benar, maka sungguh ia akan sampai ke sini dan menduduki kedudukan saya ini. Sungguh, aku tahu seorang Nabi telah diutus. Tetapi aku tidak menduga sama sekali Nabi itu dari bangsa kalian. Karena itu, jika saja aku berkesempatan menemuinya sungguh aku akan membasuh telapak kakinya,” pungkas Heraclius.

Kejujuran Nabi sejak usia muda sampai sebelum diangkat menjadi Nabi telah membuat orang-orang percaya bahwa dia adalah seorang Nabi. Dan beliau pun berpesan kepada kita untuk selalu berkata jujur karena hal itu akan mengantarkan kita ke taman firdaus yang abadi selamanya. (bersambung insyaallah)

Sumber: majalah arrisalah edisi 69 hal. 17-18