Memandu dengan ilmu

Syahadat Risalah Bag 2

0

Syarh Matan Ke- 29 Aqidah Ath Thahawiyah

 

وَإِنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ المُصْطَفَى، وَنَبِيُّهُ المُجْتَبَى، وَرَسُوْلُهُ المُرْتَضَى

Dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya yang dibersihkan,

Nabi-Nya yang dipilih, dan Rasul-Nya yang diridhai.

Kejujuran dan kebenaran Nabi Muhammad yang telah dibuktikan oleh orang-orang  yang hidup semasa dengan beliau pun semakin terbukti di masa-masa berikutnya. Ada banyak fenomena dan peristiwa yang beliau kabarkan, pada zaman itu belum benar-benar dimengerti atau belum terjadi, di masa-masa berikutnya baru benar-benar dimengerti dan terjadi.

Misalnya, pernyataan Nabi bahwa bulan pernah terbelah sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat al-Qamar ayat yang pertama. Sebelum tahun 2000, banyak fisikawan dan ahli astronomi yang mencibir saat mendengar keyakinan kaum Muslimin ini. Namun semua itu terjungkirbalikkan setelah David M Pidcock, seorang berkebangsawan Inggris menyatakan bahwa berdasarkan fakta-fakta bentuk, struktur, dan kontur daratan bulan, ia menyimpulkan bahwa bulan benar-benar pernah terbelah.

 

Mengingkari Kenabian Sama Dengan Mencela Allah

Mengingkari nubuwah dan risalah sama juga dengan mencela Allah. Yaitu menisbatkan sifat zhalim dan bodoh kepada-Nya.

Menganggap Muhammad bukan seorang Nabi, tetapi raja yang zhalim yang memutuskan halal-haram, menetapkan syariat, menghapus agama terdahulu dan memerangi pengikutnya, menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, menjadikan yang tertawan dari mereka sebagai budak; berarti menuduh Allah sebagai Dzat yang zhalim dan bodoh. Bagaimana tidak? Sedang Muhammad melakukan semua itu atas perintah Allah dan demi meraih cinta-Nya. Dan itu dilakukannya terus menerus selama 23 tahun. Bahkan selama itu Allah justru memberikan banyak kemenangan  dan pertolongan kepadanya, mengalahkan musuh-musuhnya, dan meninggikan panji-panjinya. Maha Suci Allah dari kedua sifat ini dan dari segala sifat kekurangan.

 

Kenabian Adalah Anugerah Teragung

Sejatinya keberadaan orang-orang yang mengingkari kenabian amatlah mengherankan. Sebab kenabian adalah anugerah Allah yang paling agung. Lebih agung daripada harta kekayaan atau kesehatan yang banyak dicari-cari dan dipertahankan. Secara umum Allah menyebutnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah berfirman,

Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Secara lebih spesifik Rasul datang untuk mengarahkan manusia kepada segala kebaikan dunia akhirat. Yaitu dengan menjelaskan aturan-aturan Allah, baik itu menyangkut kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan bahkan hubungan  dengan orang-orang non-muslim. Para pakar sejarah telah mencatat semua bukti nyata itu.

Allah berfirman, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)

Keberhasilan Rasulullah mengentaskan manusia dan kesesatan dan kejahiliyahan adalah fakta tak terbantahkan bahwa kenabian adalah anugerah Allah teragung bagi manusia dan kemanusiaan yang kemudian hal itu dilanjutkan oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

 

Beda Nabi dan Rasul

Sejak dahulu para ulama Ahlussunnah telah berbeda pendapat dalam membedakan definisi Nabi dan Rasul. Perbedaan pendapat di antara mereka berangkat dari perbedaan mereka di dalam memahami dalil-dalil syar’i yang memang menerima lebih dari satu penafsiran.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa Nabi dan Rasul adalah sinonim. Nabi sama dengan Rasul, dan Rasul sama dengan Nabi. Dasarnya –sebagaimana dasar pendapat-pendapat yang lain- adalah firman Allah,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu…” (QS. Al-Hajj: 52)

Pendapat Kedua, Nabi adalah laki-laki pilihan Allah yang diberi wahyu untuk dirinya sendiri; sedangkan rasul adalah laki-laki pilihan Allah yang diberi wahyu untuk dirinya sendiri dan untuk disampaikan kepada orang lain. Pendapat ini bermula dari pendekatan bahasa. Kata Nabi berasal dari kata naba’ dan inba’ yang berarti kabar dan memberi kabar, sedangkan kata Rasul berasal dari kata risalah dan irsal yang berarti mengutus.

Pendapat ketiga, membedakan Nabi dan Rasul dengan mengatakan bahwa Rasul diutus dengan Syariat yang baru sedangkan nabi diutus masih dengan syariat sebelumnya, untuk menegaskan atau mengukuhkannya. Dasarnya adalah istiqra’ dalil-dalil yang ada.

Pendapat keempat, menyatakan bahwa Rasul diutus kepada orang-orang yang menyimpang, orang-orang kafir, dan menyeru mereka kepada Islam; sementara nabi yang diutus untuk menegakkan hukum Allah di kalangan  orang-orang yang telah bertauhid. Pendapat keempat ini menambahkan bahwa Rasul tidak harus membawa syariat baru.

Dari keempat pendapat ini, pendapat yang pertama adalah pendapat yang paling lemah. Sebab dengan disebutnya kata rasul dan nabi secara berurutan  di dala surat al-Hajj: 52  tidak mungkin  Allah menyamakan antara keduanya. Allah tidak pernah mengatakan yang seperti itu di dalam al-Qur`an. Apalagi ada beberapa hadits yang secara  sharih menyebutkan perbedaan antara keduanya. Imam Ahmad, al-Hakim, dan Ibu Hibban meriwayatkan  dari Abu Dzar bahwa  ia pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para Rasul?” beliau menjawab, “Tiga ratus sekian belas. Jumlah yang banyak.” Sedangkan dalam riwaya Abu Umamah, Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para Nabi?” beliau menjawab, “114.000 orang. Di antara mereka ada 315 Rasul, jumlah yang banyak.”

Pendapat kedua ada kelemahannya. Telah dinyatakan secara tegas di dalam surat al-Hajj: 52 bahwa baik Nabi atau pun Rasul sama-sama diutus. Selain itu ada juga hadits yang menyebutkan bahwa Nabi pun diutus. Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, “Diperlihatkan kepadaku semua umat. Seorang Nabi lewat bersama satu umat. Nabi lainnya lewat bersama sepuluh orang. Seorang lagi lewat bersama lima orang. Dan ada Nabi yang lewat sendirian. Lalu kulihat jumlah yang banyak. Maka aku bertanya, “Wahai Jibril, apakah mereka itu umatku?” “Bukan,’ jawabnya, ‘Lihatlah ke ufuk!’ aku pun melihat ke arah ufuk. Ternyata ada umat dengan jumlah yang sangat banyak. Itulah umatmu,’ kata Jibril.”

Sedangkan untuk pendapat yang ketiga, ternyata ada ayat yang menjelaskan bahwa ada rasul yang diutus dengan syariat nabi sebelumnya. Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (QS. Al Mukmin: 34)

Juga firman-Nya,

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 163-164)

Satu hal perlu dicatat baik-baik, perbedaan pendapat dalam masalah ini tidak membahayakan iman sehingga tidak boleh menjadi alasan terjadinya permusuhan. Wallau ‘alam.

Sumber: majalah arrisalah edisi 70 hal. 17-18