Memandu dengan ilmu

Tafsir Surat al-Ikhlash

0

Syarh Aqidah ath-Thahawiyah ke-43:

فَإِن َّرَبَّنَا جَلَّ وَعَلاَ مَوْصُوْفٌ بِصِفَاتِ الوِحْدَانِيَّةِ‏ مَنْعُوْتٌ بِنُعُوْتِ الفَرْدَانِيَّةِ ‏.‏ لَيْسَ فِيْ مَعْنَاهُ أَحَدٌ مِنْ البَريَّةِ

 

(44) Sesungguhnya Rabb kita yang Maha Mulia dan Maha Tinggi tersifati dengan sifat-sifat Wahdaniyah dan sifat-sifat Fardaniyah. Tidak ada satu makhluk pun yang berada di dalam makna-Nya.

 

Menurut Ibnu Abil ‘Izz, matan Akidah Thahawiyah ke-44 ini merupakan ungkapan lain dari surat al Ikhlash. Surat dengan empat ayat yang disertakan oleh Rasulullah saw dengan sepertiga al-Qur’an, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan yang lain. Surat yang diturunkan oleh Allah sebagai jawaban atas keingin tahuan orang-orang kafir Quraisy tentang sesembahan yang ditawarkan oleh Rasulullah saw sebagai ganti dari berhala-berhala sesembahan mereka.

Tentu saja kalimat yang di pilih oleh Allah jauh lebih baik sempurna dari pada kalimat pilihan Abu Ja’far ath-Thahawiy dan kalimat manusia mana pun. Bahkan sekalipun itu Nabi saw.

Tentang kesetaraan surat ini dengan sepertiga al-Qur’an ada banyak penjelasan. Penjelasan paling baik diberikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Menurut penelitian beliau, keseluruhan al-Qur’an terdiri dari tiga bagian. Pertama berupa perintah dan larangan yang meliputi berbagai hukum Fiqh dan Akhlak. Kedua berupa kisah para Rasul dan kabar-kabar umat terdahulu, baik itu kebahagiaan yang mereka alami maupun adzab yang mereka derita. Dan ketiga, tentang tauhid. Mengingat surat al Ikhlash ini berbicara tentang tauhid, maka ia setara sepertiga al-Qur’an.

Ada juga penjelasan yang layak kita simak, datang dari Imam Abul ‘Abbas Suraij. Beliau pernah ditanya tentang makna surat al-Ikhlash setara dengan sepertiga al-Qur’an. Beliau menjawab, “Maknanya, al-Qur’an diturunkan dengan tiga bagian. Sepertiga tentang hukum, sepertiga tentang janji dan ancaman, dan sepertiga lagi tentang asma wa shifat. Surat ini menerangkan asma’ wa shifat.”

 

Sifat Wahdaniyah

Bagian awal matan ke 44 ini, bahwa Allah tersifati dengan sifat-sifat Wahdaniyah, semakna dengan firman Allah pada ayat pertama dari surat al-Ikhlash.

“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Dialah Allah’ yang mahaesa.”(Al-Ikhlash: 1)

Allah Maha Esa. Maknanya, Dia sendirian, tunggal, tiada sekutu, dan tiada tandingan. Sebab Dia Maha Sempurna dalam segala sifat kesempurnaan. Hanya dia yang ber-dzat dan ber sifat sempurna. Demikian para mufassir seperti Ibnu Katsir menafsirkan ayat pertama dari surat al-Ikhlash ini.

Di banyak tempat, al-Qur’an pun menetapkan hal ini. di antaranya:

“(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia; supaya mereka diberi peringatan dengannya, supaya mereka mengetahui bahwa dia adalah ilah yang mahaesa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim: 52)

“Katakanlah, ‘jikalau ada tuhan-tuhan selain Dian sebagaimana yang mereka katakan , niscahya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Dzat yang memiliki Arsy. Mahasuci dan mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakana dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra’: 42-43)

“Sekiranya dilangit dan dibumi ada tuhan-tuhan (yang benar) selain Allah, tentulah keduannya itu telah rusak binasa. Maha suci Allah yang mempunyai Arsy’ dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya’: 22)

 

Sifat Fardaniyah

Bagian tengah matan ini, bahwa Allah tersifati dengan sifat-sifat Fardaniyah, semakna dengan firman Allah pada ayat kedua dan ketiga

“Allah adalah ash-Shamad, tidak beranak dan tidak diperanakan.” (QS. al-Ikhlash: 2-3)

Sebenarnya sifat Wahdaniyah dan Fardaniyah tidak berbeda, menurut kebanyakan ulama. Sabagian ulama, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Abul ‘Izz, membedakannya dengan menyatakan bahwa sifat Wahdaniyah menyangkut dzat, sedangkan sifat Fardaniyah berkenaan dengan sifat.

Allah adalah ash-Shamad. Maknanya, Dia-lah yang dirujuk oleh seluruh alam dalam meminta dan memenuhi segala kebutuhan mereka. Ibnu ‘Abbas ra menafsirkan “ash-Shamad” dengan gamblangan, “Yang terhormat dan yang Maha Mulia dengan kehormatan dan kemuliyaan yang sempurna, yang Maha Agung dengan keagungan yang sempurna, yang Maha Penyantun dengan sifat penyantun yang sempurna, yang Maha kaya dengan kekayaan yang sempurna, yang Maha perkasa dengan keperkasaan yang sempurna, yang Maha berilmu dengan ilmu yang sempurna, yang Maha bijaksana dengan hikmah yang sempurna.”

Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Ini menunjukan kesempurnaan ash-Shamad-an Allah. Jika Allah beranak dan atau diperanakan berarti Allah butuh kepada sesuatu. Jika Allah butuh kepada sesuatu, tentunya tidak akan mampu memenuhi kebutuhan sekalian makhluk. Padahal pada kenyataannya Allah menjadi tujuan permohonan semua makhluk. Padahal realitannya Allah jauh dari yang seperti itu. Allah ash-shamad.

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal itu, di antaranya:

“Yang memiliki kerajaan di langit dan dibumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaanya, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannyadengan tepat. (QS. Al-Furqan: 2)

“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahman (yang msha pemuran) mempunyai anak. ‘ sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkaya yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Ar-Rahman (yang maha pemurah) mempunyai anak. Dan tidak layak bagi ar-Rahman (yang maha pemurah) mempunyai anak.” (QS. Al-Maryam: 88-89)

“Dan katakanlah, ‘segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tudak mempunyai sekutu dalam kerajaan-nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong. Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra’: 111)

“Katakanlah, ‘jika benar ar-Rahman (yang maha pemurah) mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (QS. Az-Zukhruf: 81)

 

Tiada yang setara dengan-Nya

Bagian akhirnya, bahwa tidak ada suatu makhluk pun yang berada di dalam makna-Nya, semakna dengan firman Allah pada ayat yang terakhir.

“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-nya.” (QS. Al-Ikhlash: 4)

Maksud tidak ada suatu makhluk pun yang berada di dalam maknanya adalah tidak ada makhluk yang memiliki dzat seperti dzat Allah. Tidak ada pula makhluk yang memiliki sifat seperti sifat Allah. Dzat makhluk memang ada. Tetapi berbeda dengan dzat makhluk mana pun, dzat Allah jauh dari segala kekurangan. Makhluk-makhluk mana pun bersifat. Ada diantara sifat-sifat mereka yang “sama” dengan sifat-sifat Allah. “Sama” dalam istilah saja. Manusia mendengar, dan malaikat pun mendengar. Tetapi pendengar semua makhluk ini jauh berbeda dengan pendengaran Allah yang sempurna. Manusia melihat, binatang melihat, jin melihat, dan malaikat pun melihat. Namun penglihatan semua makhluk ini jauh berbeda dengan penglihatan semua makhluk ini jauh berbeda dengan penglihatan Allah yang sempurna. Demikianlah, yang seperti ini berlaku untuk semua sifat-sifat Allah yang ‘Ula, tinggi.

Ayat-ayat yang menetapkan dan menegaskan ketiadaan sesuatu yang setara dengan Allah, baik dalam dzat maupun sifat, di antaranya:

“Tidak ada suatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dial ah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 74)

Demikian Wahdaniyah, fardaniyah, dan ketiadaan sesuatu yang setara dengan Allah, semua diterangkan oleh Allah didalam satu surat pendek dengan bahasa yang amat sangat jelas. Tentunya bagi mereka yang mengerti Bahasa Arab. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Ustadz Imtihan Syafi’i

Sumber: majalah arrisalah edisi 84