Memandu dengan ilmu

Tak ada Kuasa Di atas Kuasa Allah  Ta’ala

0

Syarh Matan Aqidah Thahawiyah 26-28

(26) Dia Mahatinggi dari semua musuh dan segala tandingan.

(27) Tidak ada yang menolak qadha’nya, tidak ada yang menolak hukum-Nya, dan tidak ada yang mengungguli urusan-Nya.

(28) Kita mengimani semua itu, dan kita menyakini bahwa segalanya datang darinya.

 

Tiada Penyelisih Tak Ada Penanding

Abu  Ja’far ath-Thahawiy menegaskan adanya penyelisih (adhdad, dhid) dan penanding (adhad, nid) hakiki bagi Allah  dengan matan ke-26. Kalau pun ada yang hendak menyelisihi, atau memusuhi, dan ingin menandingi Allah, maka sungguh kehendak dan keinginannya itu sia-sia belaka. Sudah banyak contohnya. Salah satunya adalah kisah namrudz, raja babilonia yang mendebat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengenai Allah.

Saat Nabi Ibrahim berkata, “Rabb-ku adalah yang menghidup kan dan mematikan,” Namrudz berkata, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” Kemudian Ibrahim berkata “Allah  menerbitkan Matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!” maka Namrudz pun bingung, dan tidak tahu harus menjawab apa seperti halnya ia bingung harus berbuat apa. Kisah ini diabadikan oleh Allah  di dalam surat Al-Baqarah ayat ke-258.

Contoh lainnya adalah Fir’aun, raja Mesir. Ia mengaku sebagai tuhan dan bahkan sempat memerintahkan haman, insinyurnya untuk membuat tangga yang menjulang kel angit untuk melihat Rabb-nya Musa. Yang terjadi, justeru ia dan bala tentaranya ditenggelamkan oleh Rabb-Nya Musa di laut merah. Pernyataan kufur Fir’aun itu di abadikan oleh Allah  di dalam surat Al-Qashash ayat ke-38.

Namrudz dan Fir’aun adalah contoh orang yang mencoba untuk mengajukan diri sebagai penyelisih, musuh, dan penanding Allah . Mereka tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa, dan tak ada seorang pun yang yang akan bisa. Yang ada hanya kesudahan yang buruk di dunia dan adzab yang pedih menunggu mereka di akhirat.

Bagi kita, cukuplah firman Allah , “Katakanlah (Muhammad), dialah Allah, yang Maha Esa. Allah  tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula di peranakan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Benar bahwa banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah  mempunyai beberapa sifat yang juga kita punyai. Allah  mempunyai sifat ilmu, kita pun punya. Allah mempunyai sifat hidup, kita pun hidup. Namun, sejatinya yang sama dari sifat-sifat itu hanya istilahnya saja. Ilmu kita di tambah semua ilmu makhluk hanya setetes air dibandingkan dengan keluasan samudera ilmu Allah. Hidup kita penuh dengan kekurangan dan keterbatasan, sementara hidup Allah  azali, abadi, dan penuh dengan kesempurnaan. Allah  Maha Tinggi, dzat dan sifat nya, untuk dapat disertai, untuk bisa ditandingi.

 

Tiada yang Menolak Tiada Ada yang Mengungguli

Setelah menerangkan bahwa tiada ada yang bisa dan mampu menandingi Allah  dalam dzat dan sifat nya, Abu Ja’far ath-Thahawiy menegaskan ketidak mampuan makhluk untuk itu dalam takdir. Sebenarnya tanpa diterangkan pun dari matan ke-26 orang bisa menyimpulkan. Namun karena realita menunjukan adanya banyak kelompok (baca: firqah) yang meluncur keluar dari Islam gara-gara masalah takdir, maka ath-Thahawiy pun mengkhususkannya.

Ketiga istilah: qadha’, hukum dan amr ini memiliki makna yang berbeda. Semua bermakna ketetapan. Ketetapan ini meliputi ketetapan kauni dan ketetapan syar’i.

Ketetapan kauni adalah ketetapan takdir. Termasuk di sana ketetapan Allah  atas segala sesuatu yang telah dan akan terjadi sejak 50.000 tahun sebelum dia menciptakan langit dan bumi.

Tentang ketetapan kauni kita bisa membaca,

Allah  berfirman,”apabila dia hendak menetapkan sesuatu,maka dia hanya berkata kepada nya,’jadilah!’maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Maryam:35)

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa kami mendatangi daerah daerah (orang-orang yang ingkar kepada Allah ), lalu kami kurangi (daerah-daerah) itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah  menetapkan hukum (menurut kehendaknya), tidak ada yang dapat menolak ketetapanya; dia maha cepat perhitungannya.” (QS. Ar-Ra’ad: 41)

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan ketetapan (perintah) nya.” (QS. Ar-Ruum: 25).

Tentang ketetapan syar’i kita bisa membaca,

“Dan Rabbmu telah menetaokan (memerintahkan) agar kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’:23)

“Dan bagaimana mereka akan mengankatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada)ketetapan hukum Allah ?” (QS. Al-Maidah: 43)

“Dan jika kamu hendak membinasakan sesuatu negri,maka kami tetapkan (perintahkan) kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah ).” (QS. Al-Isra’: 16)

Ketetapan, hukum, atau perintah Allah  yang bersifat kauni tidak ada yang bisa menghalangi. Jika ada seseorang yang dikehendai oleh Allah  akan mendapat rahmatnya, maka tidak ada yang dapat menahannya, sebenci dan sedengki apa pun orang yang hendak menahannya itu. Dan jika Allah  menahan sesuatu, maka tidak ada yang sanggup melepasnya, selama belum dikehendaki oleh-Nya. Apa pun yang dilakukan oleh manusia. Demikian juga jika Allah  hendak menimpakan musibah kepada seseorang atau kepada suatu kaum, tidak akan ada yang bisa mencegahnya, secinta dan sesayang apa pun orang yang hendak mencegahnya, ketetapan Allah  pasti terjadi.

“Dimana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokok.” (QS. An-Nisa: 78)

Dan Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba akan sampai kepada hakikat iman sampai ia mengerti bahwa apa saja yang menimpanya bukanlah sesustu yang salah sasaran (sehingga mengenainya); dan apa saja yang luput darinya memang tidak akan menimpanya.”

Kepada ibnu Abbas radhiyalahu ‘anhuma Rasululullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan, “Ketahuilah! Jika semua makhluk menghendaki sesuatu yang buruk atasmu, maka rencana mereka tidak akan pernah terlaksana.”

 

Dari Ketetapan Kauni Kepada Ketetapan Syar’i

Semua telah menyaksikan bahwa tidak ada yang mampu menandingi, menolak, atau mencegah ketetapan Allah  yang bersifat kauni. Dan kalau ada yang mencoba, kebinasaanlah hasilnya. Mestinya dari sini kita dapat memetik satu pelajaran berharga. Bahwa ketetapan Allah  yang bersifat syar’i pun harus diikuti, ditaati, dan dijalankan sebaik-baiknya. Jika terjadi penyimpangan pasti akan terjadi kerusakan yang bila dibiarkan akan menjadi bibit kehancuran. Sejatinya orang-orang yang mau berfikir akan sampai kepada kesimpulan ini meski seandainya tidak ada ayat-ayat Allah  yang menjelaskan ancaman bagi yang melanggar ketetapan syar’i nya dan menjadikan kenikmatan abadi bagi yang mentaati ketetapan syar’inya. Namun, kenyataannya jauh panggang dari api. Masih ada saja dan bahkan banyak orang yang berani menolak suatu ketetapan syar’i dari Allah. Allah umma sallimna.

 

Akhir Bagian Pertama

Matan ke-28 ini mengakhiri pembahasan Tauhidullah dan bagian pertama dari pembahasan takdir, Abu Ja’far ath-Thahawiy tidak menyatukan pembahasan takdir. Semoga kita berkesempatan untuk mengkaji bagian-bagian yang lain di pembahasan yang akan datang.

Makna matan ke-28 ini adalah bahwa pembahasan Tauhidullah dan bagian pertama pembahasan takdir yang telah lalu tidak hanya kami ucapkan. Untuk kita, tidak hanya kita baca dan kaji. Lebih dari itu kita mengimani dan menyakini dengan keimanan dan keyakinan yang menghujam sampai ke  dasar hati. Bukan kata dibibir belaka. Wallahu a’lam.

Sumber : majalah arrisalah edisi 68 hal. 17-19