Memandu dengan ilmu

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

0

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (QS. At-Taubah: 109)

 

Langkah awal untuk mendirikan sebuah bangunan adalah memasang pondasi yang kokoh lagi kuat. Agar bangunan yang berada di atasnya bisa lebih lenggeng, lestari dan tak mudah goyah oleh terpaan angin, tidak pula roboh karena terkikis air tanah di sekitarnya.

Begitu pula halnya dengan bangunan yang bersifat non fisik. Semua akan baik dan lestari ketika dibangun di atas pondasi yang kuat. Baik berupa bangunan rumah tangga, perkumpulan, aturan masyarakat, maupun lembaga dakwah dan perjuangan.

 

Langgeng, Jika Takwa Menjadi Pondasinya

Allah berfirman,

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (QS. At-Taubah: 109)

Meskipun ayat ini terkait dengan masjid dhirar yang dibangun untuk memecah belah kaum muslimin, namun lafazh ayat ini menunjukkan keumumannya. Sehingga Imam Al-Qurthubi menafsirkan, “Ayat ini menjadi dalil, bahwa segala sesuatu yang didasari takwa kepada Allah dan menghadap wajah-Nya, itulah yang akan membuat langgeng, pemiliknya berbahagia dan akan diangkat sebagai ahala di sisi Allah.”

Dalam berkeluarga misalnya. Ketika rumah tangga dibangun dengan pondasi takwa, niscaya menjadi bangunan yang elok dan kokoh, indah dan lestari. Dengan pondasi kuat yang disepakati itu, segala bentuk keindahan  dan kebahagiaan makin terjamin kelestariannya. Tak hanya harmonis di dunia semata, keluarga semisal ini bahkan akan terjaga kelanggeggannya hingga di jannah. Allah berfirman,

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (QS. Ar Ra’d: 23)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Allah mengumpulkan mereka semua, agar menjadi penyejuk mereka semua, agar menjadi penyejuk mata dan kebahagiaan denga berkumpulnya mereka dalam satu tempat yang sangat istimewa. Sebagaimana firman Allah,

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)

Maksudnya, kami samakan kedudukan mereka dalam satu tempat, agar menjadi penyejuk mata. Kami tidak memisahkan yang tinggi derajatnya dengan yang rendah derajatnya. Bahkan kami angkat derajat (anggota keluarga) yang amalnya kurang, lalu kami samakan dengan yang banyak amalnya, sebagai anugerah dan kenikmatan dari Kami.”

 

Rumah Tangga Tanpa Pondasi Takwa

Adapun keluarga yang dibangun tanpa didasari pondasi takwa, ia seumpama bangunan yang didirikan di tepi jurang, sebentar kemudian akan runtuh dan jatuh berserta seluruh isi dan penghuninya. Apakah berupa tujuan, kedudukan maupun kecantikan yang tidak disertai takwa. Ia mudah sekali goyah, gampang sekali runtuh dan hanya mampu bertahan ‘seumur jagung’. Lihat saja bagaimana rumah tangga para publik figur yang berkiblat ada budaya Barat. Mereka menjadi ikon dalam hal ketampaan dan kecantikan. Kekayaan? Siapa ang menyangsikan banyaknya kekayaan mereka? Bagitupun dengan status sosial dan ketenaran, mereka juga memilikinya. Tapi soal rumah tangga, bukan lagi rahasia, betapa rumah tangga mereka paling riskan dengan problem dan perceraian.

Karenanya, Nabi bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat alasan; karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka utamakan agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari)

Harta tanpa takwa, bukanlah pengikat cinta, bukan pula jaminan harmonisnya keluarga. Bahkan sangat berpeluang menjadi pemicu konflik yang tidak terjinakkan. Begitupun dengan kedudukan dan kehormatan di mata manusia. Tanpa takwa, dalam sekejap akan berubah menjadi kehinaan. Seperti yang pernah dialami seseorang yang bertanya kepada Sufyan bin Uyainah, “Wahai, Abu Muhammad (yakni Sufyan), aku adalah lelaki yang paling hina dan rendah di mata istriku.” Lalu Sufyan mencoba menebak, “Mungkin, engkau menikahiya demi meraih kedudukan dan kehormatan?” lelaki itu menjawab, “Ya, memang benar wahai Abu Muhammad.” Kemudian Sufyan memberikan nasehat, “Barang siapa berbuat karena ingin mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan.”

Tak terkecuali kecantikan. Betapa singkatnya keharmonisan rumah tangga yang hanya dibangun atas dasar keelokan rupa tanpa takwa. Bukankah kecantikan fisik seorang wnaita hanya bertahan sangat sementara? Terkadang, belum lagi kecantikan luntur, musibah telah terjadi lebih awal. Mungkin karena istrinya yang cantik tergoda oleh laki-laki lain, atau setidaknya bertingkah dengan sesuatu yang selalu memantik kecemburuan suami, la haula wa laa quwwata illa billah.

Bila ada kondisi lain, di mana rumah tangga dibangun bukan karena takwa, namun bisa harmoni sampai mati, pun tidak bisa dikatakan lestari dan langgeng. Seperti keharmonisan antara Abu Lahab dan Ummu Jamil, yang seia sekata untuk memusuhi dakwah Nabi. Karena keharmonisan itu hanya bertahan di dunia yang sangat sementara. Adapun di akhirat, hubungan itu akan berubah menjadi permusuhan, tidak ada lagi istilah akur, kompak, apalagi harmoni. Allah Ta’ala berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)

Maka jika kita mendambakan rumah tangga yang langgeng lagi berpahala, bangunlah dengan pondasi takwa. Rabbana hablana min azwaajinaa, wa dzurriyatina qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiina imaman. Amin.

Sumber: majalah arrisalah edisi 121 hal. 38-39