Memandu dengan ilmu

Tawakkal Datang Kesyirikan Hilang

0

Tawakkal Datang Kesyirikan Hilang

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ مَسْعُوْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: قَالَ “الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ”. ثَلاَثاً “وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهُ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ”

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah, beliau bersabda: “Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-. Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dinilai shahih oleh Al Albani)

 

Thiyarah Adalah Kesyirikan

Mengundi nasib dengan menerbangkan burung kemudian meyakini dirinya akan bernasib baik atau buruk, beruntung atau celaka karena burung terbang ke kanan atau  ke kiri mungkin sudah tidak banyak kita saksikan di sekitar kita. Itulah thiyarah yang disebut oleh Nabi  Muhammad sebagai perbuatan syirik. Karena bahayanya perbuatan ini beliau mengulang peringatannya hingga tiga kali.

Hari ini, menerbangkan burung untuk mengundi nasib jarang kita saksikan. Namun perbuatan yang semakna dengan ini sangatlah banyak. Sebab, tathayyur menurut  syaikh Ustaimin rahimahullah adalah mengangap sial atas apa yang dilihat, didengar atau yang diketahui.

Saat ini masih banyak orang yang meyakini akan terjadi sesuatu ketika melihat burung hantu, ada kupu-kupu masuk rumah, mendengar suara burung gagak di malam hari, atau kejatuhan cicak. Banyak pula yang merasa perlu menghitung angka angka kelahiran, pernikahan atau tanggal tertentu ketika hendak melakukan sesuatu dan menganggapnya sebagai hari baik. itu semua semakna dengan thiyarah yang merupakan kesyirikan.

Dan setiap kita akan mengalaminya, yaitu bisa terpengaruh akan suatu pertanda karena mengikuti ada kebiasaan yang sudah tersebar di masyarakat. Namun hal ini harus dilawan dan tidak boleh kita teruskan, yaitu dengan berkeyakinan bahwa hanya Allah lah yang mengatur segala sesuatu dari setiap kejadian kemudian selalu berharap kebaikan dari-Nya sekaligus meminta perlindungan kepada-Nya dari segala keburukan.

Rasulullah mengajarkan kepada kita doa, “Barangsiapa tidak melanjutkan aktivitas kebutuhannya (mengurungkan niatnya) karena thiyarah, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Para  sahabat bertanya: “Lalu apakah yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “hendaklah ia berdoa; ALLAHUMMA LAA KHAIRO ILLA KHAIRUKA WALAA THOIRO ILLA THOIRUKA WALAA ILAAHA GHOIRUKA (Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang datang dari-Mu, dan tidak ada burung (objek thiyarah) melainkan ia adalah makhluk-Mu, dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

Menghapus Kesyirikan

Penyakit dan obatnya disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits ini, thiyarah atau kesyirikan diobati dan dihilangkan oleh Alah dengan tawakkal. Allah memerintahkan kepada hambanya yang mukmin, bila benar iman mereka maka tentunya mereka hanya bertawakkal kepada-Nya, “Dan hanya kepada Allah lah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23)

Dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah, percaya akan hasil terbaik dari Allah disertai dengan usaha nyata, maka seorang akan lapang dadanya, optimis dalam bertindak dan tidak menjadi penakut. Sebaliknya jika seseorang menyandarkan sesuatu kepada selain Allah, maka ia kaan menjadi penakut, selalu diliputi was-was dan khawatir, dadanya sesak dan tidak optimis.

Tawakkal akan tampak pada mulanya dengan pembenaran hati bahwa Allah lah yang maha Esa, dan itu terlihat jelas dari lisan yang mengucapkan la ilaha illaah wahdahu la syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ala kulli syaiin qadir (tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah, yang maha Esa tidak ada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan dan pujian, dan Allah atas segala sesuatu maha Mampu dan menentukan)

Kemudian hatinya memahami dari ucapan lisannya, bahwa segala sesuatu yang terjadi ini adalah berasal dari Allah, dan tidak ada yang mampu berbuat kecuali Allah, seluruhnya tunduk kepadaNya, bahkan hanya kepada-Nya seseorang takut dan berharap.

Maka bila tawakkal sudah benar menancap dalam hati seseorang, ia tidak akan bersandar pada hujan untuk menumbuhkan tanaman, bersandar kepada awan untuk menurunkan  hujan, atau pun bersandar pada angin untuk menjalankan perahu. Bersandar kepada sesuatu selain Allah adalah kebodohan, dan siapa yang bisa menyingkap kakikat, maka ia akan tahu bahwa angin tidak bisa menghembus, awan tidak akan menurunkan hujan, dan air tidak menumbuhkan kecuali jika Allah menghembuskannya, menurunkan hujannya dan menumbuhkan tanamannya.

Berusaha Kemudian Bertawakkal

Bukan berarti dengan tawakkal kita meninggalkan usaha yang dapat menolak bencana. Justru tawakkal didahulukan dengan usaha yang benar, tidak menyengaja melakukan perbuatan yang bisa mendatangkan bahaya dan kerugian, tidak boleh kita tidur dibawah tembok yang akan runtuh.

Ada seseorang yang datang kepada Nabi, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah aku ikat untaku lalu aku tawakkal, atau aku lepaskan kemudian tawakkal, Maka Rasulullah menjawab, “Ikatlah untamu lalu bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi)

(ar risalah : 169)