Memandu dengan ilmu

Ta’wil Dengan Meninggalkan Ta’wil

0

Syarh Aqidah ath-Thahawiyah ke: 43

 

وَلَا يَصِحُّ الْإِيمَانُ بِالرُّؤْيَةِ لِأَهْلِ دَارِ السَّلَامِ لِمَنِ اعْتَبَرَهَا مِنْهُمْ بِوَهْمٍ، أَوْ تَأَوَّلَهَا بِفَهْمٍ، إِذْ كَانَ تَأْوِيلُ الرُّؤْيَةِ وَتَأْوِيلُ كُلِّ مَعْنًى يُضَافُ إِلَى الرُّبُوبِيَّةِ تَرْكِ التَّأْوِيلِ وَلُزُومِ التَّسْلِيمِ، وَعَلَيْهِ دِينُ الْمُسْلِمِينَ. وَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّ النَّفْيَ وَالتَّشْبِيهَ زَلَّ وَلَمْ يُصِبِ التَّنْزِيهَ

(43) Tidak sah keimanan salah seorang dari mereka yang mengimani ru’yah penghuni jannah, jika keimanan itu ditegakkan di atas prasangka (keraguan) atau ta’wil dengan pemikiran. Karena ta’wil ru’yah dan ta’wil apa pun yang disandarkan kepada Rububiyah ialah dengan meninggalkan ta’wil dan dengan melazimi taslim. Di atas prinsip inilah agama kaum muslimin berdiri. Barangsiapa tidak menjaga diri dari nafyi dan tasybih, dia tergelincir dan tidak sampai kepada tanzih.

 

Dengan matan ke-43 ini Abu Ja’far ath-Thahawi menegaskan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah di dalam mengimani nash-nash yang menerangkan sifat-sifat Allah dan berbagai makna yang dinisbatkan kepada-Nya. Yaitu menetapkannya sebagaimana ditetapkan oleh Allah sendiri dan oleh Rasulullah saw, tanpa mentanzihkannya, tanpa mentasybihkannya, dan tanpa menafikannya.

Inilah makna yang benar dari mengimaninya. Barangsiapa mengimaninya dengan cara yang lain, maka tidak sah imannya, cara lain itu adalah menghadirkan keraguan di dalamnya atau menta’wilkannya.

 

Tak Beriman Jika Masih Ragu

Iman artinya percaya dan yakin. Yakin artinya tidak ragu. Saat seseorang masih ragu terhadap sesuatu, sejatinya dia belum mengimaninya. Di dalam al Qur’an ditegaskan bahwa keyakinan adalah syarat mutlak bagi lurusnya iman. Allah berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 15)

“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.”  (QS. As Saba’: 54)

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. At Taubah: 45)

 

Hakikat Ta’wil

Ath Thahawi memilih ru’yah para penghuni surga kepada Rabb mereka di surga sebagai contoh kasus ta’wil lantaran nash-nash yang menerangkan sangat jelas. Demikian pula dengan pendapat para salaf mengenai ru’yah ini. Jika nash-nash yang sangat tegas saja dita’wil, maka nash-nash yang menjelaskan sifat atau makna lain yang dinisbatkan kepada Allah, pasti lebih disepelekan.

Kata ta’wil termuat beberapa kali di dalam al Qur’an, di antaranya,

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7)

“…Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al Kahfi: 82)

Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (QS. Yunus: 39)

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali ta’wilnya.” (QS.Al A’raf: 53)

Ta’wil dalam surat Ali Imran dan al-Kahfi di atas maksudnya –sebagaimana dipahami oleh para Salaf- adalah tafsir atau penjelasan. Sedangkan ta’wil dalam surat Yunus  dan al-A’raf di atas maksudnya adalah hakikat berita, realita peristiwa, atau pekalsanaan suatu perintah.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan, Aisyah bertutur, “Saat rukuk  Rasulullah memperbanyak bacaan, “Subhaanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirli. Metak’wilkan al Qur’an.

Maksud menta’wilkan al Qur’an adalah melaksanakan firman Allah,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. An Nashr: 3)

 

Tahrif bukan Ta’wil

Tidak ada di antara ulama salaf yang memaknai ta’wil dengan tahrif. Tahrif adalah meninggalkan makna yang benar dan memilih makna yang salah. Hanya golongan yang sesat -seperti Syi’ah- saja yang memaknai ta’wil dengan tahrif. Mereka menyebut tahrif dengan ta’wil, padahal penyebutan tidak merubah esensi dan subtansi sesuatu.

Ath-Thahawi -sebagaimana ulama Ahlussunnah lainnya- menggunakan kalimat yang beradab menghadapi orang-orang yang menyimpang. Beliau masih menggunakan bahasa yang mereka pakai saat meluruskan kesalahan mereka. Ath-Thahawiy mengatakan, “Karena ta’wil rukyah dan ta’wil apa pun yang disandarkan kepada Rububiyah ialah dengan meninggalkan ta’wil dan dengan melazimi taslim.”

Memang, di antara mereka yang melakukan tahrif dan menyebutnya dengan ta’wil, ada orang-orang yang memiliki tujuan yang baik. Mereka hendak menjauhkan berbagai sifat kekurangan  dari Allah. Semula mereka bermaksud melakukan tanzih. Mereka khawatir terjerumus menjadi orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya jka menetapkan salah satu sifat-Nya. Mereka tidak ingin menjadi golongan Musyabbihah.

Sayang sekali, segala  sesuatu tak cukup hanya dengan bermaksud. Yang dihitung adalah hakikat dan makna, bukan sekedar lafadz dan tujuan. Karena langkah mereka tidak seayun dengan langkah salaf, mereka pun sampai di tempat yang berbeda dengan tempat yang dituju para salaf. di antara nash-nash syar’i yang mereka ta’wilkan dengan ta’wil yang rusak adalah firman Allah,

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.” (QS. Al Qiyamah: 22-23)

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa.” (An-Nisa’: 164)

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung) kepadanya…” (QS. Al A’raf: 143)

Pada surat al Qiyamah mereka menyimpangkan makna melihat dan menggantinya dengan menunggu. Para surat an-Nisa’ mereka merubah subjek dengan objek, menukar keduanya. Allah yang sebenarnya berbicara diganti menjadi Musa yang berbicara kepada Allah. Adapun pada surat al A’raf mereka menyimpangkan makna berfirman dan menggantinya dengan melukai.

 

Tiga Hukum Tahrif

Para ulama menyatakan bahwa hukum tahrif berkisar pada tiga hukum: kufur, sesat dan keliru. Tahrif yang kufur seperti tahrif orang-orang Syi’ah yang menyatakan bahwa baqarah, sapi betina yang mesti disembelih dalam surat al Baqarah: 67 adalah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Nastaghfirullah. Tahrif yang sesat adalah tahrif yang dilakukan oleh ahli ta’wil. Seperti tahrif istiwa’, bersemayam dengan berkuasa. Sedangkan tahrif yang keliru dan pelakunya dimaafkan adalah tahrif yang tidak disengaja oleh sebagian Salaf terhadap sebagian sifat Allah. Seperti tahrif sebagian mereka terhadap kursi Allah dengan ilmunya. Wallahu ‘alam.

sumber: majalah arrisalah edisi 83