Memandu dengan ilmu

Tetap Mendapat Kebaikan Meski Dunia Terlewatkan

0

Tetap Mendapat Kebaikan Meski Dunia Terlewatkan

Dunia, harta dan segala yang mengelilinginya sangat mengoda, membuat hati manusia tidak pernah lelah mengejarnya. Bila sudah memiliki satu lembah lengkap dengan perhiasannya, maka pasti menginginkan yang kedua, begitu pula bila lembah kedua sudah dimiliki maka ia akan tetap mencari yang ketiga. Lebih buruk lagi, dengan banyaknya dunia yang dimiliki muncullah sifat bakhil karena saking cintanya dengan harta yang dimiliki.

Gagal dan tidak berhasil memperoleh dunia bukanlah akhir segala-galanya, ada harapan kebaikan dan keburukan di balik kadar yang telah ditentukan. Bahkan seluruh kebaikan akan didapat bila memenuhi empat perangai yang  disebutkan Rasulullah ini.

Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ، فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا : حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِي طُعْمَةٍ

”Ada empat hal (perangai),  yang mana jika dia ada pada dirimmu maka tidak mengapa jika dunia tidak ada padamu; (1) menjaga amanah, (2) perkataan jujur, (3) akhlak yang baik, (4) menjaga iffah dalam hal makanan”. (HR. Ahmad, Thabrani dan Baihaqi, dishahihkan al Albani)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata, “Nabiyullah tidak pernah berkhutbah di hadapan kami kecuali beliau mengatakan “Tidak sempurna keimanan seseorang ang tidak amanah, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak memenuhi janji.” (HR. Ahmad)

Begitu pentingnya menjaga amanah ini, hingga Rasulullah selalu menyampaikan pesan ini di dalam khutbahnya. Bahkan di akhir masa hidupnya, Nabi Muhammad berwasiat kepada umatnya untuk memberikan dan menunaikan amanah kepada yang berhak.

“…Dan barang siapa mendapat amanah maka sampaikanlah amanah itu kepada orang yang diamanahi…” (HR. Ahmad)

Ternyata amanah tidaklah terbatas pada barang yang dititipkan, perkataan yang dirahasiakan, pekerjaan yang diemban, jual beli yang kita lakukan. Tetapi termasuk makna amanah adalah apa yang difirmankan Allah dalam surat Al Ahzab ayat 72, yang maknanya adalah mengaja kewajiban-kewajiban agama dan menjaga batasan-batasan Allah.

Berkata Yang Benar

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 70-71)

Allah tidak akan pernah ingkar dengan janji-Nya, bila kita selalu berkata dengan perkataan yang benar maka Allah akan memperbaiki amal kita, ditambah pengampunan dari-Nya. Dengan dua janji ini cukuplah seorang muslim bersemangat untuk menjaga dan menahan lisannya. Apalagi ditambah dengan sabda Rasulullah, “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan menghantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan menghantarkan pada surga… hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan menghantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan menghantarkan pada neraka…” (HR. Muslim)

Jujur dan mengatakan perkataan yang benar dalam jual beli pun bisa mendatangkan kebaikan. Rasulullah bersabda,

“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bisa jadi dengan jujur kita mendapatkan keuntungan yang sedikit, tapi yang sedikit diberkahi Allah adalah lebih baik daripada banyak namun tidak mendapat keberkahan dan justru mencelakakan dunia akhirat.

Husnul Khaliqah

Rasulullah bersabda, “Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani)

Beliau telah mencontohkan kepada kita bagaimana akhlak yang baik. yaitu yang sesuai dengan kitab Allah, maka ia lah yang memiliki akhalak yang baik. Aisyah pernah ditanya bagaimana akhlak Rasulullah, maka beliau menjawab, “Sesungguhnya akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Maka siapa saja yang melakukan perintah Allah dan melakukan perkara yang tidak menyelisihi Al-Qur’an,ia mempunyai akhlak yang baik. dan siapa saja yang bertentangan dengan perintah Al-Qur’an, melakukan larangan-larangan Allah maka ia tidak memiliki akhlak yang baik.

Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Akhlak yang baik di antaranya: menghormati, membantu, dan menolong.” Ibnul Mubarok rahimahullah berkata, “Akhlak yang baik adalah, berwajah cerah, melakukan yang ma’ruf dan menahan kejelekan (gangguan).” Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Akhlak yang baik adalah jangan marah dan dengki.” (Al Ittihafat as Sunniyah, Maktabah Syamilah:1/74)

Menjaga Makanan

Berhati-hati dari setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut merupakan kezuhudan, bahkan ia adalah ciri ahlus sunnah wal jama’ah, sebagaimana dikatakan Fudhail bin Iyadh, ashabus sunnah adalah mereka yang mengerti apa saja yang masuk ke dalam perutnya. (Abu Nu’aim, hilyah 8/104)

Tak hanya selamat di dunia dengan terhindar dari berbagai penyakit, dengan menjaga makanan yang halal kita bisa selamat di akhirat dengan dikabulkannya doa-doa dan diterima amal kita di dunia, serta selamat dari api neraka karena tidak ada daging yang tumbuh dari yang haram.

Hadits panjang, “innallaha thayyibun laa yaqbalu illa tayyiban, Allah itu thayyib tidak menerima kecuali yang thayyib, mengisyaratkan bahwa aml tidak akan diterima kecuali dengan makanan yang halal dan makanan yang haram bisa merusak amalan. (ar risalah : 160)