Tiga Perusak Ukhuwah

0

Untuk membangun ukhuwah dalam dakwah dan jihad harus dimulai dari sebuah kesadaran baha menegakkan Islam ini adalah proyek bersama milik seluruh harokah/pergerakan Islam. Bukan monopoli satu kelompok. Sehingga masing-masing kelompok merasa diri mereka terikat kontrak iqomatuddin, dan menundukkan kolompok lainnya sebagai partner dalam dakwah maupun jihad ini.

Oleh karena itu, masing-masing harus toleransi dalam perbedaan-perbedaan ijtihadiyah, dan saling berta’awun (tolong-menolong) dalam perkara-perkara yang disepakati.

Agar perjalanan ukhuwah islamiyah antar umat Islam terus berkesinambungan, semakin meresap ke dalam jiwa. Masing-masing muslim penggiat dakwah dan jihad, harus menghindari perkara-perkara yang menjadi petaka perusak ukhuwah. Antara lain:

Pertama: Sombong, dan merasa diri lebih mulia. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Ia merasa dirinya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh seliannya. Dia merasa diri lebih mulia dan utama daripada saudara yang lain, baik dalam satu jama’ah atau jama’ah lainnya.

Penyakit sombong akan menghilangkan akhlak dan prilaku baik, serta melahirkan akhlak yang buruk. Bahka melahirkan sifat-sifat khawarij, yaitu keasa kepada sesama muslim. Sehingga ia begitu gampang mencemarkan kehormatan saudaranya. Inilah malapetaka ukhuwah yang paling mematikan.

Penyakit ini sulit disembuhkan, inilah yang menjadikan iblis terusir dari surga Allah terlaknat selama-lamanya.

Kedua: Ghibah, Namimah, Merendahkan dan mencari-cari Kesalahan orang lain.

Inilah kenapa Allah Ta’ala melarang orang-orang beriman dari mengejek atau mencela saudaranya. Perusak-perusak ukhuwah ini dirangkum oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat: 12)

Ketiga: Rasa Marah dan Hasad.

Keduanya bisa memakan habis ukhuwah Islamiyah, ibarat api yang memakan kayu bakar. Dalam banyak ayat dan hadits, Allah serta Rasul-Nya mengharamkan sifat ini ada pada seorang muslim.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Datang kepada kalian penyakit orang-orang sebelum kalian, yaitu; hasad (iri), dan kemarahan yang (dituruti). Keduanya ibarat gunting, tetapi bukan menggunting rambut. Tapi, menggunting (mencukur) agama (ad-din) demi Dza yang jiwa ku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang membuat kecintaan kalian mendalam? Sebarkan salam di tengah kalian.” (HR. Tirmidzi)

Sumber : Majalah An Najah edisi 117 hal. 6

Penulis : Akrom Syahid