Titik Kelezatan Dalam Puncak Penghambaan

0

“Satu malam pengantin yang dihadiahkan kepadaku tidak lebih aku sukai daripada satu malam yang dingin mencekam sementara saya berada dalam barisan yang esok harinya handak berjihad fi sabilillah.” Demikian penggalan kalam dari Si Pedang Allah Yang Terhunus, Khalid bin Walid sebagaimana tersebut dalam Siyarul A’lam an-Nubala’ karya Imam Adz-Dzhabi.

 

Berat Tapi Nikmat

Pandangan nafsu mungkin menaruh ragu, pandangan akal yang dangkal bisa jadi pula akan menyangkal, bagaimana mungkin bermalam di medan perang lebih nikmat dirasa daripada malam pertama yang dilalui oleh pengantin baru?

Mungkin ada pula yang menganggap janggal pengakukan Abu Sulaiman ad-Darani tentang nikmatnya shalat malam, “Kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang beribadah di malam hari lebih hebat daripada hiburan orang-orang yang berfoya-foya di siang hari. Jika bukan karena waktu malam, maka aku tidak suka berlama-lama hidup di dunia.”

Begitupula dengan kelezatan shaum di siang hari yang panas, hingga tatkala terlewat sehari saja  amat disesali oleh Amir bin Abdil Qais. Saat beliau sakit menjelang ajalnya, beliau berkata, “Sungguh aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ambisi untuk hidup lama di dunia, tapi saya menangis karena tak lagi bisa shaum di hari yang panas dan shalat di malam yang dingin.”

Begitu pula ibadah lain seperti membaca al-Qur’an, dzikir, zakat maupun haji tak terhitung banyaknya testimoni akan kenikmatan yang dirasakannya. Meskipun secara lahir tampak berat, butuh curahan tenaga, berkorban harta dan bahkan mempertaruhkan nyawa.

Hal ini tidaklah aneh, ketika Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, maka Allah juga menganugerahkan kenikmatan dalam ibadah, sehingga manusia mampu meraih dua kenikmatan sekaligus, di dunia maupun di akhirat.

 

Mencari Sisi Kelezatan Dalam Ketaatan

Orang yang pernah merasakan sisi kelezatan dalam ibadah dan penghambaan, tak butuh penjelasan panjang, karena mereka telah mengalaminya. Kenikmatan seperti ungkapan yang sangat populer tentangnya, “Laa ya’rifuhaa illa man dzaaqaha”, tidak akan dimengerti melainkan oleh orang yang telah merasakannya.

Memang, secara ‘haqqul yaqiin’ kelezatan ibadah hanya bisa dicapai dan dimengerti oleh orang yang pernah mencicipinya. Akan tetapi, kenikmatan itu bisa dimengerti juga oleh oang yang belum merasakannya secara langsung, meski baru sebatas ‘ilmul yaqiin’. Karena sisi kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang  beribadah  bisa diterima  secara nalar, dan telah jelas ditunjukkan oleh dalil-dalil yang shahih. Dan secara ‘ainul yaqiin’, kita juga bisa menyaksikan kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang memberikan totalitas penghambaannya hanya kepada Allah semata.

Kelezatan yang diperoleh dalam ketaatan, penghambaan dan pengabdian kepada Allah tidaklah sama dengan kenikmatan yang bersifat hissiyah (inderawi), materi maupun kepuasan syahwati. Ia lebih hakiki, lebih langgeng dan tidak meninggalkan dampak yang membahayakan ataupun merugikan.

Abdullah bin Wahab berkata, “Segala kelezatan itu hanya diraskan sekali yakhi saat anda tengah menikmati. Kecuali kelezatan ibadah. Saat anda menginganit dan saat anda menerima ganjarannya nanti.”

Bagi yang masih menganggap aneh dan janggal kenikmatan yang dirasakan ahli ibadah dan orang yang berjihad fi sabilillah, mestinya lebih menganggap aneh pernyataan salah seorang atlit yang terpilih sebagai pembawa obor SEA Games tahun 2011 lalu. Saat wawancara ia berkata, “Ini suatu kehormatan bagi saya. Saya sangat bahagia bisa terpilih menjadi pembawa obor di pembukaan SEA Games 2011 ini, Ia juga menyatakan, “Tidak semua orang bisa membawa obor di pembukaan nanti. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa. Saya bangga sekali.”

Padahal yang kita tahu, untuk membawanya  ia harus bersusah payah berlari puluhan kilometer, dan sebelumnya harus melewati seleksi yang ketat dan sulit. Lantas dimanakah letak kenikmatan itu? Kenikmatan itu ada karena  ia merasa terpilih untuk memberikan kontribusi, mencurahkan pengabdian dan setidaknya  bakal ada imbalan yang akan didapatkannya. Barangkali, rasa letih yang ia rasakan saat berlari terlalu ringan bila dibandingkan kadar kegembiraan dan kebanggaan yang dirasakannya.

Jika orang yang memiliki orientasi dunia saja bisa merasakan sisi kenikmatan dalam pengorbanan, lantas bagaimana halnya denga orang mukmin, yang memiliki orientasi akhirat. Yang telah mengikrarkan dirinya utuk mendedikasikan  hidup dan matinya untuk mengabdi kepada penciptanya,

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al An’am: 162)

Betapa ia merasa terhormat dan berbahagia saat terpilih dan mendapatkan peluang untuk mencurahkan pengorbanan demi Rabbnya. Generasi terbaik umat ini, para sahabat Nabi berbondong-bondong saat mendaftarkan diri mereka bergabung dalam perang tabuk, meski harus menempuh perjalanan hampir 1.000 km untuk bertemu musuh. Hingga jumlah mereka mencapai 30.000 pasukan.

Bahkan sebagian mereka yang tidak bisa bergabung karena keterbatasannya, merasa menyesal karena merasa tidak mampu memberikan  kontribusi apa-apa. Seperti yang Allah kisahkan tentang mereka.

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At Taubah: 92)

Jangan pula merasa heran, ketika Shuhaib dan Sinan rela meninggalkan seluruh perbendaharaan kekayaannya, lalu tanpa bekal kekayaan dunia ia mengembara jauh menuju Madinah untuk berhijrah kepda Allah dan Rasul-Nya. Meski secara lahir ia berjalan terlunta tanpa harta di tangannya, tapi padanya ada kenikmatan yang lebih dahsyat ia rasakan saat bersanding dengan hartanya. Allah memberikan pujian atas beliau juga keada orang-oran yang semisal denganya,

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Baqarah: 207)

 

Nikmatya Pemhambaan, Lezatnya Kedekatan

Jiwa manusia akan merasakan bangga, bahagia dan puas ketika bisa mengorbankan sesuatu yang berharga untuk yang dicinta. Maka jangan heran, kecintaan hamba kepada Rabbnya menjadikan ia berharap ketika bisa mencurahkan segenap tenaga, harta bahkan nyawanya.

Inilah yang disebut dengan ilitizam bil khidmah wasy syu’ur bin nisbah. Yakni ketika seorang merasakan kelezatan saat ia mampu memberikan total penghambaan  dan merasakan kedekatan dengan dzat yang paling dicintainya.

Ada ilustrasi lain  untuk menggambarkan di mana sisi nikmat orang yang melakukan penghambaan. Apa yang bisa dirasakan oleh seorang rakyat biasa, lalu tiba-tiba ia mendapat  tugas untuk menyambut kedatangan seorang presiden, dan diminta untuk menyajikan minuman kesukaan presiden? Umumnya ada rasa bangga dan bahwa tugas itu dianggapnya sebagai bentuk kehormatan, bukan lagi beban apalagi penghinaan. Sehingga ringan dan dengan senang hati ia melakukannya.

Orang telah merasakan manisnya shalat malam, jauh merasakan kenikmatan dibanding seorang rakyat yang medapatkan kehormatan menjamu presiden. Ketika seorang hamba yang merasa rendah di hadapan Rabbnya, lalu ia berkesempatan menyambut-Nya saat dia turun ke langit dunia, tentulah merasakan bahagia luar biasa. Bukankah Allah turun ke langit dunia di malam hari, dan menawarkan segala solusi, anugerah dan pengampunan bagi yang sudi menyambut dan berdoa kepada-Nya. Nabi bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

 

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)

Adalah Abu Ishaq as-Sabi’i merasa mendapat kehormatan karena bisa bermunajat di waktu yang spesial, menyambut turunnya Allah ke langit dunia di sepertiga malam terakhir. Hingga beliau merasakan kenikmatan saat berdiri shalat. Ketika usianya sudah renta, perlu orang memapahnya untuk berdiri shalat, tapi ketika telah berdiri, seribu ayat mampu beliau baca saking nikmatnya. Suatu kali beliau juga berkata, “Telah rapuh tulang saya, telah renta usia saya, malam ini saya tidak mampu berdiri shalat melainkan hanya membaca surat al-Baqarah dan Ali imran saja.” Allahu Akbar, padahal kedua surat tersebut hampir mencapai empat juz.

 

Mengingat pahala yang didapat.

Kelelahan akan sirna saat seseorang yakin bahwa usahanya akan menghasilkan sesuatu yang berharga. Rasa sakit segera terobati, derita menjelma menjadi bahagia dan rasa penat berubah menjadi nikmat. Sebesar apapun pengorbanan yang dikeluarkan seorang hamba menjadi ringan dirasakan.

Seorang dermawan akan merasa ringan, senang dan puas ketika bersedekah di jalan Allah, kenapa? Karena ia yakin, Allah akan memberi ganti dengan sesuatu yang lebih baik. Seperti Firman Allah,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Pada tingkatan pengorbanan paling tinggi berupa nyawa, seorang mukmin tak menilainya sebagai tindakan sia-sia, karena ganti yang didapatkannya lebih berharga dari nyawa itu sendiri, yakni kehidupan yang kekal dalm kenikmatan abadi.

Sehingga tatkala Haram bin Milhan terkena lemparan tombak fi sabilillah, sementara darah mengucur di kepala dan wajahnya, ia berkata, “Fuztu wa Rabbil Ka’bah”, aku telah berjaya, demi Rabb yang memiliki Ka’bah.

sumber: majalah arrisalah edisi 138 hal 9-11