Memandu dengan ilmu

Transplantasi Organ Orang Mati

0

Para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum transplantasi organ dari orang yang telah mati kepada orang yang masih hidup.

Pertama, sebagian ulama mengharamkannya. Di antara mereka adalah Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi, Abdurrahman al-Adawi, Abdussalam as-Sakari, dan lain-lain.

Mereka berargumentasi:

Transplantasi organ merupakan bagian dari perbuatan setan, yaitu merubah ciptaan Allah. Sebagaimana difirmankan Allah, setan telah bersumpah, “Sungguh aku akan memerintahkan mereka sehingga mereka merubah-rubah ciptaan Allah.” (QS. an-Nisa’ [4]: 119)

Transplantasi organ melanggar ketetapan Allah dalam memuliakan kedudukan manusia, saat mereka masih hidup maupun setelah mereka mati. Allah berfirman, “Dan sungguh Kami telah memuliakan anak keturunan Adam…dan Kami telah melebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan…” (QS. al-Isra’ [17]: 70)

Hadits-hadits shahih telah mengharamkan at-tamtsil, yaitu memutilasi anggota tubuh musuh Islam yang tewas di medan perang. Membedah jenazah dan mengambil sebagian organnya untuk ditanam pada tubuh orang yang masih hidup merupakan tindakan at-tamtsil. Jika terhadap jenazah musuh Islam saja tidak boleh dilakukan at-tamtsil, tentu melakukannya terhadap jenazah seorang muslim lebih dilarang lagi.

Islam mengharamkan tindakan apapun yang mengganggu dan menyakiti orang yang telah mati. Dari Aisyah bahwasanya Nabi SAW bersabda:

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

“Mematahkan tulang orang yang telah mati itu sama halnya dengan mematahkan tulang orang tersebut saat ia masih hidup.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni, dan al-Baihaqi. Dalam riwayat Ibnu Majah, Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, dan ad-Daraquthni dengan lafal “…sama dosanya…”).

Semua organ tubuh manusia bukanlah milik manusia, melainkan milik Allah SWT. Oleh karena itu, manusia tidak memiliki hak untuk menjual, menghibahkan, atau menyumbangkan organ tubuhnya kepada orang lain.

Kaedah fikih menyatakan “Sesuatu yang boleh dijual, boleh juga dihibahkan.” Maka hal yang tidak boleh dijual-belikan, seperti organ tubuh manusia, tidak boleh juga dihibahkan.

Kedua, mayoritas ulama memperbolehkannya jika memenuhi syarat-syarat yang ketat. Di antara mereka adalah Kementrian Agama dan Wakaf Kuwait, Hai’ah Kibar al-Ulama (Majelis Ulama Senior) Arab Saudi, Majma’ al-Fiqhi al-Islami (Dewan Fiqih Islam), Darul Ifta’ al-Mishriyah (Dewan Fatwa Mesir), Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah (Dewan Riset Islam), Dr. Wahbah az-Zuhaili, dan lain-lain.

Mereka memperbolehkannya dengan beberapa syarat:

Orang yang organnya akan diambil telah dipastikan mati yang sesungguhnya, bukan mati suri. Tandanya menurut mayoritas ulama dan dokter adalah semua organ tubuh orang tersebut tidak berfungsi lagi selama rentang waktu antara 30 sampai 140 menit, termasuk jantung, otak, dan paru-parunya.

Adanya izin terlebih dahulu dari orang yang mati tersebut (semasa ia hidup) atau izin dari walinya atau ahli warisnya. Orang yang mati tersebut atau walinya atau ahli warisnya haruslah orang yang telah berusia baligh, berakal sehat, sukarela bukan dipaksa, dan mampu memberikan persetujuan penuh.

Situasi darurat yang mengharuskan transplantasi organ tersebut, yaitu setelah semua upaya medis lainnya menemui kegagalan untuk menyembuhkan penyakit pasien yang masih hidup tersebut.

Menurut keyakinan atau dugaan kuat (berdasarkan pengetahuan dan pengalaman medis sebelumnya) jika tidak dilakukan tranplantasi organ akan mengakibatkan kematian pasien tersebut atau kerusakan para sebagian organ tubuhnya.

Menurut keyakinan atau dugaan kuat (berdasarkan pengetahuan dan pengalaman medis sebelumnya) tranplantasi organ tersebut akan sukses dilaksanakan dan sukses memberikan kesembuhan kepada pasien.

Transplantasi organ tersebut tidak mengandung unsur jual-beli dan keuntungan materi apa pun bagi orang yang akan mendonorkan organnya, atau walinya, atau ahli warisnya. Organ tubuhnya harus  diberikan secara sukarela dan gratis, tanpa mempersyaratkan nilai ekonomis tertentu sebagai penukarnya. Sebab, menjual manusia atau organ tubuhnya adalah haram.

Orang mati yang akan diambil organnya adalah orang kafir harbi, atau orang murtad, atau orang Islam yang secara tinjauan syari’at terkena hukuman mati karena kasus pembunuhan disengaja, atau sebab lainnya. Adapun orang muslim biasa yang tidak terkena hukuman mati menurut tinjauan syariat tidak boleh diambil organnya, kecuali dalam kondisi darurat saat tidak didapatkan orang kafir harbi, orang murtad, atau orang muslim yang terkena hukuman mati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sumber: majalah hujjah