Memandu dengan ilmu

Tsabit bin Qais bin Syamas; Berwasiat Setelah Mati

0

Atas perintah khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq pasukan kaum muslimin yang dikomandoi oleh Khalid bin Walid menyusul pasukan Adi bin Hatim yang telah diberangkatkan terlebih dahulu.

 

Pasukan susulan terdiri dari para sahabat Muhajirin yang benderanya dipegang oleh Salim maula Abu Hudzaifah, para sahabat Anshar yang benderanya dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syamas, dan orang-orang Arab yang benderanya dipegang oleh pemuka kaum masing-masing. Setelah berhasil menyusul, Adi bin Hatim menyerahkan tongkat komando kepada sang pedang Allah, Khalid bin Walid. Mereka bersatu untuk membasmi Musailamah al-Kadzdzab, si nabi palsu dan para pengikut setianya.

Perang dahsyat berkecamuk tak terelakan. Denting suara pedang beradu, desau anak panah lepas dari busurnya, gemerincing baju besi tersabet pedang terdengar silih berganti. Satu demi satu korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Bumi Yamamah pun menjadi saksi kesungguhan dan kebenaran iman pasukan kaum muslimin.

Musailamah berhasil mengobarkan semangat pasukannya. Mereka memberikan perlawanan yang berarti. Mereka benar-benar berani mati mempertahankan kedustaan Musailamah. Pasukan Khalid terdesak. Mereka mengumpulkan kekuatan lagi, lantas maju serentak. Namun perlawanan pasukan Masailamah berhasil memukul mundur mereka. Bahkan ini terulang sampai tiga kali. Melihat keadaan yang genting itu, pemegang bendera Anshar, Tsabit bin Qais bin Syamas mengambil langkah berani .

“Bukan seperti ini perang-perang yang pernah kita alami bersma Rasulullah SAW,” serunya.

Tsabit bersama dengan beberapa orang sahabat menanam kaki masing-masing sampai sebatas betis, lalu bertempur habis habisan.

Apa yang dilakukan oleh Tsabit bin Qais bin Syamas dan beberapa orang sahabat membawa hasil. Pasukan Musailamah berhasil ditaklukan. Kemenangan gemilang diraih oleh pasukam kaum Muslimin.

Malamnya, seorang anak buah Khalid bermimpi. Dalam mimpinya, dia didatangi oleh Tsabit bin Qais bin Syamas. Tsabit berkata, “Ketika aku terbunuh kemarin, seseorang dari kaum muslimim melewatiku dan mengambil sebuah tameng yang harganya mahal dariku. Dia berada ditenda pasukan terdepan. Di depan tendanya ada seekor kuda yang tinggi sekali. Dia menutupi tameng itu dengan sebuah periuk batu, dan meletakan kakinya di atas periuk itu. Temuilah Khalid bin Walid supaya mengutus seseorang untuk mengambil tameng itu. Dan jika kamu telah sampai di hadapan khalifah Rasulullah SAW sampaikan kepadanya bahwa aku punya hutang kepada fulan dan fulan. Juga, fulan, budakku telah ku merdekakan. Satu lagi, jangan kamu anggap ini mimpi belaka sehingga kamu mengabaikannya.”

Orang yang bermimpi itu lantas menemui Khalid bin Walid. Khalid menyuruh seseorang untuk mengambil tameng itu. Orang itu mendapati tameng itu dengan keadaan persis seperti yang disampaikan oleh Tsabit. Orang yang bermimpi itu juga menghadap Abu Bakar dan menyampaikan pesan Tsabit kepadanya. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pun memenuhi wasiat Tsabit, meski wasiat itu disampaikan setelah kematiannya.

Siapakah gerangan sahabat yang diberi kesempatan untuk berwasiat pasca kematian ini? Dialah orator yang selalu mewakili para sahabat Anshar dalam berbagai kesempatan. Bahkan selanjutnya dia dinobatkan sebagai orator Rasulullah SAW. Waktu itu urusan Bani Tamim datang. Salah seorang dari mereka berdiri dan berorasi di hadapan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin dengan semangat membara, membanggakan berbagai perkara yang mereka miliki. Setelah selesai, Rasulullah saw memerintahkan Tsabit untuk  berorasi, menandingi semua yang telah disampaikan oleh utusan Bani Tamim itu. Tsabit berdiri dan berorasi dengan sangat baik. Rasulullah saw dan kaum muslimin berbahagia. Sejak saat itu Tsabit bukan hanya dikenal sebagai orator para sahabat Anshar, tetapi juga orator Rasulullah saw.

Suara lantang yang dianugerahkan oleh Allah kepada Tsabit sempat membuat Tsabit gundah. Pasalnya Allah menurunkan firmannya,

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara nabi; dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, sepaya tidak terhapus(pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 2)

Demi mendengar ayat itu tubuh Tsabit bin Qais bin Syamas gemetar ketakutan. Ia masuk kedalam rumah, mengunci pintu, dan tidak keluar-keluar lagi. Sikap Tsabit ini sampai ke telinga Rasulullah saw. Beliau menyuruh seseorang untuk memanggilnya. Kepada Rasulullah saw, Tsabit mengadukan keluh kesahnya, bahwa dia adalah orang yang besuara keras sehingga dia takut amal-amalanya terhapus tanpa disadarinya. Mendengar pengaduan Tsabit, Rasulullah saw tersenyum, lalu bersabda, “Sebaliknya, kamu hidup secara terpuji, kamu akan terbunuh sebagai syahid, dan Allah akan memasukanmu ke dalam surga.”

Kabar gembira dari Rasulullah SAW itu benar-benar terbukti. Tsabit bin Qais bin Syamas gugur sebagai salah seorang syuhada’ dalam perang Yamamah menghadapi orang-orang yang murtad, para pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Tsabitlah salah seorang dari mereka yang berhasil memantik kembali api semangat juang pasukan Islam yang nyaris padam.

 

Sumber: majalah arrisalah