Upaya Menjadi Generasi Pilihan Di Akhir Zaman

0

 

Akhir zaman adalah sebuah peristiwa yang niscaya terjadi. Disadari atau tidak disadari, bergulirnya waktu menhantarkan kita pada ujung dari kehidupan dunia ini. Bagi orang mukmin dekatnya hari kiamat sudah bagian dari pokok keimanan yang tak bisa ditinggalkan. Namun bagi orang-orang kafir, sikap mereka lalai dan berpaling dari peringatan. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya ;

“Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai lagi berpaling. Tidaklah Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Robb mereka melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain”. (QS. Al Anbiya’ : 1-2)

Fenomena yang terjadi saat ini sudah tidak diragukan lagi sebagai bagian dari tanda-tanda akhir zaman. Bagaimana tidak, sementara 15 abad yang silam baginda Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada kita bahwa diutusnya beliau pun telah menjadi tanda akhir zaman, sebagaimana sabda beliau :

“Aku diutus dan terjadinya hari kiamat adalah seperti ini (seraya menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah beliau)”. (HR. Bukhari)

Melihat dan memperhatikan dari dalil-dalil yang ada dan perkembangan zaman saat ini, maka sudah seharusnya bagi setiap jiwa yang masih memiliki secercah cahaya iman untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Karena hal itu adalah satu-satunya pilihan yang ada. Sekuat apapun kita untuk menghindar darinya, maka perlintasan waktu akan menggilas kita dan kemudian menjadi bagian dari orang-orang yang tidak memiliki nilai apa-apa. Berbeda halnya dengan orang yang memberanikan diri untuk menghadapinya dengan bekal iman, maka orang tersebut akan memiliki nilai tinggi dan menjadi prestasi atas yang lain.

Kholifah Rosyidah yang keempat Ali bin Abi Tholib telah mengatakan dan memberikan sebuah wasiat yang sangat berharga dalam masalah mempersiapkan diri untuk menghadapi datangnya hari kiamat dengan perkataan beliau :

 

ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

“Dunia pastilah berlalu meninggalkan dan akhirat datang menjelang. Setiap dari keduanya memiliki generasi, maka jadilah kalian anak-anak (generasi) akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak (generasi) dunia. Sesungguhnya hari ini yang ada amal dan tidak ada hisab (perhitungan), dan esok (akhirat) yang ada hanyalah hisab dan tidak (ada kesempatan) amal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shohihnya, dalam kitab Ar Roqoiq, bab: Al Amal wa Thuuluhu)

Dari sini, bisa nampak oleh kita bagaimana keberhasilan Rosululloh dalam menggembleng para sahabatnya untuk menjadi generasi akhirat. Sebagaimana yang tergambar pula dalam hadits lain yang menceritakan seseorang bertanya kepada Rosululloh  tentang kapan terjadinya hari kiamat. Lalu Nabi justru balik bertanya dengan pertanyaannya, apa yang sudah engkau siapkan untuk itu. Lebih lengkapnya kita simak penuturan Imam Al Bukhori dalam meriwayatkan hadits tersebut :

Dari Anas –semoga Allah meridloinya- bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Nabi  tentang hari kiamat, ia berkata ; “Kapan hari kiamat itu ?” (Nabi) menjawab ; “Apa yang sudah engkau siapkan untuknya ?” ia (laki-laki) menjawab : “Tidak ada, hanya saja aku mencintai Allah dan Rosul-Nya -, lalu (Nabi) menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai”. Berkatalah Anas : “Tidak ada yang membuatku lebih bahagia dari perkataan Nabi; “engkau bersama rang yang engkau cintai”; Maka akupun mencintai Nabi  dan begitu  juga kepada Abu Bakar dan Umar, serta aku berharap bersama mereka karena cintaku kepada mereka meskipun aku belum bisa beramal seperti amalan mereka”.(HR. Bukhari)

Selanjutnya, perlu kita mengetahui bagaimana mempersiapkan diri dalam menghadapi fenomena akhir zaman dan berupaya menjadi generasi pilihan  yang selalu berorientasi akhirat.

 

Mewaspadai gerakan destruktif dan makar

Menjadi generasi pilihan di akhir zaman, bukan berarti menjadi generasi yang hanya mengurusi kesholihan pribadi semata serta menutup kepekaan diri terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Bukan pula hanya disibukkan dengan perkara-perkara kebaikan sementara dirinya buta dari pengetahuan tentang keburukan. Sebuah tauladan mulia ditampakkan oleh salah satu sahabat Nabi yang bernama Hudzaifah bin yaman. beliau pernah menuturkan :

 

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

“Dahulu para manusia bertanya kepada Rosululloh tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang  keburukan, karena khawatir kalau keburukan itu mengenaiku”. (HR. Bukhari)

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa Nabi tidak hanya mengajarkan kebaikan saja akan tetapi memberitahukan juga tentang perkara-perkara yang harom lagi buruk agar kita menjauhinya dan mencegahnya. Sebagaimana perkataan seorang penyair  Abu Firos Al Hamdani;

عرفتُ الشرَّ لا للش … رِّ ( للشر ) لكن لتوقي

 – فمن لا يعرفُ الشرَّ … من الناسِ يقعْ فيه

 

Aku mengetahui keburukan bukan untuk (mengerjakan) keburukan… akan tetapi untuk menjaga diri darinya

Maka barang siapa yang tidak mengetahui keburukan/kejahatan dari manusia, niscaya dirinya terjatuh di dalamnya

Era akhir zaman adalah era penuh fitnah dan gelombang kerusakan. Sebagaimana yang telah diprediksikan oleh Rosululloh dalam sabdanya:

إِنَّ بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا وَيُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا سُيُوفَكُمْ بِالْحِجَارَةِ فَإِنْ دُخِلَ – يَعْنِى عَلَى أَحَدٍ مِنْكُمْ – فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَىْ آدَمَ

 

Dari Abu Musa Al Asy’ari beliau berkata; telah bersabda Rosululloh: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah terjadinya fitnah-fitnah seperti sepenggal malam yang gelap gulita, seseorang di pagi harinya sebagai seorang mukmin dan di sore harinya menjadi kafir, dan ada seseorang yang di sore harinya mukmin di pagi harinya menjadi kafir. Orang yang duduk di zaman itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berjalan di zaman itu lebih baik dari pada orang yang bekerja, maka patahkanlah oleh kalian busur-busur kalian dan putuslah tali-talinya, dan pukullah pedang-pedang kalian dengan batu, maka jika (zaman itu) masuk –atas salah seorang di antara kalian- maka jadilah engkau sebaik-baik dari kedua anak Adam”. (HR. Abu Dawud dan dishohihkan oleh Syekh al Albani)

Imam Syamsul Haq Abu Ath Thiib dalam kitab beliau ‘Aunul Ma’bud menjelaskan tentang maksud dari kata “maka jadilah engkau sebaik-baik dari kedua anak Adam” adalah menjadi Habil yang terbunuh bukan Qobil yang membunuh. (‘Aunul Ma’bud, juz 11 hal 227).

Di era ini, setiap jiwa yang beriman dituntut untuk ekstra hati-hati dan mawas diri dari setiap perangkap-perangkap syetan (baik dari golongan jin dan manusia). Dan saat ini pula, hati orang yang beriman merasakan adanya kerusakan-kerusakan dari segala sisi kehidupan yang ditimbulkan oleh-oleh kafir dan munafik.

Lihatlah polah tingkah mereka yang selalu membawa kerusakan namun berdalih sebagai suatu perbaikan. Perbuatan zina dilestarikan, sementara poligami dihancurkan. Aksi porno dilegalkan atas nama seni dan HAM, sementara di saat yang bersamaan orang-orang yang ingin menjaga kehormatannya dengan pakaian syar’I didiskriminasikan dan bahkan diintimidasi. Polah tingkah mereka telah dikabarkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :

“Dan apabila dikatakan kepada mereka janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, merek berkata : sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan. Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang berbuat kerusakan akan tetapi mereka tidak menyadari”.(QS. Al Baqoroh : 11 – 12)

Imam Ibnu katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat tersebut dengan menukil perkataan imam abu Ja’far : “Janganlah kalian bermaksiat di muka bumi ini, dan bentuk kerusakan itu adalah bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya orang yang bermaksiat atau orang yang menyuruh kepada kemaksiatan hakikatnya adalah orang yang berbuat kerusakan di bumi, dan kebaikan bumi hanya didapati dengan ketaatan kepada Allah” (Tafsir Al Qurân al ‘Adhim, juz 1 hal 67)

Di sisi lain, mereka (para pasukan syaithon dan tentara Dajjal) telah menabuh genderang permusuhan dan peperangan terhadap Islam dan kaum muslimin. Namun karena kelihaian mereka dan kelalaian kita, mereka telah “berhasil” (setidaknya untuk saat ini) menyusupkan permusuhan dan peperangan di bawah label cinta kasih dan perdamaian. Bagaimana saat sekarang ini telah kita lihat, penindasan terhadap kaum muslimin di suatu negri, lalu di negri lain mereka berteriak perdamaian dan cinta kasih. Namun sebaliknya jika di antara sebagian kecil dari mereka (orang-orang kafir) tertindas, langsung reaksi berlebihan dari mereka muncul. Inilah bagian dari strategi mereka dalam memusuhi dan memerangi Islam dan kaum muslimin.

Sebenarnya tabiat mereka (orang-orang kafir dan musyrik) telah dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :

“Sungguh akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan engkau dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman ialah orang yang berkata ; “sesungguhnya kami adalah orang nasrani”. Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri”. (QS. Al Maidah: 82)

Sudah selayaknya seorang mukmin memiliki sensitifitas terhadap permasalah besar dan genting ini. Tidak ada jalan dan pilihan lain kecuali dengan menghadapinya serta memberikan perlawanan sebagai ujud pembelaan terhadap diin Islam dan kaum muslimin.

 

Besarnya rintangan, nikmatnya balasan

Tidak diragukan lagi, dalam menghadapi permasalahan besar seperti fitnah akhir zaman ini memang membutuhkan kekuatan istiqomah yang lebih. Tidak mengherangkan jika Nabi pernah berpesan kepada salah seorang sahabat untuk istiqomah dalam menghadapi cobaan dunia. Sebagaimana yang diriwayat oleh Imam Muslim dalam kitab shohihnya :

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِىِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِى حَدِيثِ أَبِى أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ »

 

Dari Sufyan bin Abdulloh Al Tsaqofi ia berkata : aku berkata : “Wahai Rosululloh, ajarkan kepada ucapan dalam Islam yang aku tidak akan lagi bertanya kepada seorangpun selain engkau”. Beliau (Nabi) menjawab : “Katakanlah aku beriman lalu istiqomahlah”.

Beratnya istiqomah dalam menjaga iman dan islam ini diibaratkan oleh Rosululloh dalam hadits lain :

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا يَبِيعُ قَوْمٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا قَلِيلٍ الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

 

Dari Abu Huroiroh ia berkata: telah bersabda Rosululloh: “Celakalah orang Arab dari kejahatan yang telah mendekat berupa fitnah-fitnah seperti sepenggal malam yang gelap gulita, seseorang di pagi hari sebagai mukmin di sore hari menjadi kafir, ada suatu kaum yang menjual agamanya dengan sebagian dari dunia. Sedikit pada hari itu yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang menggenggam bara”. (HR. Ahmad)

Dahsyatnya fitnah akhir zaman betul-betul sebagai ujian bagi orang yang beriman. Orang yang berhasil di zaman itu adalah orang yang biasanya terasing dengan kebenaran yang dia bawa. Sebagaimana sabda Rosululloh:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ »

 

Dari Abu Huroiroh   ia berkata ; telah bersabda Rosululloh: “Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya dan beruntunglah orang yang terasing”. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain dijelaskan siapakah orang yang terasing itu. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya :

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

 “Yaitu orang-orang yang senantiasa mengadakan perbaikan ketika manusia telah rusak”.

 

Sifat-sifat generasi pilihan akhir zaman

Rusaknya manusia yang merupakan bagian dari pertanda akhir zaman, bukan berarti rusaknya seluruh generasi Islam. Terdapat kabar gembira yang disampaikan oleh Rosululloh terkait dengan eksistensi sebuah kelompok dari umat Nabi Muhammad ini yang selalu menjaga kemurnian Islam dan siap menjadi penjaga syariat yang mulia ini dengan berani berkorban dengan jiwa dan hartanya. Sebagaimana sabda Rosululloh:

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – قَالَ – فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ »

 

Dari Ibnu Juraij ia berkata; telah member khabar kepadaku Abu Zubair bahwa sesungguhnya dirinya mendengar Jabir bin Abdillah berkata : aku telah mendengar Nabi bersabda : “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang senantiasa berperang di atas kebenaran dan mereka nampak hingga hari kiamat nanti”, beliau bersabda: “Lalu turunlah Isa putra Maryam maka berkata pemimpin mereka: kemarilah dan sholatlah (menjadi imam) untuk kami, lalu beliau (nabi Isa) menjawab: tidak. Sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai ujud pemuliaan dari Allah untuk umat ini”. (HR. Muslim)

 

Saat ini, sebenarnya menjadi peluang bagi kita yang hidup di akhir zaman ini untuk menjadi bagian dari kelompok kecil yang disebutkan oleh Rosululloh tersebut. Jangan pernah kita berpikir untuk menggantungkan tangan kepada orang lain dalam masalah menghadapi fitnah akhir zaman ini.

Generasi pilihan akhir zaman adalah generasi yang selalu siap untuk menjadi orang terdepan yang memberikan pembelaan kepada Allah, Rosul-Nya dan syari’at Islam ini. Simaklah bagaimana Allah ta’ala menghendaki suatu kaum yang diidamkan dan dicintai oleh Allah ta’ala ;

“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, maka niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah dan mereka tidak takut celaannya orang-orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya . dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maidah : 54)

Semoga Allah ta’ala menjadikan kita bagian dari generasi pilihan di akhir zaman.