Ust. Abu Harits, Lc : “Sudah Lama Ngaji Masih Nyinyir dengan Krisis Al-Aqsha, Ada yang Salah Dalam Ngajinya

0

Kabar Madina Semarang

Tabligh Akbar Bersatu Bela Palestina di Semarang

Madina Cabang Semarang bekerjasama dengan Respons Organizer, pada Senin, (1/1/2018) mengadakan Tabligh Akbar Bersatu Bela Palestina, dengan tema, “Akankah Yerussalem Kembali ke Pangkuan Islam?”, bertempat di Masjid Pangeran Diponegoro, Semarang. Bertindak sebagai narasumber yaitu Abu Harits, Lc dari Jakarta dan Fahrurrozi Abu Syamil dari Yogyakarta.

Tema Palestina menghangat kembali akhir-akhir ini dengan di deklarasikannya secara sepihak Yerussalem sebagai ibukota Israel oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di awal Desember kemarin. Yang kemudian menimbulkan kecaman di berbagai belahan dunia, hingga akhirnya sidang umum PBB melakukan voting atas resolusi untuk menolak keputusan Donald Trump.

Hasil voting menunjukkan bahwa AS dan Israel kalah telak. Sebanyak 128 negara mendukung resolusi pembatalan pengakuan AS Donald Trump atas Yerussalem sebagai ibu kota Israel. (https://international.sindonews.com/read/1268042/40/as-israel-kalah-telak-soal-yerusalem-di-pbb-begini-reaksi-dunia-1513927727)

Dalam kesempatan itu, Fahrurrozi menjelaskan akan pentingnya legitimasi masyarakat dunia, khususnya diwakili PBB untuk melakukan perlawanan terhadap kedzaliman AS dan Israel. Ia mengatakan, “Jihad fii sabilillah (perlawanan) yang dilakukan kaum mustadh’afin sangat membutuhkan legitimasi masyarakat luas agar tidak segera dibahisi sebelum kuat”, paparnya.

Sementara itu disisi lain, Abu Harits menjelaskan panjang lebar tentang pentingya tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu-red) dan jihad yang diibaratkan sebagai dua sayap bagi seekor burung, tidak bisa dipisahkan, dan juga tidak bisa memilih bagian mana yang harus didahulukan. Karena kedua hal ini harus dilaksanakan secara serentak bersama-sama. Ketika ada yang bertanya : “Wahai Syaikh, mana yang didahulukan, berjihad atau tholabul ‘ilmi dulu?”, maka seorang syaikh, bernama Syaikh Abdul Qodir Al-Falistini berkata : “Ini pertanyaannya yang salah. Bagaimana mungkin Anda ingin bertholabul ‘ilmi tapi tidak ada semangat jihad? Dan bagaimana mungkin Anda dapat berjihad tanpa adanya bekal ilmu?”.

Lanjut Abu Harits, Lihatlah firman Allah Ta’ala dalam Surat Attaubah : 122, yang artinya : “Tidak sepetutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (waspada)”.

Ia menjelaskan ayat diatas, “Dan perhatikan, untuk apa kita bertholabul ‘ilmi? Yaitu untuk menjaga diri / waspada. Keadaan waspada itu kira-kira secara fisik duduk bersantai-santai, tidur-tiduran, bermalas-malasan atau kita siap fight memasang kuda-kuda? Kalau kita bertholabul ‘ilmi kok tidak muncul semangat berjihad, berarti selama ini ada yang kurang dari tholabul ‘ilmi kita. Atau tholabul ‘ilmi, ngaji kesana-kemari kok kemudian nyinyir tentang pembebasan Al-Aqsha? Ada yang error dan salah dari tholabul ‘ilminya”.

Acara berlangsung dengan lancar dan tertib, dihadiri sekitar 250 orang putra dan putri. Semula panitia sempat khawatir akan sedikitnya peserta mengingat hari H pelaksanaannya masih dalam suasana libur sekolah dan kampus, serta awal tahun 2018. Akan tetapi, alhamdulillah, qodarullah, Allah gerakkan umat Islam di Semarang menghadiri acara tabligh akbar ini dengan penuh antusias. Sebagaimana disampaikan Abie Zaidan, koordinator event, “Semula ada kekhawatiran sedikitnya peserta mengingat hari-hari ini masa libur sekolah dan kuliah, dan juga jatuh pada awal tahun 2018. Namun, Alhamdulillah dengan izin Alloh, Allah gerakkan umat Islam di Semarang menghadiri acara ini dengan antusias”.

(Reporter: Azed)