Waspada Fenomena Jahiliah Modern

0

Waspada Fenomena Jahiliah Modern

Oleh: Ust. Abu Harits, Lc

Beberapa waktu lalu media sosial sempat digemparkan dengan Viralnya video yang mempertontonkan gerakan menyerupai thowaf  yang diawali dengan membaca akhir ayat surat Yaasiin lalu membaca lantunan sholawat sembari mengelilingi bendera merah-putih, garuda Pancasila, keris dan beberapa benda lainnya. Kemudian muncul pula video yang melantunkan sholawat untuk Pancasila, Indonesia dan salah satu ormas.

Sementara sebelumnya juga viral sebuah video yang mempertontonkan ibadah sai dengan melantunkan Pancasila. Diiringi berikutnya video jama’ah umroh yang menyanyikan sebuah lagu mars salah satu ormas tertentu saat sa’i.

Fenomena ini menunjukkan kembalinya aqidah dan ibadah jahiliah di era modern. Di antara ciri-ciri pemikiran jahiliah adalah mengedepankan dan mengagungkan aspek kebangsaan. Dalam bingkai pemikiran seperti ini, agama hanya dijadikan sebagai sarana yang harus tunduk dengan syahwat kebangsaan.

Faham kebangsaan (qoumiyah/nationalism) merupakan awal petaka rusaknya hubungan antar sesama manusia. Hanya didasarkan dari asal-usul nasab, kesamaan berfikir dan identitas budaya semata, sebuah loyalitas dibangun. Sehingga membuat masyarakat meletakkan dasar pembelaan dan perjuangan bukan di atas kebenaran namun di atas fanatisme golongan atau bangsa. Perkara seperti ini telah dilarang oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sabdanya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِىٌّ وَفَاجِرٌ شَقِىٌّ أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلاَنِ الَّتِى تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتْنَ »

Artinya: Dari Abu Huroiroh berkata: telah bersabda Rosululloh : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menghilangkan dari kalian kesombongan (fanatisme) ala jahiliah dan kebanggaan kalian dengan leluhur, (yang ada adalah) orang beriman lagi bertakwa dan orang jahat lagi celaka. Kalian adalah anak cucu Adam dan Adam tercipta dari tanah. Maka hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kebangsaannya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahanam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari serangga yang mendorong kotoran dengan hidungnya”. [HR. Abu Dawud]

Permasalahan menjadi lebih buruk lagi saat slogan-slogan nasionalisme dibawa ke tempat yang paling sakral bagi kaum muslimin yaitu Makkah al Mukarromah. Tempat yang di dalamnya terdapat syiar-syiar Islam yang agung. Tempat yang menjadi tujuan seluruh umat manusia dari segala penjuru dunia dengan beraneka ragam warna, bahasa dan budaya menyatu untuk mengagungkan asma Allah ta’ala dan mengikrarkan penghambaan totalitas hanya untuk-Nya. Sungguh hal yang ironis pun terjadi, datangnya jama’ah ke tanah suci bukan untuk mengagungkan asma Allah namun mengagungkan nama dan ideologi selain dari Islam.

Hal lain yang perlu dicermati pula adalah saat ayat suci dan syiar sholawat digunakan untuk menyanjung simbol-simbol negara. Inilah bentuk memperalat syiar-syiar Islam untuk syahwat kebangsaan. Sementara hadirnya Al Quran dan perintah bersholawat dalam rangka untuk menyembah kepada Allah ta’ala dan memuji rosul-Nya Muhammad ﷺ.

Di sisi lain Pelaksanaan thowaf mengelilingi bendera, garuda dan benda2 lainnya adalah bentuk penyamaan benda-benda tersebut dengan ka’bah. Sekaligus bagian dari perbuatan syirik yang dilarang dalam Islam. Ini berarti munculnya adat jahiliah kembali di era zaman now. Karena orang-orang musyrik dahulu juga berthowaf mengelilingi patung Latta, Uzza, Manat, Hubal dan sesembahan-sesembahan lainnya.

Perilaku orang-orang musyrik pada zaman dahulu diungkapkan oleh Abu Roja al ‘Uthoridi –semoga Allah meridhoinya- beliau mengatakan: “Dahulu kami menyembah batu, jika kami mendapati ada batu yang lebih baik maka kami membuang batu yang lama. Apabila kami tidak mendapati batu maka kami mengumpulkan pasir dari tanah lalu kami hadirkan seekor domba dan kami perah susunya lalu kami tuangkan di atasnya dan kami berputar mengelilinginya. Ketika memasuki bulan Rojab kami mengatakan saatnya melepas ujung-ujung besi. Maka kami tidaklah meninggalkan tombak dan panah yang ujungnya ada besinya melainkan kami mencabutnya  di bulan Rojab [HR. Bukhori]

Oleh sebab itulah kaum muslimin hari ini harus mewaspadai dan menghindari segala bentuk peribadatan jahiliah. Perbuatan syirik dan pelecehan terhadap syiar-syiar Islam merupakan dosa besar yang bisa membawa pelakunya keluar dari Islam atau murtad. Semoga Allah ta’ala menganugerahkan kepada kita semua istiqomah di atas Iman dan Islam hingga akhir hayat nanti.