Memandu dengan ilmu

Yang Muda Yang Memimpin

0

Biasanya menjelang pemilu, wacana pemimpin muda kembali mengemuka. Ini pun masih sekedar wacana karena kepemimpinan bukan soal usia tapi kapabilitas untuk melakukan kerja dengan sempurna. usia muda tapi berpemikiran konsevatif maka tak akan ada bedanya dengan yang tua. Apalagi bila ia justru merasa enjoy menikmati sistem yang ada maka hasilnya sama saja. Ia muda namun kakikatnya tua.

Fenomena kepemimpinan muda dalam Islam bukan lagi wacana. Karenanya ketika kamu membaca sejarah Islam, banyak kamu temui jabatan dan tanggungjawab diserahkan kepada orang muda. Bila ada di antara kaum muda yang pantas dan layak memikul tanggung jawab, Rasulullah pasti memikulkan tanggungjawab itu dipundaknya. Hal ini menunjukkan beberapa hal berikut:

Pertama, kepercayaan Rasulullah kepada para shahabat dan keterlatihan mereka untuk menjaga kepercayaan ini.

Kedua, bahwa kaum muda memiliki banyak kecakapan. Mereka siap memikul tugas yang tidak ringan.

Ketiga, memperhatikan kecakapan, kesungguhan, dan kesiapan generasi muda sahabat untuk melakukan urusan-urusan besar.

Berikut ini sebagian pemimpin muda dalam rentang sejarah;

 

Amru bin Salimah

Ketika rasulullah kedatangan suatu kaum, Rasulullah bertanya kepada mereka, siapa diantara mereka yang paling banyak menghafal al-Qur’an untuk menjadi imam di antara mereka. Dan ternyata ia adalah Amru bin Salimah al-Jarami. Beliau pun mengangkatnya sebagai imam meskipun ia masih kanak-kanak. Selanjutnya tanggugjawab ini terus berada di pundak Amru.

Mungkin kamu berpikir bahwa imam shalat itu Cuma masalah ringan. Tapi tahukah kamu bahwa Amru adalah imam muda pertama bagi kaumnya. Ia tidak hanya menjadi imam di satu masjid seperti yang kamu bayangkan tapi ia adalah imam bagi seluruh anggota kaumnya.

 

Zaid bin Tsabit

Ketika pertama kali datang ke Madinah, Rasulullah merasa khawatir dengan makar kaum Yahudi. Ia pun mengangkat Zaid bin Tsabit untuk menjadi sekertaris beliau. Ialah yang bertanggungjawab membaca dan membalas surat-surat yang datang kepada Rasulullah. Dengan menjadi sekertaris Rasulullah ia tahu banyak rahasia kaum muslimin meskipun kala itu usianya belum genap 20 tahun.

Pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Zaid bin Tsabit kembali dipercaya untuk menuliskan al-Qur’an. Abu Bakar berkata kepada Zaid, “Zaid, kamu adalah pemuda yang cerdas. Kami tidak menaruh kecurigaan sedikitpun kepadamu. Kamu dulu menuliskan wahyu untuk Rasulullah maka telusurilah al-Qur’an dan kumpulkanlah.” Seketika itu Zaid merasakan beban tanggungjawab yang berat, ia berkata, “Demi Allah sekiranya aku dibebankan untuk memindahkan salahs atu gunung, itu lebih ringan bagiku daripada perintah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an.”

 

Usamah bin Zaid

Ketika hendak menyerang kabilah Huraqah dari kalangan suku Juhainah, Rasulullah menunjuk Usamah bin Zaid untuk menjadi panglima perang. Setelah berhasil pada misi tersebut, Rasulullah kembali mengirim Usamah bersama pasukan yang lebih besar untuk menyerang Romawi. Sebagian orang waktu itu meragukan kemampuan Usamah namun Rasulullah meyakinkan mereka dengan sabdanya, “Jika kalian mencela kepemimpinannya maka kalian juga mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi ayah ayahnya sangat layak untuk memimpin. Ia adalah salah seorang yang paling aku cintai  dan ia (usamah) adalah salah seorang yang paling aku cintai sesudah ayahnya.”

Rasulullah juga mengangkat Ali bin Abi Thalib untuk memimpin pasukan. Imran bin Husain berkata, “Rasulullah mengirim satu pasukan. Beliau mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin. Lalu ali pergi besama pasukan perang tersebut.”

 

Ma’qil bin Sinan, Ali bin Abi Thalib, dan Habib

Pada peristiwa Fathu Mekah, panji perang dibawa oleh salah seorang pemuda paling pemberani. Ma’qil bin Sinan al-Asyja’i. Pada perang Badar panji perang juga dibawa oleh seorang pemuda yaitu Ali bin Abi Thalib. Dalam satu ekspedisi, Rasulullah mengangkat Hamzah bin Amru al-Aslami sebagai pemimpin. Saat itu Rasulullah berpesan, “Jika kamu bertemu si fulan maka bunuhlah ia dan jangan dibakar. Sebab, tidak boleh ada yang menyiksa dengan api, kecuali dia dzat pemilik api.” (HR. Abu Daud)

Pada pertempuran Yarmuk ketika kaum muslimin bertemu musuh terberatnya, yaitu kerajaan Romawi, Habib bin Maslamah tampil sebagai pemimpin pasukan. Pada saat perrrannng Tabuk usianya baru sebelas tahun. Ia dikenal garang di kalangan musuh.

Sumber: majalah arrisalah edisi 153